Bab.7 Makbul Zubri Si Tukang Gosip

1045 Kata
  “Hahaha!”   Makbul menyeringai lalu menurunkan kotak obatnya. Kemudian dia masuk ke dalam ruangan sambil memerhatikan ke sekitar, “Aku dengar ada kucing liar masuk ke rumahmu dan melukai lenganmu yang berharga itu, maka aku datang untuk melihat keadaanmu.”   Mungkin karena merasa aneh melihat tuannya yang tidak mengenakan pakaian bersama pria yang suka menggoda, maka Kepala Pelayan mengambil piama sutra dan menyerahkannya pada Rian tanpa mengucapkan sepatah kata pun.   Rian mengangkat tangannya dan memasukkannya dalam lengan piama. Dengan segera sosok pria berotot itu berubah menjadi pemuda dari keluarga bangsawan. Kemudian Rian melemparkan kertas faks yang dipegangnya ke tempat sampah dan kembali duduk di sofa dengan rahang terkatup kuat.   “Sekarang kamu sudah melihatku. Ada hal yang mau kamu sampaikan? Kalau tidak ada, kamu bisa pergi sekarang.”   “Kamu terganggu dengan kehadiranku?”   Makbul mengeluh karena merasa ditolak, tetapi dengan segera dia berusaha untuk mengorek informasi. “Aku dengar kamu tidur dengan orang yang salah. Bukan dengan tunangan Jacksen, tetapi kamu justru berhubungan dengan saudara perempuan tunangannya itu? Selain itu, gadis itu baru berusia 18 tahun dan masih mahasiswa tingkat pertama. Ya ampun, bagaimana bisa kamu tidur dengannya?”   "Kamu terlalu cerewet!"   Makbul bersandar di lemari anggur eboni dengan gelas wine di tangannya. Dia terus berbicara menguji kesabaran Rian, "Namun, sepertinya dia dewasa sebelum waktunya, sepertinya dia juga sudah memiliki cinta pertama, yaitu tuan muda dari Perusahaan Jaya. Kalau tidak salah, namanya Can.."   “Kalau kamu masih terus bicara, aku akan menghancurkan klinik dokter hewan milikmu.” Ancam Rian dari sofa sambil menyalakan cerutu dengan satu tangan lalu mengambil asbak kristal dengan tangan lainnya.   Makbul langsung terdiam saat menyadari bahwa Rian sudah benar-benar kesal. Dia menggaruk telinganya dan berkata, “Baiklah. Ayo bicara serius. Waktu itu kamu memintaku datang untuk mengambil berkas Jacksen, ‘kan? Cepat berikan padaku!”   Melihat Rian yang duduk di sofa layaknya seorang raja, Makbul mengeluh dalam hatinya, ‘Dasar pria membosankan. Kudoakan lajang seumur hidup!’   "Teguh, bawa dia ke ruang kerja.”   "Baik, Pak."   Kepala Pelayan berjalan dari sudut ruangan dan membawa Makbul meninggalkan ruangan itu.   Di ruang tamu yang besar, lampu kristal memancarkan cahaya yang menyilaukan.   Wajah tampan Rian terlihat gelap. Dia mendekatkan cerutu ke bibir tipisnya kemudian mengisapnya dalam beberapa kali. Dia baru merasa sedikit lebih rileks setelah menghabiskan cerutunya.   Putra mengirimkan faks berisi data pribadi perempuan itu setengah jam yang lalu.   Serafina, perempuan, 18 tahun, kuliah di Universitas Abraham, Kota Tiara. Dia dibesarkan dalam keluarga dengan orangtua tunggal. Dulu, ibunya adalah sosialita paling terkenal di Kota Tiara, tetapi sekarang hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarga Nabil. Serafina juga mempunyai seorang adik tiri laki-laki yang sakit-sakitan sejak kecil. Mereka bertiga tinggal di rumah orang lain selama tujuh tahun.   Tampaknya kehidupan nona kedua keluarga Santoso ini tidak begitu bahagia.   ...   Audi hitam melaju menuju pusat keramaian kota. Setelah tiba di pintu masuk rumah sakit, Dina meminta sopir untuk parkir di pusat perbelanjaan terdekat. Dina meminta Serafina untuk menunggu di dalam mobil, sementara dia turun dengan tergesa-gesa.   Sepuluh menit kemudian, Dina keluar dari pusat perbelanjaan dengan beberapa tas belanja dan menyuruh sang sopir, Lohot, untuk keluar dari mobil. Lalu dia meletakkan tas belanja itu di hadapan Serafina. "Cepat ganti pakaianmu."   Serafina membuka tas belanja. Dia melihat ada sebuah gaun yang masih baru, sepasang kaos kaki dan sepasang sepatu olahraga dengan bahan yang lembut. Perasaannya menghangat. "Terima kasih."   “Jangan sungkan denganku. Jika kamu datang dengan pakaian seperti ini, ibumu dan Leonil pasti akan khawatir. Mereka masih belum tahu kamu hamil, ‘kan?”   Dina melihat Serafina yang sedang mengganti pakaiannya dalam diam. Dia mengatupkan mulutnya dan menghela napas, "Serafina, kapan kamu bisa berhenti bersikap keras kepala? Candra benar-benar menyukaimu. Dia juga tidak bermaksud menjalin hubungan dengan Taslin.”   "Hentikan, Dina."   Tangan Serafina yang sedang menarik ritsleting gaun sifon ungu terhenti sejenak ketika mendengar ucapan Dina. Seketika wajahnya terlihat dingin dan membeku.   Dina kembali diam. Dia tahu bahwa Serafina sangat keras kepala dan susah mengubah pemikirannya. Meski begitu, Dina tetap berharap sahabatnya dan teman masa kecilnya bisa terus bersama.   Serafina tidak memedulikan niat baik Dina.Dia melanjutkan mengenakan pakaiannya lalu membuka pintu mobil dan berjalan cepat menuju rumah sakit.   Namun, kadang takdir sangat sulit untuk dihindari.   Di koridor rumah sakit yang dipenuhi bau menyengat air desinfektan, terlihat pria yang sedang melindungi wanita yang sedang hamil berjalan mendekat. Taslin sedang hamil lima bulan. Gaun longgar yang dia kenakan tidak bisa menutupi perut besarnya.   Serafina segera menghentikan langkahnya. Dia hampir lupa bernapas.   Hari ini Candra mengenakan baju putih dengan lengan baju yang digulung sampai siku. Ada bekas luka cakaran di lengan kanannya yang disebabkan oleh Serafina tiga bulan lalu.   Pertengkarannya dengan Candra tiga bulan lalu terasa seperti seabad yang lalu. Sekarang mereka seperti orang asing.   "Dokter bilang belakangan ini nafsu makanmu sangat buruk. Jangan pilih-pilih makanan. Meski tidak memikirkan kondisi kandungan, tetapi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri.”   Dari kejauhan terdengar suara lembut pria yang berbicara sambil terus melangkah. Nada suara itu membuat mata Serafina basah karena perasaan rindu. Namun, dia paham sekarang Candra bukan miliknya lagi.   Serafina tertegun di tempat dan hampir lupa bergerak. Setelah beberapa saat, dia baru sadar dia harus menghindar.   Namun sudah terlambat. Mereka terlanjur melihat Serafina.   "Serafina?!"   Wajah Taslin membeku saat mendengar nama itu. Dia mengikuti arah pandang Candra dan melihat Serafina yang mengenakan gaun ungu.   Dia langsung waspada, dengan segera memeluk Candra dan matanya memancarkan permusuhan. "Serafina? Kenapa kamu di sini?"   Serafina terpaksa berhenti dan membalikkan tubuhnya dengan kaku. Dia menatap ke arah belakang.   Tiga bulan lalu, situasinya juga sama seperti ini, saat Taslin berkata padanya dengan nada sombong yang sama. "Serafina! Aku mengandung anak Candra. Jadi jika kamu terus mengganggunya, maka kamu adalah perusak hubungan orang. Dan kamu sama hinanya dengan ibumu!”   Saat itu Serafina mengangkat tangannya dan menampar Taslin, tetapi kemudian Candra datang dan mendorongnya dari tangga.   Teman baik apanya? Janji setia apanya?   Itu hanya tipuan untuk membohongi anak kecil.   Manusia pasti akan berubah.   “Kak Taslin datang untuk memeriksa kandungan?”   Serafina berkata dengan lembut dan tenang. Bibirnya melengkung sempurna.   Taslin mengernyitkan dahi, tampak sangat tidak puas dengan ketenangan Serafina, “Aku yang sedang bertanya, bukan kamu!”   Serafina mengangkat alisnya dan mengernyit. “Maaf, Kak Taslin. Aku rasa aku tidak memiliki kewajiban untuk melaporkan urusanku padamu.”   Karena Taslin sudah memulainya, maka tidak ada alasan bagi Serafina untuk mengalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN