Erika dan Lola

1008 Kata
Wajah Aelina tertunduk lesu matanya sedikit memerah menahan tangis . Ini yang ia benci dari dirinya sendiri. Aelina sangat takut pada orang yang memiliki aura intimidasi yang sangat kuat. Karena menurutnya orang dengan aura seperti itu sangat menyeramkan. Tiba-tiba handphonenya berbunyi . Tampak nama Erika muncul di layar . Aelina langsung mengangkat telepon dari sahabatnya itu . "Halo lin, kamu dimana ?" Sapa Erika begitu teleponnya diangkat "Di halte depan cafe" sahut Aelina kemudian mematikan teleponnya Mendengar telepon langsung dimatikan oleh Aelina, Erika langsung menuju ke arah halte . Terlihat oleh Erika sosok Aelina yang sedang tertunduk lesu . Erika memiliki firasat tidak enak mengingat awalnya Aelina awalnya menunggu di cafe lalu sekarang malah berpindah ke halte , sesuatu pasti telah terjadi. Rasa bersalah menjalar dalam diri Erika . Walaupun sebenarnya bukan salah dia juga . Erika pun berjalan mendekati Aelina , melihat kaki seseorang yang dia kenal Aelina mendongak ke atas . Terlihat Erika menatapnya dengan perasaan bersalah . "Ma..maafin ya Lin, aku terlambat" ujar Erika "Iya, gapapa kok by the way mana Lola ?" Tanya Aelina sembari berusaha menetralkan pikirannya . Erika menengok ke kanan dan ke kiri tapi tidak melihat Erika . Erika mendengus kesal , dia heran dengan Lola yang selalu lupa bila mereka hendak bertemu . Selalu saja Lola yang paling terlambat datang . Satu jam kemudian Lola datang dengan mengendarai mobil miliknya dan menghampiri mereka di halte . Erika yang sudah gemas ingin mengacak rambut Lola . Dengan tangan bertolak di pinggang Erika menghampiri mobil Lola . Wajah Lola hanya meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal . "Sori, aku lupa . Hehehehe" ucap Lola "Hehehehe gundulmu !" ketus Erika "Yaa kan aku udah minta maaf . Ga boleh dendaman nanti dosa" sahut Lola "Oke, kalau gitu kamu harus traktir karena kamu datang terlambat ! Ayo Lin kita ke tempat lain aja !" Aelina dan Erika naik ke dalam mobil dan mobil Lola melesat membelah jalanan kota . Karena suasana terlalu hening Lola berinisiatif untuk membuka pembicaraan . "Lin, maaf ya aku telat . Aku beneran lupa" Lola masih dihinggapi rasa bersalah "Gapapa kok La" jawab Aelina santai "Oh iya Lin, kamu ngapain nungguin di halte? Bukannya tadi kamu bilang kamu lagi di cafe ya ?" Tanya Erika penasaran. "Iya, tadi tuh aslinya aku duduk di dalem, terus tiba-tiba ada cowok duduk di depan aku . Aku kira kalian , ga taunya bukan . Mana orangnya terlalu mengintimidasi jadi aku takut" jelas Aelina Erika dan Lola nampak manggut-manggut paham dengan perasaan Aelina . Mereka berdua adalah orang yang tidak meninggalkan Aelina disaat terburuk dalam hidupnya . Merekalah yang menemani Aelina dan memberikan kepercayaan bahwa masih ada mereka yang akan selalu bersama Aelina . Erika gadis blasteran Jepang-Indonesia memiliki kekuatan karakter yang sangat kuat. Wajahnya berwarna kuning langsat dengan tinggi badan 169cm membuatnya cocok untuk menjadi model majalah popular . Entah sudah berapa kali Erika berkali-kali mendapat tawaran sebagai model . Tapi selalu ditolaknya. Karena kalau menjadi model berarti dia akan susah memiliki waktu luang . Erika lebih memilih bekerja di perusahaan ternama yang sama dengan perusahaan tempat Aelina bekerja . Mereka hanya berbeda divisi . Sementara Lola adalah gadis keturunan Minang yang memiliki beberapa cabang restoran milik keluarganya . Dengan karakter yang cukup sering pelupa pada hal-hal remeh . Tidak ada yang menyangka bahwa Lola memiliki kemampuan dalam berbisnis terutama dalam bidang makanan . Semenjak rumah makan milik keluarganya dikelola olehnya, kini restoran tersebut memiliki banyak cabang yang tersebar di seluruh Indonesia dengan kemampuan mumpuni yang dimilikinya . Berselang setengah jam akhirnya mobil Lola sampai ke tujuan mereka . Begitu masuk ke dalam restoran aroma yang menyenangkan menyapa hidung mereka . Mereka pun celingukan mencari tempat duduk yang kosong . Setelah menemukan kursi kosong di sudut restoran . Setelah memesan makanan mereka akan memulai berbincang, berghibah hingga berujung obrolan ngalir ngidul yang terkadang tidak penting . "La, ini restonya nyaman tempatnya . Kok kamu bisa aja nemu tempat begini ?" tanya Aelina sambil matanya menyisir seluruh ruangan . "Aku kan ngelola rumah makan , jadi aku perlu semacam observasi dan sesuatu yang baru . Jadi kadang aku jelajahi restoran-restoran lain" jawab Lola sembari mengeluarkan laptopnya . "Uhm..aku gapapa kan sambil ngerjain tugas ? Tinggal dikit lagi kok bakal selesai" pamit Lola "Ohh oke gapapa sih, kamu selesaikan saja dulu tugasmu itu" sahut Erika "Sebentar kok paling lama 10 menit" Jemari Lola mulai menari di atas keyboard laptop miliknya . Matanya sibuk bolak-balik melihat lembaran file dan laptop miliknya . Setelah 10 menit Lola kembali menutup laptopnya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya kemudian sedikit melakukan peregangan otot . "Udah ?" tanya Erika "Yup, udah selesai . Ohh iya Lin, aku mau nanya nih . Cowok yang di cafe itu ganteng ga ?" tatapan Lola begitu antusias . "Astaga, anak ini hoi!" potong Erika sambil mencubit lengan Lola Lola meringis kesakitan sambil mengelus lengannya yang sakit . Tatapannya yang protes dibalas pelototan oleh Erika "Ihh apaan sih rik ?! Sakit tau ! Lagian kan wajar aku nanya . Penting tau aku buat liat-liat yang seger . Ga kusut liatin laporan terus-terusan" wajah Lola ditekuk demikian rupa . "Ya kamu ngaco ! Heran aku tuh ya . Padahal kamu pelupa dan gatel gini . Bisa banget ngembangin rumah makan keluarga kamu berkembang pesat . Pakai dukun ya ?!" Erika menatap Lola curiga . "Ini lambe lama-lama ku betot ya pake tang . Kalo ngomong ga ada filternya" Lola tidak terima dengan tuduhan Erika yang baginya menyebalkan . Aelina pun mulai sedikit merasa tenang dan mulai menengahi kedua temannya . Bagaikan Anjing dan Kucing , Lola dan Erika saling menyahut satu sama lain hingga membuat Aelina hanya bisa pasrah untung saja secara kebetulan juga makanan pesanan mereka tiba . "Udah yuk ! Makanannya udah jadi yuk makan" ajak Aelina kepada Erika dan Lola . Setelah pesanan sudah ditata di atas meja, Lola dan Erika menghentikan keributan mereka dan langsung menyambar makanan yang ada di atas meja. Suara ribut tadi berubah menjadi dentingan suara sendok dan piring. Mereka pun mulai makan dan menikmati makanannya masing-masing .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN