Chapter 4

652 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Dan Aidan masih berkutat dengan laptopnya, pikirannya disibukkan dengan berbagai berkas yang belum dikerjakannya. Dengan lihai tangannya bermain diatas keyboard, mengetik kata demi kata. Hingga perkejaannya selesai. "Banyak bener berkasnya." gumam Aidan lelah. Aidan berhenti sejenak, menyenderkan punggungnya dikursi. Matanya sudah memerah kantuk semakin menerjangnya. Tapi rasa kantuknya hilang ketika terdengar suara notifikasi. Dan ternyata itu adalah notifikasi pesan dari Putra. Sungguh Aidan sangat kesal dengan Putra, bisa bisanya mengirim foto seorang wanita dengan berpakaian gamis dan kerudung besar. Tapi, sialnya wajah wanita itu ditutupi. Sebenarnya Aidan tahu jika wanita itu mengenakan cadar, tapi setidaknya Putra tidak menutupi matanya. Alhasil Aidan tidak bisa melihat wanita itu, bahkan melihat matanya pun tidak bisa. Aidan tahu siapa wanita itu, karena pastinya wanita itu adalah calon istrinya. "Ah sialan lu bang. " Aidan pun tak mau memikirkan lagi, Aidan segera beranjak dari kursi. Dan langsung merebahkan dirinya diatas kasur. Dan tidak memperdulikan pekerjaannya lagi. Perlahan matanya menutup dan larut dalam tidur. ***** Anisa terus mondar-mandir didalam kamarnya. Sudah berbagai cara Anisa lakukan untuk membuatnya mengantuk. Tapi rasa kantuk itu tak kunjung datang. "Ini sudah jam 3. Apa yang harus aku lakukan, sungguh rasanya ingin tidur." ucap Anisa sendirian. Sedari tadi Anisa mencoba membuat dirinya mengantuk tapi ternyata sia-sia. Mulai dari makan yang diketahui Anisa, jika makan pasti kantuk akan menyerang. Tapi tidak berhasil, dan Anisa juga sudah melaksanakan sholat malam, tapi tetap saja tidak ada hasil. "Pasti besok aku akan merasa ngantuk di kelas." "Coba pejamkan mata aja lah." Perlahan-lahan mata Anisa menutup, deru nafasnya mulai teratur. Dan ternyata Anisa sudah terlelap. Kenapa tidak sedari tadi saja ia pejamkan mata? ***** Suara ayam berkokok terdengar jelas di gendang telinga Anisa. Dengan berat hati Anisa membuka matanya, dan membuka ponselnya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 4.56 pagi. Anisa dengan segera menuju kamar mandi, membersihkan tubuh dan juga berwudhu. Ia akan melaksanakan sholat subuh. Hanya butuh sepuluh menit untuk mandi dan juga berwudhu. Anisa segera memakai mukenah dan melaksanakan sholatnya. "Ya Allah jauhkanlah hamba dari hal yang buruk. Jadikanlah hijrah hamba ini sebagai amalan untuk menuju surgamu." Anisa melantunkan doa setelah sholat, dengan sungguh-sungguh. Tokk tokkk "Anisa." panggil Umi dari luar. Anisa langsung melepas mukenah nya, dan berjalan mendekati pintu, "Ada apa Umi?" "Kamu sudah sholat subuh?" "Sudah Umi, ini barusan." jawab Anisa. "Baiklah kalau begitu, takutnya kamu belum sholat." ucap Umi dan berlalu pergi menuju kamarnya. Anisa menutup pintunya, ia duduk di atas ranjang dan membuka aplikasi chat nya. Icha Icha : Assalamualaikum Anisa Anisa : Waalaikumsallam? Icha: An tugas kemaren udah selesai belum? Anisa : Udah dong Icha : Liat dong Anisa : Dasar Umi Icha Icha : Ngapain pake panggil Umi? Anisa : Ya gapapa, Cocok tau di panggil Umi. Icha : Sekali lagi panggil Umi. Besok gak usah duduk di sebelah ku Anisa : Yaudah gak usah nyontek tugas yang kemaren Icha : Eh iya gak jadi kok Cuma bercanda tadi Anisa : Dasar hahahahah Anisa tertawa terpingkal-pingkal, ia sungguh sangat senang menggoda Icha teman sebangkunya. Icha adalah orang yang sangat asik, dan juga suka melucu. Icha juga sama seperti Anisa, Icha juga berhijrah. Tapi, satu hal yang membuat hijrah mereka berbeda. Jika Anisa, ia berhijrah dengan sungguh-sungguh, dan tidak memikirkan soal lelaki ataupun cinta. Berbeda dengan Icha, Icha berhijrah juga dengan sungguh-sungguh. Tapi, jika sudah melihat foto idolanya, pasti dia seperti cacing kepanasan. Dan menyebut idolanya itu pacarnya, siapa lagi idolanya jika bukan AZMI. Hahahaha lucu sekali jika mengingat hal itu. Anisa menaruh ponselnya diatas kasur. Ia turun dan menuju meja belajar. Anisa menata buku-buku dan memasukkan beberapa buku ke dalam tas. "Sudah selesai semua. Hanya tinggal bersantai santai." gumam Anisa kembali duduk di ranjang. "Oh iya besok hari Minggu. Enaknya ngapain ya?" tanya Anisa sendirian. Ia berharap Minggu besok temannya tidak ada yang berlibur, dengan keluarga. Supaya Anisa bisa menghabiskan waktu bersama-sama. Karena jika setiap hari Minggu, pasti hanya beberapa saja yang bisa diajak keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN