BAB 8: GADIS PUJAAN RAMA

1261 Kata
SELAMAT MEMBACA *** Lastri datang membawakan segelas kopi untuk putranya, Rama. Sejak tadi dia melihat laptop di hadapan Rama menyala namun justru Rama yang malamun. Entah apa yang tengah di fikirkan oleh putranya itu. Sesekali senyum tipis terbit dari bibirnya. Lastri ikut tersenyum, entah kenapa wajah berseri-seri milik Rama menular kan kebahagian padanya. “Ibu khawatir Le, takut kamu setres tidak ketahuan orang. Dari tadi kok senyum-senyum sendiri. Laptonya nyala, tapi Ibu perhatikan kok matanya ndak kearah laptop. Kamu ini sedang memikirkan apa?” Lastri meletakkan cangkir kopi di depan Rama. Kemudian ikut duduk di depan putranya itu. Ingin tau apa yang di lakukan putranya. Mendengar ucapan ibunya, Rama langsung tersenyum merasa malu. Kepergok tengah bertingkah bodoh. Tidak sadar jika sejak tadi ibunya memperhatikannya. “Masih Waras Bu, belum sampai setres.” Sahut Rama sambil terkekeh pelan. Tangannya mengambil cangkir kopi yang di bawakan ibunya tadi dan meminumnya sedikit. Rasanya sama seperti biasanya, kopi buatanan ibunya adalah yang paling enak. “Orang itu ya kalau tidak pernah jatuh cinta, sekalinya suka sama oramg kok malah bikin takut.” Ucap Lastri lagi. Dia bisa menebak tingkah putranya pasti ada hubungannya dengan gadis kota yang baru datang itu. Entah kenapa firasanya sebagai seorang ibu mengatakan demikian. Lastri jadi merasa penasaran, seperti apa rupa gadis pujaan putranya itu. Sampai bisa membuat putranya bertingkah begitu lucu. “Apa to Bu, malu aku.” Rama menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. Tatapan geli Ibunya semakin membuatnya malu. Rasanya dia ingin sekali pergi dari sana, agar tidak di tatap dengan menggelikan seperti itu oleh ibunya. “Bagaimana wajah anaknya Le, Ibu penasaran. Apa cantik? Umurnya berapa? Kalau suka betulan coba bicara, di tanya betulan. Jangan sampai kecewa, siapa tau anaknya sudah punya pasangan. Kalau belum punya pasangan, berarti masih ada peluang itu. Kalau betulan suka bisa di perjuangkan. Jangan cuma diam-diam, senyum-senyum sendiri nanti jatuhnya setres lho kamu.” “Anak siapa to Bu, ndak faham aku sama maksudnya Ibu ini.” Rama sebenarnya tau maksud pertanyaan ibunya tapi dia memilih pura-pura tidak faham, rasanya benar-benar memalukan mengatakannya secara gamblang. “Sudah, cerita saja sama Ibu. Anak yang katanya dari kota itu, Ibu penasaran. Jangan bohong, Ibu tau. Cantik anaknya? Siapa kemarin namanya? Rinjani ya?” Rama semakin malu, ternyata ibunya tau semunya. Tidak berguna pura-pura bodoh, sepertinya jujur adalah pilihan yang tepat. “Cantik Bu anaknya, manis senyumnya. Halus bicaranya, menyenangkan pokoknya. Tidak salah kan Bu, kalau aku suka sama dia?” Rama akhirnya menjawab dengan jujur apa yang ingin di ketahui ibunya. Tidak ada gunanya berkilah, ibunya tau segalanya. Rama menjawab dengan serius, matanya menatap wajah Lastri dengan harap-harap cemas. Khawatir ibunya tidak akan menyukai gadis kota serbagai calon menantu. Sedangkan dia, sepertinya sudah benar-benar suka dengan kembaran dokter Juna itu. “Ya tidak salah, orang rasa suka itu fitrah dari tuhan. Tidak ada yang salah, selama kalian masih sama-sama sendiri dan tidak menyakiti hati dan perasaan orang lain semua sah-sah saja. Ini senang betulan, apa cuma senang sekejap?” "Nggih betulan Bu baru lihat pertama kali saja sudah senang. Senang yang betulan aku Bu, sama anak ini.” “Ibu jadi penasaran Le bagaimana wajahnya sampai kamu naksir begini. Kalau sama Sulis cantik siapa?” “Ibu kok bahas Sulis lagi? Ibu ini sebenarnya ingin punya menantu Sulis to?” Bukannya menjawab, Rama justru kembali bertanya. Apa sebegitu inginnya ibunya itu menjadikan anak pak sekdes itu sebagai menantu. Sampai-sampai ingin membandingkan Rinjani dengan Sulis. Jika di tanya, tentu saja Rama akan menjawab Rinjani lebih dari cantik dari Sulis. “Ya tidak Le, Ibu kan cuma tanya. Perempuan yang kamu suka itu kan terserahmu. Ibu tidak memaksa, siapa yang kamu suka ya itu yang akan menjadi menantu Ibu. Siapapun dan bagaimanapun keadaannya kalau kamu suka Ibu pasti suka.” “Masih kejauhan Bu, kalau membicarakan masalah jadi menantu. Orang anaknya belum tentu mau sama aku. Hidup di desa seperti ini. Kelihatannya anaknya orang kaya, terbiasa hidup di kota apa ya mau tinggal di desa begini." Lastri tersenyum, hatinya merasa iba mendengar penturan putranya. Secara tidak langsung dia lah yang membuat putranya tinggal di desa. Dan sekarang menyukai gadis kota, apa putranya merasa rendah diri. Sungguh, dia tidak keberatan jika memang putranya berjodoh dengan gadis kota dan pergi meninggalkan desa. Dia tidak pernah memaksa putranya untuk tinggal dan terkekang di desa bersamanya. “Coba di tanya betul-betul Le, siapa tau betulan jodoh kan. Manusia itu tidak ada yang tau jodohnya dari mana dan siapa. Usaha, jangan minder seperti itu. Coba tanya sama Dokter Juna, kalau kamu takut tanya sama orangnya langsung. Tanya sama saudaranya dulu.” Rama hanya tersenyum sambil mengangguk pelan mendengar ucapan ibunya. Benar apa yang di katakan ibunya, setidaknya dia harus bertanya, memastikan dan mendapatkan jawaban yang jelas. Agar dia bisa mengendalikan perasaannya. Jika memang berperluang maka dia akan maju, namun jika memang tidak ada peluang mundur di awal adalah pilihan yang bijak. **** "Assalamualaikum..." "Waalaikum salam..." Rinjani yang tengah duduk di teras sambil menunggu Arjuna pulang, di kejutkan dengan kedatangan seorang ibu sore itu di rumahnya. "Mari Bu, silahkan duduk..." ucap Rinjani dengan sopan. Mesti tidak tau siapa wanita itu dan mau apa datang kerumahnya namun menyambut tamu dengan baik tidak ada salahnya bukan. "Ini to yang katanya adiknya dokter Juna," Lastri yang sore itu berkunjung, bertanya dengan ramah pada Rinjani. "Iya Bu, saya Rinjani. Adiknya Bang Juna, panggil saja Jani." Rinjani menyalami Lastri dengan sopan. "Jangan takut Nduk, Ibu cuma mampir habis jalan-jalan sore. Ibu ini, ibunya pak Lurah nama Ibu Lastri. Rumahnya di ujung jalan sana, tadi lewat sini kok lihat ada yang cantik. Jadi mau kenalan" Rinjani sekarang tau, siapa wanita di depannya itu. Ternyata ibu dari pak lurah. Meski sudah tidak muda lagi, namun wajah ayunya masih terlihat dengan jelas. Rinjani tersenyum, menanggapi ucapan Lastri. "Betah tinggal disini?" tanya Lastri lagi. "Betah Bu, udaranya sejuk. Penduduknya juga ramah-ramah." Lastri tersenyum mendengar jawab Rinjani. Netra tuanya mengamati dengan intens wajah cantik di hadapannya. Tidak salah memang jika putranya begitu tergila-gila dengan gadis bernama Rinjani itu. Karena pada kenyataannya, gadis pujaan Rama itu begitu cantik dan sopan. Senyumannya manis dan tidak membosankan. "Alhamdulillah kalau betah disini. Ini sedang liburan atau bagaimana kok bisa nyusul Dokter Juna kemari?" tanya Lastri lagi. "Ini sebenarnya meliburkan diri Bu, kangen sama Abang. Jadi pergi kesini," jawab Rinjani lagi. "Jani Di Jakarta masih sekolah, atau sudah bekerja ini?" "Sudah jadi dokter Bu, sama seperti Bang Juna." Jawab Rinjani dengan malu-malu. Lastri tersenyum melihat wajah tersipu di hadapannya. "Oalah, ibu dokter ternyata. Alhamdulillah..." "Iya Bu. Sampai lupa, ibu mau minum apa biar Jani buatkan." Rinjani ingin berdiri untuk membuatkan minuman untuk Lastri namun sudah lebih dulu di larang oleh wanita itu. "Wes, ndak usah repot-repot. Ibu sudah mau pulang ini, cuma mampir sebentar mau kenalan tadi. Oiya, Jani kalau besok senggang main kerumah Ibu ya. Besok ada arisan ibu-ibu minggu legi di rumah. Datang ya, nanti Ibu kenalkan sama penduduk yang lain, anak Ibu besok juga datang yang perempuan nanti Ibu kenalkan sama Jani." Rinjani tersenyum sopan mendengar undangan Lastri. "Insyaallah nanti Jani main kasana Bu," jawab Rinjani. "Betul lho ya, jangan sampai ndak datang. Jam 3 sore, pokoknya harus datang. Nanti kalau ndak datang, Ibu jemput kesini." Rinjani tertawa mendengar Lastri akan menjemputnya, seserius itu kah undangannya. "Insyaallah datang Bu," jawab Rinjani lagi. "Ya Wes, kalau begitu, Ibu pamit dulu ya. Sudah sore ini," pamit Lastri pada Rinjani. "Loh, kok buru-buru Bu, tidak minum-minum dulu. Tidak ngobrol-ngobrol dulu disini." "Sudah sore, makanya Jani main kerumah nanti kita ngobrol lagi di rumah ya. Yasudah Ibu pamit dulu, Assalamualaikum..." "Waalaikumsalam..."  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN