Chapter 3

868 Kata
Hari menjelang malam, dan Anisa sedang bersantai-santai didalam kamar. Harinya begitu melelahkan, seharian ia menemani pak Aidan berkeliling sekolahan. Belum lagi tugas sekolahnya yang menumpuk.  Mungkin jika ia lulus nanti, ia akan merindukan tugas sekolahnya itu. Bagaimana tidak, setelah lulus pasti Anisa tidak bisa merasakan sensasi mengerjakan tugas lagi. Kuliah? Jika suaminya mengizinkan maka ia akan melanjutkan kuliahnya. Jika tidak, ia harus ikhlas menyelesaikan pendidikannya hanya sampai tahap SMA.  "Lelah sekali." gumam Anisa sambil memijat kakinya.  Tiba-tiba bibir Anisa menyunggingkan senyum manis, kala teringat wajah tegas pak Aidan. "Dia tampan, dan sangat berwibawa." gumam Anisa tanpa sadar, dan membayangkan wajah pak Aidan. "Astaghfirullah. Anisa apa yang kau pikirkan, itu tidak benar." pekik Anisa, setelah sadar jika ia sedang memikirkan pak Aidan. Dan lebih parahnya ia membayangkan wajah pak Aidan. "Ada apa ini, kanapa aku memikirkan pak Aidan." Anisa terus menyerocos, hingga tak sadar sedari tadi pintunya diketuk. Tokk tokkk Tokk tokkk "Anisa buka." teriak Umi dari luar. Anisa langsung gelagapan, ketika ketukan itu semakin terdengar keras. "Ah iya Umi, sebentar Umi." jawab Anisa berteriak tidak terlalu keras. "Cepat kebawa dan pakai pakaian yang sopan." kata Umi, dan terdengar suara derap kaki yang semakin menjauh. Perasaan pakaian Anisa selalu sopan. Entahlah mungkin yang lebih sopan. Anisa turun dari ranjang, dan membuka lemarinya. Diambilnya gamis berwarna biru navy, dan kerudung besar berwarna abu-abu. Anisa segera memakainya, dan mematut dirinya didepan cermin. Ia hanya mengoleskan sedikit lip balm agar tidak terlihat pucat. Dirasa cukup, Anisa keluar kamar sambil memakai cadarnya. Karena Anisa yakin pasti ada tamu yang datang. Perlahan-lahan Anisa menuruni anak tangga, dan terlihat dibawa sana. Umi dan Abinya sedang berbincang. Dan yang sedang berbincang dengan Umi dan Abinya, adalah bunda Ana dan ayah Dhani. Dan disampingnya sedang duduk, pemuda tampan dengan kemeja putih. Anisa berpikir Itu adalah lelaki yang akan menikah dengannya taun depan. "Assalamualaikum." salam Anisa. "Waalaikumsallam." jawab semuanya. Anisa duduk disebelah kiri Umi nya. Dan didepannya adalah lelaki berkemeja putih itu. Detak jantung Anisa berpacu 10 kali lipat, entahlah kanapa ia sangat gugup. "Anisa kenalkan dia Putra, kakak Aidan." ucap Bunda Ana memperkenalkan lelaki tersebut. Anisa mendongak menatap bunda Ana dan ayah Dhani. Dan setelah itu mengalihkan pandangannya ke arah Putra. Anisa kira lelaki itu adalah Aidan, tapi ternyata salah. Lelaki itu adalah Putra, kakaknya Aidan. Lelaki yang akan menjadi kakak iparnya. Jika mendengar nama 'Aidan' pikiran Anisa tersita akan wajah pak Aidan. Tapi, itu tidak mungkin. Pasti Aidan yang akan bersanding dengannya, adalah Aidan yang lain. "Putra." ucap Putra seraya menyatukan kedua tangannya. Ia tahu, tipe perempuan seperti Anisa. Yang tak akan menyentuh kulit lelaki sembarangan. Hanya untuk sekedar berjabat tangan. "Anisa." "Oh iya nak, bunda kemari untuk membicarakan tentang pernikahan mu, dengan Aidan." jelas bunda, mengutarakan maksud kedatangannya. "Setahun bukanlah waktu yang lama. Hanya berkedip saja setahun bisa berlalu. Jadi kami semua merencanakan pernikahan mulai dari sekarang." tambah Dhani, sang calon ayah mertua. Anisa memangut-mangut mengerti, memang waktu setahun bukanlah waktu yang lama. "Wah kalau Aidan melihat wajah Anisa, pasti dia terkagum-kagum bun." ujar Putra dengan antusias. Anisa hanya tersenyum. "Itu pasti Nak." jawab Dhani. "Hahaha, nanti aku akan menggodanya yah. Aku akan membuat dia penasaran dengan wajah Anisa. Dan aku jamin, dia pasti akan frustasi." ucap Putra dengan semangat. "Ayah setuju, nanti ayah juga akan menggoda dia." timpal Dhani. "Hay kalian ini kenapa berniat membuat Aidan penasaran?" tanya bunda, alisnya mengerut. "Karena jarang-jarang ada kesempatan mengerjai Aidan." jawab Putra dan Dhani bersamaan. "Dasar." Semuanya larut dalam pembicaraan ringan. Mereka semua sudah terlihat seperti sebuah keluarga. *****                  Sudah cukup lama Aidan berdiri didepan pintu, menunggu bunda, ayah dan kakaknya pulang. Sebenarnya Aidan geram dan kesal kepada mereka semua. Bagaimana bisa mereka tidak mengajak Aidan menemui calon istrinya, sedangkan mereka semua bertemu dengan calon istrinya. Padahal Aidan sudah memohon-mohon agar diperbolehkan ikut. Tapi, tetap saja ia tidak diperbolehkan ikut. Aidan juga tidak tahu, kenapa ia sangat ingin bertemu dengan calonnya. Sumpah saat ini Aidan tengah dilanda rasa penasaran. Bisa-bisa dirinya akan mati karena penasaran, dan jika itu terjadi maka orang yang pertama akan digentayanginya adalah Putra, kakaknya. Karena Putra orang yang paling gencar menggoda Aidan. Dan mengejek Aidan, karena dirinya tidak diperbolehkan ikut. Sedangkan kakaknya ikut. "Gue cacah-cacah mulut lo ya bang, kalo lo berani goda gue. Awas sampai lo pulang, gue gak akan kasih ampun." dumel Aidan sendirian. "Gue yakin pasti nanti kalau pulang, ayah sama bang Putra adalah orang yang paling semangat untuk urusan mengejek." mulut Aidan tidak bisa diam, ia terus mendumel. Sampai terdengar suara mobil, dan Aidan langsung membuka pintu. Ditatapnya bunda, ayah dan juga Putra dengan tatapan kesal. Sedangkan mereka bertiga yang baru saja keluar mobil, di kagetkan dengan keberadaan Aidan di ambang pintu. Raut wajah Aidan tidak bersahabat membuat Ana, Dhani dan putra tertawa. "Muka lo lucu Dan." tawa Putra semakin menggema. Membuat Aidan kesal. "Kenapa kalian pulang, tidak usah pulang sekalian. Sana menginap di rumah keluarga wanita itu." ucap Aidan dengan tampang datarnya. "Hahahaha santai woy." Putra berjalan mendekati Aidan. "Gue tahu lo penasaran sama wajahnya. Dan wajahnya ternyata..." ucapan Putra menggantung, ternyata Aidan menunggu kelanjutannya. "Dan..cantik kayak bidadari." lanjut Putra diiringi gelak tawa ke dua orang tuanya. Aidan hanya mematung memikirkan perkataan Putra. Sungguh Aidan tidak sabar untuk cepat menikah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN