Bab.12 Ah! Ada Orang Jahat!

980 Kata
  "Ya Tuhan, Sehebat apa Serafina ini? Dia berhasil menarik perhatian Pak Rian. Bahkan Bonita saja gagal melakukannya.”   "Klub Editorial pasti merasa bangga sekarang."   "Kamu benar. Lihat ekspresi Josana itu, seperti dia saja yang diberi makanan oleh Pak Rian!"   "Hei! Berani bicara lebih keras lagi?" Josana menendang kursi orang itu dengan angkuh. "Aku memang bangga, kenapa memangnya? Klub kami berisi orang-orang berbakat, karena itu CEO dari PT Prawiranto begitu menghargai kami!”   "Josana.." Lina menarik lengan Josana dan menunjuk hati-hati ke arah Serafina. Wanita itu terlihat melamun sehingga Lina memilih untuk menarik pelan bajunya dan bertanya dengan nada berbisik, “Serafina, kamu kenapa?”   Serafina tersadar dan tersenyum kecut. "Tidak apa, aku agak mengantuk. Aku ingin kembali ke asrama untuk istirahat sebentar. Kalian makan saja."   Setelah itu, dia berdiri, mendorong kotak makan siang di depannya, berbalik dan berjalan keluar.   Tugas yang berat sepanjang pagi membuat Serafina merasa lelah secara fisik dan psikis. Saat mendengar perbincangan di ruangan tadi, dia mendadak merasa sedikit pusing, mual, dan tiba-tiba kehilangan nafsu makan.   Dia hanya ingin segera kembali ke asrama, mandi, lalu tidur dengan nyenyak. Melupakan semua yang dia alami dan melupakan iblis bernama Rian itu.   Karena hari libur, semua teman sekamarnya tidak ada di tempat. Serafina menutup tirai dan berjalan ke kamar mandi. Menanggalkan pakaiannya satu per satu dan kemudian menyalakan pancuran.   Air panas keluar dan kabut seketika menyelimuti kamar mandi yang sempit. Rasa lelah dan pegal di tubuhnya seakan ikut luruh bersama air.   Serafina mandi cukup lama sebelum dia bersiap keluar dari kamar mandi. Dia mematikan keran. Saat hendak mengambil handuk, dia tiba-tiba teringat sepertinya dia lupa membawanya saat masuk. Dulu, ketika teman sekamarnya ada di kamar, dia sering lupa membawa handuk dan pakaian. Setiap kali dia akan keluar mencari baju dengan telanjang.   Tetapi hari ini, entah kenapa, dia tanpa sadar mengambil kemeja putih untuk menutupi dirinya sendiri.   Serafina membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar tanpa alas kaki. Karena tirai ditutup, ruangan menjadi gelap. Seberkas cahaya jatuh ke lantai kayu melalui celah tirai, memancarkan rasa dingin yang samar. Tekanan udara di asrama menurun tiba-tiba, seperti ada seseorang yang sudah menyelinap masuk.   Bulu kuduk Serafina berdiri, telapak tangannya berkeringat. Dia menggigit bibirnya tanpa sadar, dan menghibur dirinya sendiri. "Jangan berpikir sembarangan, tidak ada apa-apa".   Kaki halus dan putihnya melangkah, meninggalkan noda air transparan. Dia melewati ruang tamu menuju ke tempat tidurnya dengan begitu cepat sehingga ketika ada bayangan melintas, dia tidak sempat menghentikan langkahnya.   Dahi Serafina menabrak d**a yang bidang dan hangat.   Serafina ketakutan dan berteriak, "Ah! Ada orang jahat!"   Telapak tangan yang dingin menutup mulutnya. Serafina membelalakkan kedua matanya, dan berusaha berteriak. Dia merasa bibir pria itu menekan telinganya.   "Berani mengatakan aku gila lagi?"   Telinganya seperti mati rasa, dan suara rendah yang familiar itu terdengar di telinganya. Suara itu terdengar tegas seperti mengancam, berbisik ke telinganya.   Mana mungkin Serafina tidak tahu siapa pemilik suara ini? Dia langsung tidak berani menggerakan tubuhnya. Bulu matanya bergetar, tubuhnya yang ramping meringkuk, dan seluruh tubuhnya terasa dingin.   Setelah melihat Serafina tidak bergerak lagi, pria itu melepaskan tangan besar yang menutupi mulut Serafina, meletakkan tangannya di pinggang belakang Serafina, lalu memeluk Serafina erat.   "Kenapa tidak makan makanan yang kukirim? Hah?"   Rian duduk di tempat tidur, berhadapan dengan Serafina, membiarkan Serafina duduk di kursi. Dia lalu mengambil handuk kering dan dengan lembut menyeka rambut basah Serafina, wajahnya menujukkan ekspresi tenang.   Pipi Serafina merona, tetapi dia tidak berani melarikan diri karena takut pada Rian. Dia kesal dan tidak bisa menahan diri mengeluarkan amarahnya.   "Aku hanya tidak mau dikasihani!"   Gerakan Rian terhenti, mata kelamnya tiba-tiba menjadi dingin. Dia menatap Serafina tajam. “Kasihan? Lalu seperti apa yang bukan kasihan?”   Serafina tidak bisa menjawab pertanyaan itu, wajahnya semakin memerah. "Le.. Lepaskan aku! Ini asrama putri! Bagaimana bisa kamu masuk?”   "Tidak penting bagaimana aku masuk. Yang penting adalah apa yang akan aku lakukan setelah masuk ke sini."   Tiba-tiba Rian melingkarkan lengannya pada pinggang Serafina dan menariknya kuat. Serafina pun jatuh dalam pelukan Rian.   Serafina menjerit kaget. Dia begitu ketakutan hingga tangannya berulang kali mendorong d**a kokoh Rian. Dia tidak berhenti bergerak, membuat Rian kesulitan mengeringkan rambutnya.   Awalnya Rian hanya ingin sedikit menghukum gadis kecil ini, tetapi ketika matanya tertuju pada punggung telanjang Serafina yang putih, ada nafsu yang terpancar dari matanya.   Wajah halus Serafina masih merona membuatnya terlihat seperti sebuah boneka porselen. Kemejanya yang basah menempel sempurna di lekukan tubuhnya.   Rian menggigit bibirnya dan matanya yang semula tanpa emosi menjadi semakin bergelora. Dia memeluk Serafina lebih erat. Kemudian dia merendahkan kepalanya dan berbisik di telinga Serafina, “Sepertinya kamu takut padaku.”   Serafina yang ketakutan pun membeku. Dia menelan ludah dan berkata dengan suara gemetar. "Aku tidak takut padamu. Kamu tidak akan berani macam-macam padaku. Ada anakmu di dalam perutku!"   "Oh? Benarkah?"   Serafina tidak tahu apa yang salah dengan kata-katanya. Jelas-jelas dia sedang mengancam, tetapi malah membuat Rian senang. Kemudian Rian tersenyum jahat dan berkata, "Ternyata ada bayiku di dalam perutmu."   Wajah Serafina langsung memerah. Kalimat yang sama, kenapa terasa begitu berbeda saat Rian yang mengucapkannya.   Rian masih menunduk dengan wajah mempesonanya. Dia yang tampan terlihat sempurna di antara cahaya yang samar. Tetapi entah kenapa dia terlihat agak sedih.   Serafina sedikit meringkuk karena ketakutan, sepertinya tidak mengatakan sesuatu yang salah, tetapi mengapa Rian terlihat begitu marah?   Dia tidak tahu bahwa penampilannya sekarang adalah godaan bagi Rian. Dia merasa tidak nyaman dalam situasi canggung seperti ini, wajahnya merah padam.   Serafina menggigit bibir bawahnya. Setelah beberapa lama dia akhirnya berkata, “Pak.. Pak Rian, aku tahu apa tujuanmu datang mencariku. Tetapi jangan lupa, keputusan melahirkan anak ini atau tidak berada di tanganku. Jika kamu masih mengganggu hidupku seperti ini, aku akan.."   Kata-katanya tertahan di tenggorokannya karena bibir dingin Rian sudah menciumnya dan menghentikan perkataannya.   Mata Serafina seketika terbelalak, apa yang terjadi?   Apakah orang ini mencoba membunuhnya dengan menggigitnya?   Saat memikirkan hal ini, wajah kecilnya tiba-tiba menjadi pucat karena ketakutan. Dia menahan napasnya dan menunggu rasa sakit yang akan dia hadapi selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN