Ditampar Kenyataan

1319 Kata
Tidak ada yang lebih menyakitkan saat melihat seseorang yang sangat kita rindukan berada dalam jangkauan, tetapi terasa sangat jauh. Itu yang dirasakan Alina. Ia menapaki tangga menuju lobi dengan langkah sedikit goyah. Ia sangat kecewa oleh karena niat baik tidak selalu mendapat imbal balik yang sepadan. Berniat memperbaiki diri, tetapi tetap saja aral melintang menjadi sandungan. "Al, cepat sini. Keburu telat," panggil Meli di depan lift. Senyumnya mengembang melihat Meli melambai. Alina memasukkan handphone yang semula dalam genggaman ke dalam tas sambil berjalan. Buru-buru memasuki lift yang sudah terbuka. Ia mengangkat wajah, seketika senyumnya meluruh bersamaan dengan tatapan seseorang di dalam lift. Fatih. Alina terkejut ketika tangan kekar itu menyentak hingga ia masuk. Keadaan yang tidak siap membuatnya terhuyung hingga menabrak lengan Fatih. Masih dengan posisi yang sama, tangan itu masih mencengkeram lengan Alina. Beberapa saat, keduanya saling menatap. "Kamu mau mencelakai dirimu sendiri dengan sengaja berdiri di pintu lift, Alina Putri?" Alina tergagap. Fatih melepaskan cengkraman tangannya begitu saja. Lalu berdiri tanpa menoleh sedikitpun pada Alina. Di sudut yang lain, meli ternganga melihat adegan yang biasanya ia lihat di drama Korea. Ia menarik Alina agar berdiri sejajar dengannya, di belakang Fatih. Tanpa berani berkata-kata, keduanya saling lirik dalam kebisuan. Perasaan Alina berkecamuk. Tatapan dan sentuhan kecil Fatih baru saja membuatnya hampir lupa diri. Ia menatap punggung lelaki di hadapannya itu dengan perasaan hancur. Andaikan hanya mereka berdua di dalam lift, mungkin Alina sudah mengadu tentang rindu yang ingin segera dituntaskan. Namun kenyataannya, Fatih hanya diam, membisu dan menganggapnya orang lain. Alina memejamkan mata, sungguh keberadaan Fatih di hadapannya kini menggoyahkan niat. Dengan mata terpejam, malah bayang-bayang akan sosok nyata Fatih begitu kentara. Dadanya terasa perih, ketika rindu yang tak mampu dilampiaskan, ketika aroma tubuh yang ia gilai kini sedang berdiri tegak di hadapannya. "Al, lo mau berdiri terus di situ." Ucapan Meli membuat lamunan Alina memudar, berganti sosok sahabatnya yang sudah berdiri di luar lift. Alina segera mengikuti Meli yang sudah berlalu. Ia sempat menoleh kearah yang berlawanan, tampak punggung pria yang mengurungnya dalam kerinduan semakin jauh pergi. Meninggalkan tatapan kosong seorang wanita yang terdiam dalam kelukaan. Alina berbalik, menyusul Meli yang telah semakin jauh dari tempatnya berdiam diri. Ia mengusap sudut mata yang hampir tertumpah, oleh sebab terlalu sakitnya menahan rindu. *** Fatih meminta beberapa laporan yang akan diajukan kepada bos atasannya. Ia memeriksa dengan teliti setiap detail laporan itu hingga terlewatkan jam makan siang. "Pak, jam istirahat. Apa saya pesankan makanan untuk di bawa ke sini?" tanya Winda, sang sekretaris. "Gak usah. Nanti saya ke kantin bawah saja," jawabnya tanpa menoleh, ketika Fatih masih disibukkan dengan pekerjaan. "Baik, Pak." Baru ditempatkan ke posisi yang baru, membuat Fatih harus bekerja lebih keras. Pertama yang harus ia lakukan adalah belajar beradaptasi secepat mungkin agar segera bisa mengenali tempat kerja dan para bawahannya. Fatih bisa menghela nafas lega karena selesai sebelum waktu yang ia targetkan. Ia bergegas meninggalkan ruangan menuju kantin di kantornya. Ia harus menuruni lift demi sampai ke kantin yang letaknya di lantai bawah. Ia segera memesan makanan untuk sekadar mengganjal perut. Karena pekerjaan yang lainnya sudah menunggu untuk dieksekusi. "Al, lo pesan makanan apa?" Fatih yang sedang menyendok makanan menghentikan gerak tangannya karena mendengar nama panggilan orang ia kenali disebut, terdengar begitu dekat dari tempat duduknya. "Nggak usah. Gue bawa bekal," jawab Alina yang mengambil tempat duduk di dekat meja kasir. Mendengar nama mantan istrinya disebut, Fatih mengaduk-aduk makanan dalam piring, urung menyantap. "Lo gak suka jus?" tanya Meli. Mereka tidak menyadari keberadaan Fatih yang hanya berselang satu meja. "Nggak usah," balas Alina. Fatih yang duduk membelakangi keduanya jelas mendengar detail percakapan bawahannya itu. "Lo harus banyak makan buah dan sayur. Ingat pesan perawat kemarin." "Sttt ... jangan ngomongin itu di sini!" bentak Alina dengan bisikan, tetapi masih terdengar jelas di indera pendengaran Fatih. "Sory, gue lupa." Meli membalas. "Kebiasaan!" rutuk Alina sambil membuka penutup bekalnya. "Gue traktir, ya?" "Terserah, deh!" Alina akhirnya. "Itung-itung, perbaikan gizi buat calon keponakan gue." "Boleh, jus mangga aja kalau begitu. Gak pake gula, gak pake--" "Es," potong Meli. "Dengar-dengar, wanita hamil gak boleh mengonsumsi es. Bikin gendut baby di dalam, entah fakta atau mitos," lanjut Meli. Obrolan keduanya membuat Fatih membelalak, tetapi masih dalam posisi yang sama, memunggungi keduanya. "Mel! Nanti ada yang dengar!" bentak Alina mengingatkan. "Sory-sory gue kebablasan." Meli meninggalkan Alina untuk memesan makanan. Alina mulai menyuap makanan yang didominasi sayuran hijau di dalam wadah bekal. Sayangnya, seseorang yang sedari tadi mendengar percakapan itu, telah berdiri di hadapan Alina. Seketika Alina menatap seseorang yang tinggaldan jangkung sudah berdiri sampingnya. "Mas," kejut Alina. Sendok terjatuh tanpa sadar. "Setelah ini, temui aku ke ruanganku." Fatih meninggalkan Alina dengan semua keterkejutannya. Ia ingin memanggil pria yang hanya tampak punggung itu, tetapi batal karena tidak ingin menjadi pusat perhatian. Terlebih Fatih menginginkan dirinya tidak mengungkit jati dirinya di kantor ini. "Jangan-jangan, mas Fatih mendengar percakapan tadi," gumam Alina resah. Akhirnya, Alina memilih menutup bekal dan berjalan cepat mengejar Fatih. Disaat yang bersamaan, muncul Anita yang akhirnya berjalan menjajari langkah Fatih. Alina memperlambat langkahnya, berharap Fatih menoleh ke belakang, lalu menemukannya, mengajak berbicara berdua saja dan mengungkapkan keresahannya. Ah, hanya angan. Terlebih, keberadaannya satu kantor dengan Fatih, malah semakin memperjelas status Alina sebagai atasan dan bawahan. Bukan lagi suami dan istri. Alina kembali ke meja kerja, tanpa berniat kembali lagi ke kantin. Melupakan Meli yang sudah memesan jus untuknya. *** Hingga jam kerja usai, Alina masih menunggu seseorang mendatanginya dan meminta untuk menemui Fatih, tetapi lagi-lagi hanya harapan kosong. Alina hanya bisa berandai-andai dalam khayalan. Tapi nyatanya Fatih tidak berniat mengetahui kondisinya yang sedang mengandung. "Sudahlah, mas Fatih memang tidak perduli atau barangkali memang tidak mendengar pembicaraan tadi?" Alina terus menerka-nerka. "Al, lo pulang bawa motor, kan? Gue ikut, ya?" Meli berucap yang akhirnya membuat pikiran terhadap Fatih menjadi teralihkan. "Boleh," jawab Alina. *** Meli menyerahkan motor Alina sesaat setelah sampai di depan rumahnya. "Nggak mampir, Al?" "Kapan-kapan, deh! Ini masih ada urusan." "Tau Gue yang dapat perhatian khusus dari bos duren." "Apaan, sih! Gue cabut." "Hati-hati, Al." Gara-gara insiden di depan pintu lift pagi tadi, membuat Alina sehari ini menjadi bahan olok-olokan Meli. Kalau dirinya mendapat perhatian khusus dari si bos, Fatih. "Seandainya Meli tau ...." Ia hanya bisa berangan-angan. Alina mengarahkan laju motornya ke sebuah apartemen. Rasa penasaran masih memenuhi kepala. Tentang kebenaran Fatih menempati salah satu apartemen di kawasan elit ini. Ia memarkirkan motor sambil melihat kanan kiri. Pandangannya tertuju pada area parkiran mobil. Menilik mobil milik Fatih. Tapi sulit sekali mengenalinya karena ada puluhan mobil yang terparkir dengan warna dan jenis yang hampir sama. Ia memilih berdiam di sana beberapa saat. Naluri menuntun untuk menunggu. Alina mengamati satu persatu mobil yang keluar masuk. Berharap salah satunya milik Fatih. Sayangnya, hingga lima belas menit berlaku, netranya tidak menangkap bayangan orang yang di cari. Ia mengenakan helmnya kembali dan memutuskan meninggalkan apartemen itu. Tiba-tiba pandangannya menangkap sebuah mobil yang tidak asing lagi. "Mbak Nita!" Alina menuruni motor hendak memanggil Anita yang baru saja keluar dari kendaraannya. Bibir bungkam seketika saat menatap sosok Fatih keluar dari dalam mobil Anita. Keduanya berjalan beriringan memasuki apartemen. Alina mengikuti dari jarak yang cukup deket. "Berarti selama ini mbak Nita tau keberadaan mas Fatih. Kenapa diam saja? Kenapa tidak memberitahuku?" Pikirannya berkecamuk. Di sebuah lorong yang sepi mereka berhenti. Alina juga berhenti mengikuti dan bersembunyi di balik belokan. Dengan segenap perasaan, Alina melihat setiap adegan yang mereka lakukan. Pelukan Fatih pada Anita, tangannya yang lembut membelai rambut panjang itu dan kecupan yang bertubi-tubi pada pucuk kepalanya. Tidak perlu dengan ucapan untuk membuktikan kenyataan. Mata yang jelas-jelas melihat adegan setiap inci perlakuan Fatih pada wanita lain itu mendadak menyadarkan Alina pada satu kenyataan bahwa jatuhnya talak pada dirinya ternyata karena adanya wanita lain. "Ya Allah ... kenapa harus mbak Nita, sih, Mas! Aku nggak kuat. Aku mohon, jangan Mbak Nita!" Bahkan air mata saja tidak mampu mengalir lagi, mengering. Tubuhnya jatuh tersungkur. Rasa sakit yang menghimpit terasa seperti ribuan anak panah yang menancap tepat di ulu hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN