SELAMAT MEMBACA
***
“Mas Juna…”
Arjuna yang merasa terpanggil namanya pun menoleh. Ternyata ada Rama di belakangnya yang tengah berjalan menuju dirinya.
“Ehhh Pak Lurah, mau minum es juga?” tanya Arjuna saat melihat Rama menghampirinya.
“Iya, kebetulan bertemu disini. Panas-panas begini minum es sepertinya enak.”
Arjuna mengangguk pelan, dia pun berjalan menuju penjual Es cincau yang ada di bawah pohon di depan puskesmas. Bersama Rama tentunya, yang tidak sengaja juga bertemu di sana.
“Habis dari mana ini tadi Pak, kok sampai disini?” tanya Rama memulai obrolannya. Karena letak kantor kepala desa dengan puskesmas yang lumayan jauh, aneh rasanya jika Rama datang hanya untuk minum es cincau.
“Ini tadi ada rapat di kabupaten, sekalian pulangnya mampir disini waktu lihat Mas Juna. Saya fikir sekalian minum es tidak ada salahnya kan?” jawab Rama.
Arjuna faham, dia pun hanya mengangguk sekilas. Arjuna mengamati laki-laki di hadapannya itu, sejak duduk gerak geriknya sedikit aneh sepertinya ada yang ingin dia sampaikan.
“Ada yang mau Bapak sampaikan sama saya?” tanya Arjuna langsung, saat melihat gelagat aneh dari Rama mulutnya tidak lagi bisa di cegah untuk bertanya.
Rama tersenyum canggung, memang ada yang ingin dia tanyakan pada dokter muda itu. Tapi, dia bingung bagaimana cara memulainya. Sebelumnya dia meminum dulu es cincau yang baru saja di antarkan oleh pakde penjualnya. Berharap bisa mengurangi rasa gugup di hatinya.
“Emmm, Mas Juna sebelumnya saya minta maaf. Saya harap Mas Juna jangan tersingung ya. Saya mau tanya sesuatu,” ucap Rama memulai bicaranya.
Arjuna hanya bisa mengerutkan keningnya, apa pertanyaan yang akan membuatnya tersinggung. Tidak biasa-biasanya Pak lurah bertingkah seperti itu fikir Arjuna.
“Tanyakan saja Pak, saya sama sekali tidak tersinggung. Apa ada yang bisa saya bantu?”
Rama semakin salah tingkah, dia benar-benar bingung dan malu untuk mengatakannya.
“Emmm, ini masalah adiknya Mas Juna.” Ucap Rama pelan.
Arjuna yang mendengar terbawanya Rinjani dalam obrolan mereka, semakin bingung. Apa adiknya itu membuat masalah, hingga pak Lurah membicarakannya.
“Apa Rinjani membuat salah Pak? Apa yang dia lakukan?” tanya Arjuna langsung.
“Ohhh bukan, bukan begitu Mas Juna. Adiknya Mas Juna tidak membuat masalah apapun.” Rama langsung menggeleng, sepertinya Arjuna salah faham dengan maksudnya tadi.
Arjuna masih diam, menunggu apa yang akan Rama katakana selanjutnya.
“Ehemm, begini Mas Juna. Saya sebenarnya malu menanyakan ini tapi saya tekadkan untuk bertanya.”
Rasanya Arjuna sudah tidak sabar ingin tau apa yang sebenarnya ingin di katakan lurahnya itu. Kenapa berbelit, apa tidak bisa langsung saja katakan apa yang ingin dia tanyakan. Jangan membuatnya penasaran.
“Apa di Jakarta, adiknya Mas Juna sudah memiliki calon suami?” tanya Rama akhirnya.
Uhukkk …
Arjuna tersedak, mendengar pertanyaan Rama.
Jadi dengan narasi yang berbelit tadi, hanya dengan tujuan menanyakan apakah adiknya sudah punya calon suami apa belum. Kenapa tidak di tanyakan sejak tadi, kenapa harus dengan narasi Panjang yang hampir membuatnya mati penasaran.
“Apa pertanyaan saya salah, sampai Mas Juna tersedak begini?” tanya Rama langsung dengan tidak enak hatinya. Apa pertayaannya salah, apa sebegitu mengejutkannya kah.
“Tidak-tidak Pak Lurah, tidak ada yang salah. Saya hanya tidak menyangka kalau Pak Lurah ingin menanyakan masalah itu.” Jawab Arjuna langsung.
“Sebelumnya, memang kenapa Bapak ingin tau?” Bukannya menjawab Arjuna justru kembali bertanya. Matanya menatap serius wajah Rama.
“Maaf kalau saya lancang Mas Juna, sejak pertama kali melihat Dek Jani saya langsung menaruh rasa suka padanya. Makanya saya beranikan diri untuk bertanya pada Mas Juna.”
Arjuna semakin tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tawa pelan dari bibirnya tidak bisa dia sembunyikan. Apa tuhan benar-benar mendengar ucapannya kemarin dengan Rinjani perkara ibu lurah. Kemarin Arjuna mengatakan, Adiknya bisa mencalonkan diri sebagai ibu lurah jika mau. Dan siang ini pak lurah sendiri yang mengatakan jika dia menyukai Rinjani. Apa memang cerita yang tuhan susun selucu ini.
Rama bingung, ketika melihat Arjuna yang justru tertawa pelan. Sedangkan dirinya tengah menahan rasa gugup dan malunya, tapi pemuda di hadapannya justru tertawa. Bagian mananya yang lucu.
“Apa ada yang lucu Mas Juna?” tanya Rama lagi.
Arjuna langsung menghentikan tawanya, takut jika tingkahnya justru membuat pak lurah tersinggung.
“Maaf Pak, maaf. Tidak ada yang lucu, saya hanya masih belum percaya saja. Bapak belum tau seperti apa adik saya, baru bertemu beberapa hari tapi bisa mengatakan suka. Jangan tertipu sama wajahnya Pak, sikapnya kadang masih seperti balita.”
Rama faham maksud dari ucapan Arjuna, mungkin memang sulit di percaya tapi beginilah adanya. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Rinjani. Tidak ada yang tau, rasa suka itu adalah ketentuan mutlak yang tuhan berikan dan kita tidak akan tau pada siapa rasa itu akan berlabuh dan tentunya dia tidak memuliki kuasa untuk mengaturnya.
“Bapak serius menyukai adik saya? Adik saya umurnya saja dewasa tapi tingkahnya kadang masih kekanak-kanakan. Wajahnya memang cantik, tapi sikapnya kadang seperti balita. Maklum dia terlalu banyak di manja selama ini oleh kami.”
Kali ini Arjuna mengatakannya dengan serius, jika itu perkara masa depan adiknya berarti bukan lagi obrolan ringan yang sarat akan candaan.
“Jika memang Dek Jani belum memiliki kekasih ataupun calon suami, saya serius dengan ucapan saya Mas Juna. Sebelumnya saya belum pernah menyukasi gadis seperti saat saya menyukai adik Mas Juna. Terkait dengan apa pun yang Mas Juna sampaikan tadi, saya tidak keberatan sama sekali. Saya menyukai kelebihannya dan pastinya akan menerima segala kekurangannya.” Rama pun menjawab ucapan Arjuna dengan nada yang tak kalah seriusnya. Menurutnya masa depannya di pertaruhkan disini.
Arjuna menghela nafasnya dengan pelan. Dia tidak keberatan dengan niat baik dari Rama, sejauh yang dia ketahui laki-laki di hadapannya itu laki-laki yang baik. Tidak ada salahnya jika memang tuhan menyatukan benang jodoh antara adiknya dengan Rama tapi bukan itu yang menjadi masalahnya saat ini tapi satu orang dengan kuasa penuh, siapa lagi kalau bukan bundanya.
“Jika memang Pak Lurah serius dengan Rinjani. Saya tidak keberatan sama sekali jika Bapak menjadi saudara ipar saya.”
Rama langsung tersenyum cerah, rasanya kecemasannya tadi seketika hilang saat mendengar ucapan Rama. Apa artinya dia sudah mendapatkan lampu hijau. Peluangnya terbuka lebar saat ini.
“Rinjani memang belum memiliki calon suami pilihannya, tapi sudah banyak laki-laki di Jakarta sana yang sudah melamarnya. Beberapa rekan kerja kami sendiri, beberapa di antaranya anak dari kolega ayah kami. Sampai sekarang memang belum ada yang dia jawab iya, namun sudah beberapa yang dia tolak. Jika memang Pak Lurah serius silahkan datang kerumah kami dan katakan langsung kepada Ayah.”
Rama mengangguk faham, tidak heran memang jika mendengar banyak yang melamar gadis pujaannya itu.
“Tapi Bapak jangan senang dulu,” Rama langsung menatap Arjuna dengan serius. Kembali cemas menunggu kelanjutan ucapan Arjuna.
“Bukan saya ataupun Ayah yang menjadi masalahnya. Tapi ada pada satu wanita yang memegang kendali penuh atas hidup kami semua. Dia bunda kami, saya rasa Bapak akan sedikit kesulitan saat ingin mengambil putri kesayangannya nanti. Jangankan menikah dan pergi jauh darinya, pergi beli es krim di supermarket depan komplek saja bunda harus ikut menemaninya.”
Arjuna terkekeh pelan, saat menceritakan bagaimana tingkah bundanya yang terlewat protektif pada adiknya itu.
“Tidak masalah Mas Juna, jika kami memang berjodoh pasti akan ada jalannya nanti.” Ucap Rama dengan tegas.
Arjuna langsung tertawa pelan, dia masih belum tau akan berakhir seperti apa kisah ini nanti. Dia harap dia akan melihat ending yang bahagia.
***
Di tempat lain sepasang suami istri baru saja turun dari mobil. Mereka adalah Abi dan Utari, yang siang ini baru saja menginjakkan kakinya di kota pelajar itu. Dua orang tua itu tengah cemas memikirkan kedua anaknya yang hilang dari pandangan mata mereka.
“Ayo turun dan masuk dulu,” ucap Abi pada istrinya.
“Kenapa masuk Om, kenapa tidak langsung kedesa saja.” Utari menggerutu kesal, dia ingin segera melihat keadaan kedua anaknya bukannya masuk kerumahnya yang di Jogya. Tujuannya datang sudah jelas, untuk membawa anaknya pulang.
“Ini masih tengah hari Sayang. Panas, kita masuk dulu istirahat dulu. Saya lelah, nanti sore kita datang kesana.” Ucap Abi berusaha membujuk istrinya.
Sejak kemarin Utari memang sudah rewel ingin menyusul kedua anaknya dan membawa putrinya pulang. Padahal setiap malam mereka selalu bertukar kabar, tapi tetap saja istrinya itu ingin melihatnya langsung. Padahal putrinya baru pergi tiga hari belum 3 bulan ataupaun bertahun-tahun.
“Betul ya, nanti sore langsung kesana. Awas bohong!!” ucap Utari dengan ketus.
“Mana berani saya berbohong sama kamu.” Ucap Abi lagi.
Istrinya semakin tua semakin galak saja, dulu saat masih gadis culun istrinya itu begitu lucu dan menggemaskan kenapa sekarang jadi galak dan sedikit menyebalkan. Jiwa ibu-ibunya sudah tertanam dengan kuat sepertinya.
***