"Kalian ...?" Oza mengerutkan keningnya ketika Cendric dan Sabrina menghentikan langkah di hadapannya. "Tumben kompak." Cendric tidak menanggapi dan memandang Oza lurus-lurus. "Jam berapapun kuliah kamu selesai, sebaiknya kamu langsung mampir ke kantorku," kata Cendric dengan nada perintah. "Yang benar saja," sahut Oza dengan alis berkerut. "Jangan mendadak begini bisa nggak sih?" Cendric menatap adiknya dengan tatapan tidak mau menerima alasan apa pun. "Aku juga pernah kuliah," kata Cendric datar. "dan aku tahu betul seberapa sibuknya mahasiswa itu, tapi nggak ada yang sesibuk kamu." Oza menarik napas panjang sementara Sabrina tidak berkomentar apa-apa. "Ingat, jam berapapun itu mampirlah ke kantor kalau kamu nggak mau ayah semakin mempersempit ruang gerak kamu." Cendric menerusk

