Bab 5

1201 Kata

Selesai pentas. Lampu aula padam. Orang-orang keluar. Gue masih duduk di kursi belakang, bengong. Barusan Karin bikin panggung kayak sinetron jam prime time: Monolog penuh air mata. Drama cinta dosen-mahasiswa dibungkus teater. Endingnya tatap mata gue, semua orang ngeh, dan... ya, satu kampus mungkin bakal ngegosip besok. Gue stres. Kayak tiba-tiba jadi aktor utama tanpa pernah ikut casting. --- Di luar aula. Tia udah nunggu. Dia ngeliat gue dengan tatapan sinis. “Bagus kan, Pak? Acting Kak Karin. Atau jangan-jangan itu bukan acting?” Nada suaranya menusuk. Gue bingung. Mau jawab apa? Akhirnya gue cuman bisa nyengir kaku. “Ehm… lumayan…” Tia langsung ngelempar senyum miris. “Kalau gitu, siap-siap aja, Pak. Abis ini, orang-orang bakal ngomong. Dan saya nggak mau kalah.”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN