Bab 21

1447 Kata

“Markas di Balik Kabut” Mobil hitam tanpa plat nomor itu melaju kencang, menembus jalanan hutan yang gelap. Di dalam mobil, suasananya kayak neraka. Gue duduk di kursi tengah, diapit Cindy dan Tia, sementara dua orang pria berbadan kekar duduk di depan. Dio di kursi penumpang depan, sesekali nengok ke belakang dengan tatapan datar yang bikin darah gue mendidih. Cindy nunduk, tangan terikat, napasnya berat. Tia di samping gue, bahunya bergetar, matanya sembab. Gue sendiri cuma bisa ngatur napas, nahan marah, dan nyoba mikirin jalan keluar. --- Interogasi Dingin > “Lo mau bawa kita ke mana, Dio?” gue akhirnya buka suara, suara gue serak. Dio nengok sebentar, ekspresinya datar. “Tempat yang harusnya dari awal lo datengin kalau lo mau selamat, Dit.” Gue mendengus. “Selamat? Lo nge

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN