Bab 24

1459 Kata

Sidang etik. Kata yang biasanya cuma jadi bahan bercandaan di kalangan dosen, sekarang malah jadi panggung utama gue. Aula kampus disulap jadi ruang pengadilan versi akademik. Dinding putih dingin, banner besar bertuliskan “Menegakkan Integritas Dosen di Lingkungan Akademik”, dan mikrofon yang entah kenapa selalu bikin suara “cek-cek” tiap kali gue deketin. Gue duduk di kursi tengah, depan banget. Di sebelah kanan, ada tim etik: tiga dosen senior plus satu rektor muda—Pak Adrian—yang baru menjabat dua bulan tapi udah terkenal killer. Di sebelah kiri, barisan mahasiswa yang katanya jadi saksi. Dan ya, di situ duduk tiga nama yang bikin hidup gue belakangan ini nggak tenang: Karin, Tia, dan Cindy. Mereka semua tampil seolah ikut lomba kecantikan. Serius. Gue sampe bingung ini sidang etik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN