Lampu di koridor rumah sakit menyinari Serafina. Gaun ungunya diselimuti lapisan cahaya. Desain gaun yang indah semakin memperjelas bentuk tubuhnya yang indah.
Dia terlihat begitu menawan dengan kepala mungilnya yang terangkat itu.
Tanpa sadar Candra melepaskan tangan Taslin. Dari tatapannya terlihat dia mengkhawatirkan Serafina dan sulit menahan dirinya.
Dahinya mengernyit. Dia menarik Serafina mendekat dan berbicara dengan suara tenang dan pelan. “Kenapa beberapa bulan ini kamu bersembunyi dariku?”
Tangan Candra yang besar membuat Serafina kesakitan saat lelaki itu menariknya.
Hah! Sangat lucu. Berani-beraninya dia bertanya seperti itu.
Serafina mengangkat wajahnya yang cantik dan menatap Candra dengan mata besarnya, "Lalu aku harus apa? Tersenyum dan merestui tukang selingkuh seperti kalian?”
“Serafina! Jaga ucapanmu!”
Wajah Taslin berubah kesal. Dia sudah tahu, pasti ada yang tidak beres dengan kemunculan Serafina di rumah sakit!
“Maaf, aku cuma mengatakan kenyataannya saja.” Serafina berbalik dan berkata sambil mengernyitkan alisnya.
Melihat sikap dingin Serafina, hati Candra terasa sakit. Dia berkata dengan suara dalam dan serak, “Serafina, kamu masih marah padaku? Waktu itu aku..”
“Kamu berpikir terlalu jauh.” Potong Serafina. “Candra, waktu itu kamu mendorongku saat aku menampar Taslin, jadi kita impas sekarang.”
Taslin sudah lama menganggap Serafina sebagai musuh. Sekarang saat melihat Serafina kembali berhubungan dengan Candra, dia benar-benar merasa kesal.
Berusaha memanfaatkan kehamilannya, Taslin bergegas maju untuk menyerang Serafina. "Kita jauh dari kata impas! Waktu itu aku hampir keguguran, tahu tidak? Br*ngsek kamu, Serafina. Kamu memang tidak suka melihatku bahagia!"
Serafina mencibir. Jika tiga bulan yang lalu, dia mungkin bisa dengan mudah dijatuhkan oleh Taslin, tetapi sekarang dia tidak akan membiarkan Taslin menyentuhnya lagi.
Serafina memiringkan tubuhnya untuk menghindari Taslin yang akan menyerangnya, dan melihat Taslin yang jatuh ke lantai dengan wajah dingin.
“Ah!”
Taslin berteriak kesakitan. Untung saja Candra segera menyadarinya, dia segera menarik Taslin, dan membiarkan wanita itu mendarat di atasnya.
Hati Serafina sakit saat melihat pasangan itu jatuh bersama.
Serafina menatap mereka dengan tatapan tajam, lalu berkata dengan nada dingin, “Taslin, aku beritahu kamu, ya. Candra tidak lebih dari sandal jelek yang pernah kupakai! Jika kamu menginginkannya, ambil saja!”
“Serafina!”
Serafina menegakkan tubuhnya lalu berbalik dan pergi menjauh dengan tenang diiringi teriakan Taslin dan wajah Candra yang memucat di belakangnya.
Candra melihat ke arah Serafina pergi tadi. Bibirnya memucat.
Kata-kata Serafina terus terngiang dalam pikirannya, ‘Candra tidak lebih dari sandal jelek yang pernah kupakai! Sandal jelek yang pernah kupakai! Sandal jelek!’
“Candra, aku tidak izinkan kamu memikirkannya lagi!” Taslin bergelayut manja pada Candra.
Candra seketika tersadar dari lamunannya dan melihat wanita dalam pelukannya. Tatapan matanya yang hangat mendadak hilang, “Taslin, malam itu apa benar aku?”
“Apa.. Apa maksudmu?”
Taslin tertegun dan memandang Candra tidak percaya. “Candra, tentu saja kamu yang tidur denganku malam itu. Kenapa kamu bisa mencurigaiku? Jika kamu tidak mau bertanggung jawab, lebih baik aku mati.”
Nada suara Taslin terdengar sangat panik. Mata indahnya segera dipenuhi air mata dan terlihat sangat menyedihkan.
Candra merasa bersalah dan segera memeluk Taslin, "Maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya.. Hanya lupa apa yang terjadi."
"Kamu tidak percaya padaku?"
"Aku percaya padamu, jadi jangan ucapkan kata-kata konyol itu lagi, ya?" Alis Candra yang hitam mengernyit. Taslin terpesona saat memandangi wajah pria tampan yang begitu dekat dengannya itu.
Sulit untuk tidak jatuh cinta dengan pria lembut dan perhatian seperti Candra.
Sejak kecil hingga dewasa, Taslin selalu mendapatkan yang dia inginkan. Taslin menundukkan kepala dengan malu-malu. Tatapan licik terlihat sekilas dari matanya.
......
Tidak mudah bagi Serafina untuk menenangkan ibu dan adiknya. Saat dia keluar dari rumah sakit, jam sudah pukul sembilan lewat .
Dina meminta sopir mengantar Serafina kembali ke asrama kampus. Sebelum berpisah, Dina menatap Serafina penuh arti. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi mengatakannya.
Tadi Dina melihat Candra di pintu masuk rumah sakit. Dia sangat marah ketika melihat Candra memapah Taslin dengan hati-hati.
Percuma dia berusaha keras menyatukan Serafina dan Candra kembali.Dina tidak menyangka Candra akan melupakan Serafina, begitu bersama dengan Taslin. Tampaknya apa yang dikatakan Nyonya Nabil memang benar. Begitu seorang pria memiliki anak, maka pria itu akan mengubah pikirannya.
"Serafina, apa kamu yakin akan.."
"Ssst!" Serafina menutup mulut Dina, sebelum Dina berhasil menyelesaikan kata-katanya. Serafina melihat sekeliling dan mengernyitkan dahinya, "Jangan terlalu keras! Aku masih belum memutuskannya."
"Tetapi.."
"Dina, aku punya firasat kalau aku tidak akan bisa menggugurkan anak ini, meski aku ingin melakukannya."
Serafina menggigit bibirnya. Dia merasa dadanya sedikit sesak. Wajah tampan nan dingin milik Rian terlintas di pikirannya dan melihatnya dengan tatapan dingin.
"Ini adalah bayi dari keluarga Prawiranto, mana mungkin orang sepertimu berhak mengambil keputusan?"
Serafina gemetar saat suara Rian yang rendah kembali terngiang di telinganya. Meski tidak takut pada apa pun, tetapi Serafina tahu melihat situasi. Dia tidak pernah bisa melawan orang seperti Rian.
Setelah melihat mobil Dina menjauh, Serafina menghela napas dalam dan membalikkan tubuhnya, bersiap memasuki asrama. Namun, dia menyadari ada sekelebat bayangan hitam di antara pepohonan yang rindang. Serafina kaget, sudah berapa lama orang itu berdiri di sana?
Apa orang itu mendengar percakapannya dan Dina?
......
Di malam-malam berikutnya, Serafina selalu bermimpi buruk yang sama. Dia seperti kembali ke malam penuh kesalahan itu. Lengan Rian yang kuat menahan pinggangnya dengan erat, dan terus melakukan hal memalukan itu.
Tubuh Rian yang hangat dan dadanya yang bidang menindih Serafina hingga dia hampir tidak bisa bernafas.
Akhirnya, semuanya berakhir.
Rian mendekatkan tubuhnya pada Serafina dan mengancam dengan nada dingin, "Tinggalkan bayinya, dan pergilah!"
Serafina terbangun ketakutan dan terengah-engah. Keringat dinginnya membasahi selimutnya.
Tanpa sadar Serafina menyentuh perutnya yang rata, detak jantungnya pun perlahan menjadi tenang. Dia pernah menganggap bayi itu sebagai bebannya, tetapi entah sejak kapan dia menjadi terhubung dengan bayi itu.
......
Seminggu kemudian, setelah mengikuti kelas terakhir di sore hari, Serafina menerima pesan singkat.
"Keadaan darurat!
Mohon perhatian kepada semua anggota Perkumpulan Mahasiswa dan Asosiasi Sekolah. Tokoh penting akan datang ke kampus kita besok pukul delapan pagi. Segera berkumpul di ruang kuliah untuk rapat! "