Sore yang menyisakan semburat merah itu menjadi saksi dua mahluk yang usai mereguk manisnya cinta. Tubuh dua insan menyembul di balik selimut. Salah satunya terguncang oleh isakan. Alina menelungkupkan tubuhnya dengan memeluk guling. "Sudah, Al. Aku ini suamimu, bukan orang lain." Fatih menaikkan selimut hingga batas d**a dan menoleh ke arah pemilik punggung yang polos. "Maaf," sambungnya. Ia beringsut benar-benar mendekati Alina. Dengan ragu, melingkarkan tangan pada tubuh ringkih yang masih terisak itu. Alina menggeliat, menandakan penolakan, tetapi Fatih tidak menggubris. Ia tetap melingkarkan tangannya. "Maaf." Fatih kembali berbisik, kali ini meletakkan kepala pada bahu Alina. "Aku bersungguh-sungguh merujukmu." "Cukup sekali ini saja, Mas. Jangan meminta lagi. Sebab, aku ngga

