Setelah dari sekolahan, Aidan langsung kembali ke kantornya. Karena akan ada rapat yang sangat penting.
Siksaan yang dialaminya sudah kandas, dan ia merasa lega. Ia tersiksa karena selama perkumpulan OSIS, matanya selalu ingin menatap gadis di sampingnya. Yaitu Anisa, gadis yang menemaninya sewaktu berkeliling sekolah.
Perasaan kagumnya tidak bisa di bendung lagi, rasa kagum sudah berkobar di hati Aidan. Kagum kepada Anisa, gadis yang menurutnya istimewa.
"Pak Aidan? rapat akan dimulai 10 menit lagi." kata Sesi yang baru saja masuk ke ruangan Aidan.
Aidan mendongak menatap kearah Sesi. "Aku akan segera kesana, pastikan semuanya sudah berkumpul di ruang rapat!"
"Iya tuan. Saya pamit." Ucap Sesi sambil beranjak.
Aidan hanya menganggukkan kepalanya, setelahnya ia menutup laptopnya dan berdiri dari duduknya.
Aidan keluar ruangannya dengan tampang dingin dan datar. Sudah biasa Aidan menampilkan ekspresi dingin dan datar seperti itu. Tak banyak orang yang mengetahui jika Aidan mempunyai dua kepribadian.
Dua kepribadian yang dimilikinya membuat dirinya berbeda dari yang lain. Sebenarnya Aidan adalah orang yang dingin, cuek, dan hidupnya selalu datar. Juga jangan lupakan kebiasaan berbicara formalnya.
Aidan akan berbicara sewajarnya, hanya kepada keluarganya saja. Itupun harus di nasehati ibunya dulu.
Sifat yang baru-baru ini Aidan tunjukkan, hanyalah sifat sementara.
Aidan akan bersifat periang, lumayan banyak berbicara, dan juga menampilkan senyum, saat ia merasa penasaran akan sesuatu. Kedengaran aneh kan? Ya itulah Aidan. Baginya merubah kepribadiannya itu tidak masalah, karena perubahannya dipengaruhi oleh faktor tertentu. Dan jika sudah mendapatkan yang ia inginkan pasti sifatnya akan kembali seperti semula.
Drtttt drtttt
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Aidan. "Hallo?"
"_________"
"Baiklah ibu, nanti malam aku akan datang."
"_________"
"Waalaikumsallam."
Aidan menutup sambungan telfon nya, dan segera bergegas keluar ruangan. Karena rapat sebentar lagi akan dimulai.
*****
Sudah hampir satu jam Anisa menunggu kedatangan pak Halim. Panasnya terik sinar matahari membuat wajahnya memerah.
Pandangannya melihat ke arah jalanan yang ramai oleh para pengemudi.
"Lama banget." mata Anisa tak henti-hentinya melirik kanan dan kiri, memastikan ada mobil pak Halim atau tidak.
Hingga ada mobil sport putih yang berhenti didepannya. Anisa melangkah mundur beberapa langkah.
Perlahan pintu mobil itu terbuka menampakkan sesosok pria berkemeja merah maron.
"Assalamualaikum." salam pria itu.
Anisa mengerutkan kedua alisnya, bingung dengan pria didepannya. "Waalaikumsallam, maaf Anda siapa?"
Terlihat pria didepannya tersenyum manis, "Kau lupa dengan ku calon adik ipar?"
Setelah pria itu berbicara, Anisa sadar dan terkejut jika didepannya adalah Putra. Kakak Aidan.
"Kak Putra?"
"Iya."
"Bagaimana bisa kak Putra mengenali saya?" tanya Anisa masih berjarak jauh dari Putra.
"Bunda yang menunjukkan foto mu." jelas Putra, agar Anisa tidak bingung.
"Oh, saya kira dari mana. Karena kemarin pertama bertemu kak Putra, saya memakai cadar." Anisa tersenyum sangat manis.
"Oh iya kenapa kau disini? Bukankah sekolah sudah pulang dari tadi?" tanya Putra yang menyadari hanya ada Anisa didepan gerbang sekolah.
"Hmm, saya menunggu jemputan pak Halim. Supir saya kak." jawab Anisa, kepalanya menunduk tak berani terlalu lama menatap Putra.
"Bagaimana jika saya antar, Anisa?" tawar Putra.
"Tidak usah kak, palingan sebentar lagi pak Halim datang." Ucap Anisa menolak.
Tak lama ponsel digenggaman tangan Anisa bergetar. Panggilan masuk dari sang Umi.
"Assalamualaikum Umi, ada apa?"
"________"
"Apa masih lama Umi?"
"________"
"Baiklah umi. Assalamualaikum."
"Ada apa Anisa?" tanya Putra, setelah Anisa mematikan sambungan telefon nya.
"Ehh itu kak, pak Halim sedang mengantar Umi dirumah teman Umi. Jadi pak Halim gak bisa jemput." jawab Anisa. Ia masih sedikit sungkan dengan Putra.
"Yaudah saya antar."
Anisa masih tidak menjawab, ia terdiam ditempat, "Kenapa diam?."
"Eh kak..itu..apa..anu." ucap Anisa terbata.
"Hahahah kau ini kenapa? Kenapa terbata-bata begitu bicaranya?" Ucap Putra terkekeh.
"Eh anu kak. Saya tidak enak saja, jika harus menumpang di mobil kakak." dengan polos Anisa mengucapkan itu. Dan membuat Putra terkekeh.
"Kenapa tidak enak. Tak apa Anisa, lagipula kau itu calon adik ipar ku." Ledek Putra.
Blusss
Wajah Anisa memerah bak kepiting rebus ketika Putra menyebut kata calon adik ipar ku sungguh sangat terdengar aneh.
Anisa masuk kedalam mobil Putra. Selama perjalanan menuju rumah Anisa. Tak ada dari mereka yang bersuara, hanya suara dentingan notifikasi dari ponsel yang terdengar.
"Terima kasih kak Putra. Apa kakak mau masuk dulu? Didalam ada Abi." tawar Anisa, saat mobil Putra sudah berada didepan rumahnya.
"Ah tidak terima kasih untuk tawarannya. Lain kali saja, masih ada urusan dikantor."
"Baiklah kak. Terima kasih atas tumpangannya."
"Sama-sama."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam Anisa."
Mobil Putra melaju meninggalkan rumah Anisa. Ternyata calon adik iparnya itu sangat lucu dan polos. Entah apa jadinya jika Anisa menikah dengan adiknya nanti. Apa Anisa bisa bertahan dengan sifat dingin sang adik?
Entahlah... Sang waktu akan menjawab semuanya.