Bab.11 Dipersulit

1100 Kata
  Awalnya Bonita menuangkan anggur ke gelas Rian dengan tatapan malu-malu. Namun, begitu melihat Serafina masuk, Bonita dengan spontan menaikkan kedua alisnya. Dia teringat interaksi antara Serafina dan Rian tadi pagi, dan itu membuatnya cemburu.   Namun, sejak kecil dia dibesarkan dalam lingkungan yang begitu baik, dan melebihi Serafina dalam banyak hal. Meski Rian tidak menyukainya, juga tidak mungkin sampai menyukai orang kamp*ngan seperti Serafina.   Namun, dia tetap tidak bisa menahannya dan berusaha mencari kesempatan untuk mempermalukan Serafina.   “Hei, kamu dari klub editorial, ‘kan? Bantu saya berfoto dengan Pak Rian.”   Bonita berdiri dan memanggil Serafina. Hari ini dia berpakaian rapi dan berdandan tipis. Bonita yang memang cantik, menjadi bertambah cantik berkat dandannya hari ini.   Tangan Serafina meremas kamera yang dipegangnya dengan kuat, merasa tidak rela diperintah seperti itu oleh Bonita, tetapi dia adalah putri Pak Marsudi, dan terkenal sebagai anak yang pencemburu dan pendendam. Serafina tidak ingin mencari masalah dengan orang seperti itu.   Saat Serafina bersiap menganggukkan kepalanya, dia mendengar suara pukulan.   Itu suara sendok yang dihempaskan ke meja. Meski suaranya tidak keras, tetapi tetap membuat orang sedikit takut.   Rian sudah berhenti minum dan tatapan matanya tiba-tiba menjadi dingin. Aura dingin keluar dari setelan formal hitamnya dan menyebar ke seluruh ruangan.   Semuanya sadar kalau Rian sedang tidak senang. Pak Marsudi langsung memberikan sinyal ke arah Bonita dan berkata sambil tersenyum pada Rian. “Pak Rian, jangan diambil hati. Anakku masih kecil, belum mengerti apa-apa. Dia hanya bercanda mengatakan minta foto.”   Rian memainkan gelas di tangannya dan menipiskan bibirnya, tetapi tidak mengatakan apa pun. Hal ini membuat tangan Pak Marsudi berkeringat dan kakinya lemas. Dia hanya bisa memandang kesal pada putrinya yang sembarangan bicara.   Atmosfer di aula penyambutan yang luas itu berangsur-angsur menjadi berat, dan ketegangan itu membuat orang-orang kesulitan untuk bernapas. Serafina bahkan sampai menahan napasnya karena takut, berusaha sebaik mungkin agar tidak diperhatikan.   Pria ini sangat menakutkan. Dia pernah mengalaminya, dan tidak ingin mengulangi hal itu lagi.   Tiba-tiba Rian membuka mulutnya. Dia bicara dengan suara rendah dan dingin hingga membuat orang bergidik. "Apa begini cara sekolah ini merendahkan muridnya?”   "Hah?"   Pak Marsudi tertegun ketika ditanya seperti itu. Reaksinya sedikit lambat. Namun saat tatapan tajam Rian memandang ke arahnya, dia mendadak mengerti. Dia tersenyum kaku sambil melihat Serafina yang berdiri di sudut ruangan.   “Serafina, kamu boleh makan dulu. Kamu sudah bekerja dengan baik hari ini. Meski sibuk, kamu juga jangan sampai lupa makan.”   “Ayah!” Ujar Bonita manja, berusaha mencegah, tetapi Pak Marsudi menghentikannya dengan tatapan penuh peringatan.   Serafina tidak tahu harus merespon seperti apa. Pak Marsudi begitu hebat melemparkan kesalahan, jelas-jelas dia yang memaksa Serafina lembur demi acara ini, tetapi sekarang malah seolah-olah Serafina yang mengajukan diri untuk melakukan semua hal ini?   Namun, sebagai murid miskin, mencari masalah dengan pimpinan kampus sama saja dengan mencari mati. Serafina tahu jelas tentang hal ini.   “Baik. Selamat makan, Pak.” Serafina menatap ke bawah sambil membungkukkan tubuhnya. Dia harus tetap berlaku sopan. Kemudian dia meninggalkan aula penyambutan dengan perasaan lega.   Melihat gadis itu menghilang di balik pintu, Rian baru mengambil sendoknya lagi. Dia memberi perintah pada Putra yang berdiri di belakangnya dengan tatapan matanya. Putra segera mengerti maksud Rian dan segera meninggalkannya. Tidak lama setelah itu, Putra kembali muncul dengan piring kosong yang masih bersih.   Rian mengambil piring itu dari tangan Putra, lalu berdiri dan mulai mengambil makanan.   Ada lobster, ayam goreng garing, dan iga asam manis. Setelah beberapa saat, piring itu sudah dipenuhi dengan makanan.   Jika orang lain yang melakukannya, akan sangat tidak enak dilihat. Namun, bagi Rian hal ini sama sekali tidak aneh. Mata kelamnya yang dingin membuat orang tidak berani mengucapkan bentuk protes apa pun.   Jadi saat dia mengambil makanan, semua orang sama sekali tidak berani bergerak.   Akhirnya, semua makanan lezat di atas meja diambil olehnya. Dia menyerahkan piring yang penuh itu pada Putra dan berkata seperti tidak ada orang di sekitarnya, "Berikan piring ini ke murid yang tadi."   "Baik, Pak."   Suasana di meja makan itu sangat hening. Bonita diam-diam meremas jemarinya, sekilas wajah cantiknya terlihat penuh dendam.   ...   Hari ini adalah hari libur, kantin tidak buka, sehingga sekolah memesan nasi kotak untuk anggota perkumpulan mahasiswa. Karena datang terlambat, semua nasi kotak sudah habis diambil, dan hanya tersisa sup yang berisi sedikit sayur.   Serafina tiba-tiba merasa putus asa dan terduduk lemas di kursi, sebagai tanda protes dia bertekad tidak melanjutkan tugasnya.   Josana memukul pelan pipinya sambil berkata, "Serafina, tolonglah, kalau kamu tidak melanjutkannya, seluruh anggota klub kita mungkin akan dikeluarkan dari sekolah. Ayo, patuh. Aku belum makan makananku, kamu bisa memakannya.”   "Kenapa? Memangnya di klub kita tidak ada yang bisa memotret selain aku? Josana, aku ingat keahlianmu lebih baik dariku!”   "Aduh." Sebelum Serafina selesai berbicara, Lina menghela napas dan mengeluh getir, "Apa menurutmu kami tidak mau? Kameraku dan Josana sudah disita oleh pengawal tanpa ekspresi itu."   Serafina tertegun. Dia terdiam, ternyata Rian sengaja. Sengaja menjadikannya sasaran kritik publik, sengaja menyiksanya.   Jelas-jelas dia tidak ingin bertemu dengan Rian, jelas-jelas dia ingin bersembunyi dari Rian, tetapi sekarang dia harus terus menerus mengikuti Rian.   Serafina kesal, tetapi tidak ada tempat untuk melampiaskannya. Dia tahu bahwa pria itu sangat berkuasa sehingga bisa berbuat apa saja yang bisa membuat Serafina berada dalam masalah hanya dengan menjentikkan jarinya.   Selama ini dia selalu berhati-hati. Sudah jelas dia tidak berani sembarangan mencari masalah. Dia tidak berani membayangkan apa akibat mencari masalah dengan Rian!   Ketika Lina dan Josana masih memikirkan kamera mereka yang disita, tiba-tiba ada kehebohan di ruang tunggu yang ramai. Seorang pria muda yang mengenakan setelan formal masuk dan menjadi perhatian semua orang.   Lina segera mengenali orang itu sebagai asisten Rian, Putra. Dia menyenggol Josana di sampingnya dengan sedikit bersemangat. "Ketua, lihat! Putra!"   Josana membelalakkan matanya sambil meremas tangan Lina. "Sepertinya dia berjalan ke arah kita!"   Sebelum kalimat Josana selesai, Putra sudah sampai di depan mereka. Putra yang mengenakan setelan formal dan tinggi yang hampir sama dengan bosnya, terlihat serius dan dingin. Dia membawa nampan di tangannya yang berisi hidangan-hidangan lezat.   Putra meletakkan nampan tersebut di depan Serafina. "Nona Serafina, ini dari Pak Rian. Silahkan dinikmati.”   Serafina melamun sambil memakan kacang dari kotak makan siang Josana. Tiba-tiba dia dipukul dengan keras oleh Josana hingga kepalanya membentur meja.   Josana tersenyum lebar, "Putra, Serafina berterima kasih atas niat baik Pak Rian.”   Ada benjolan di dahi Serafina yang membentur meja. Dia membelalakkan matanya ke arah Josana sambil menahan diri untuk tidak mengatakan, “Ya, tidak hanya berterima kasih padanya, tetapi sangat bersyukur!”   Putra mengangguk dengan hormat, lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu. Karena sedang waktu makan siang dan ruangan itu sedang ramai, adegan Putra mengantarkan makanan untuk Serafina menjadi topik perbincangan hangat orang-orang yang ada di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN