Siang ini tugas Anisa menumpuk, belum juga rapat OSIS yang akan berlangsung satu jam lagi. Ia tampak lelah sekali walaupun tugas yang ia lakukan belum terlaksana semua. Tetapi, Anisa berusaha untuk menghempas rasa letihnya dengan terus berucap bismillah.
Saat ia mengerjakan tugasnya, kelas terasa sunyi dan sepi karna semua temannya berada di luar dan kebetulan saat ini sedang jam pelajaran kosong.
Ia tampak amat fokus menghadap buku-bukunya. Lalu tak lama kemudian, Icha sahabatnya pun masuk dan menghampirinya.
"Nis? Hari gini kamu masih aja ngerjain tugas" ucap Icha.
"Gapapa" gumam Anisa singkat yang masih setia menghadap bukunya.
"Yaelah. Disaat jam lagi kosong gini, pergunakanlah waktumu buat seneng-seneng" sahut Icha.
Anisa pun memutar kepalanya 90° menghadap Icha.
"Disaat lagi luang gini, ada baiknya manfaatin sesuatu yang sudah menjadi kewajiban seorang siswa" ujar Anisa membuat Icha terdiam.
"Hm diam kan lu. Kerjain tugas lu sana, daripada makin numpuk" lanjut Anisa.
"Hm bisa aja sih lu nanya balik ke gue" dengus Icha sembari beranjak dari bangku Anisa.
"Makanya jangan suka mikirin dia hahahah" ledek Anisa terkekeh.
Icha pun memutar balik badannya ke arah Anisa dengan tatapan sinis.
"Dia siapa? Jangan ngarang-ngarang deh" ketus Icha kesal.
"Hm" gumam Anisa singkat.
"Gaje banget lu" sahut Icha sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Anisa pun hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah laku sahabatnya itu.
Ia kembali fokus kepada tugas di depannya, hingga suara seseorang mengagetkannya.
"Anisaaa." teriakan itu menggelegar, membuat sebagian anak yang masih berada dikelas menatap orang itu dengan pandangan garang.
Tanpa rasa bersalah Nufus berjalan menuju kearah Anisa. Ya, dia adalah Nufus teman Anisa, tetapi berbeda kelas.
"Di panggil Bu Rosita. Katanya pengurus OSIS kumpul sekarang!" ucap Nufus langsung.
"Yaudah bentar aku nyelesain tugas dulu." kata Anisa tanpa menoleh ke arah Nufus.
"Yaudah cepetan, lagian nanti ada pak Aidan." tubuh Anisa langsung menegak mendengar nama Aidan.
Dalam pikiran Anisa, nama Aidan begitu membuatnya bingung. Pertama, Aidan yang dia pikirkan adalah Aidan yang akan menjadi calon suaminya kelak. Sedangkan nama Aidan kedua, adalah nama penyumbang sekolahnya. Yaitu pak Aidan. Sudah sangat lama Anisa dibuat penasaran. Apa yang menjadi suaminya kelak adalah pak Aidan? Penyumbang dana disekolah nya?
Tapi Anisa tak terlalu memikirkan itu terlalu dalam. Ia menepis pikiran bahwa pak Aidan dan Aidan nya adalah lelaki yang sama. Tak mungkin juga kan pak Aidan itu anak dari bunda Ana, dan ayah Dhani.
"Sekarang aja kalo begitu." putus Anisa untuk segera ke ruang OSIS.
Anisa berjalan mendahului Nufus. Jalannya sangat cepat sekali, membuat Nufus susah mengimbangi jalannya.
"Nis jangan cepet-cepet kalo jalan dong." gerutu Nufus yang sudah disebelah Anisa.
"Ya biar cepet sampai." Ketus Anisa sambil terus menghadap ke depan.
Sudah tidak ada pembicaraan lagi, baik Anisa dan Nufus sama-sama terdiam.
Anisa terus berjalan hingga berhenti, "Nufus, kenapa ruangan OSIS kok ditutup?"
"Mungkin pak Aidan udah dateng." cuek Nufus.
Nufus meninggalkan Anisa dan masuk keruang OSIS, setelahnya Anisa yang masuk.
Semua tatap mata menatap ke arah Nufus dan Anisa yang terlambat. "Maaf terlambat Bu Rosita."
"Iya, kalian segeralah duduk!" perintah Bu Rosita.
Di ruangan itu tersisa dua kursi kosong, tapi tempatnya terpencar.
Nufus menduduki kursi kosong di sebelah Dion. Sedangkan Anisa, mau tak mau duduk di kursi kosong, disebelah pak Aidan.
"Baiklah semua anggota OSIS sudah datang. Mari kita mulai pak Aidan." ujar Bu Rosita yang diangguki semuanya.
Semua anggota OSIS berpendapat dan mengutarakan apa yang menjadi visi misi sekolahnya. Supaya pak Aidan semakin mantap menjadi penyumbang dana di sekolah ini.
"Baiklah saya rasa sudah cukup. Waktu saya sudah habis, saya pamit. Assalamualaikum." ucap pak Aidan dingin.
"Waalaikumsallam." jawab semua orang di ruangan itu.
Setelah kepergian pak Aidan rasanya ada yang mengganjal. Anisa merasa tak rela jika pak Aidan pergi, entah apa yang ia rasakan. Apakah dirinya salah jika mengagumi seorang pria? Apalagi pria itu baru beberapa kali bertemu dengannya.
Anisa dengan segara menepis perasaan itu, apalagi ia sudah dijodohkan oleh ke dua orang tuanya. Dan seseorang yang dijodohkan dengannya nanti akan menjadi pasangannya sampai usia tua mendatang.
"Baiklah saya kembali ke kelas Bu, assalamualaikum." pamit Anisa, mencium punggung tangan Bu Rosita.
"Waalaikumsallam."
Anisa berjalan menuju kelas, dengan masih memikirkan perasaannya. Jika Anisa menaruh rasa kagum kepada pak Aidan, apakah salah? Sekali lagi Anisa memikirkan hal itu.
Ya, jika untuk hati Anisa merasa bersalah. Tidak seharusnya Anisa menaruh hati untuk pak Aidan. Tapi, kan ini hanya sebatas rasa kagum, bukan menaruh perasaan lebih. Apalagi ia dan pak Aidan terpaut jauh usianya.
Ku serahkan semuanya kepada Allah. Batin Anisa.