Kedatangan Fatih

1024 Kata
Pasrah, sementara cara itulah yang bisa dilakukan Alina, sepulang dari apartemen yang ditempati Fatih. Sekuat apapun menahan rasa sakit, tetap tidak bisa membelokkan kenyataan bahwa Fatih dan Anita telah mengkhianatinya. Perih yang tak terkira, membuat tubuh Alina lemah. Bahkan semalaman, ia hanya makan sepotong roti dan segelas s**u. Itupun terpaksa ia telan karena tidak ingin anak dalam rahimnya kelaparan. Pagi hari, sakit pada kepalanya semakin menjadi, hingga membuat Alina terpaksa meminta izin untuk absen bekerja. "Aku gak bisa seperti ini terus. Percuma berusaha mengejar simpati mbak Nita dan mas Fatih, mereka tidak akan memperdulikan aku. Pantas saja mereka berusaha menyingkirkan aku." Kepala enggan berpindah dari bantal. Rasa sakit di hatinya tentu tidak bisa diabaikan. Ia hanya bisa pasrah. "Kira-kira, bisa gak ya, kontrak kerjanya dibatalkan? Aku gak kuat kalau harus bertemu dengan keduanya setiap hari." Ia meraih handphone yang terselip di bawah bantal. Mengetik pesan pada Meli, memintanya untuk menanyakan perihal denda untuk kontrak kerja yang ia batalkan. Lima menit. Tak ada balasan dari Meli. Padahal pesan yang Alina kirim sudah bertanda centang biru. Sepuluh menit. Rasa sabar seperti terkikis, Alina mulai gelisah. "Telepon aja, deh!" Alina menekan nomor yang bertera nama Meli di sana. "Halo Mel, kok gak diangkat, sih?" "Halo," jawab Meli dari seberang. "Pesan Gue sudah Lo baca?" "Sudah, Al, tapi ... tapi anu ...," ucap Meli menggantung. "Kenapa, sih, jadi gagap begitu? Gimana, bisa apa nggak?" Hening. Tak ada jawaban dari Meli. "Mel!" "Lo tanya gak pada waktu yang tepat, Al." "Kenapa? 'Kan waktunya istirahat sekarang? Memangnya Lo di mana?" tanya Alina beruntun. "Di ruangan pak Fatih." "Hah!" Seketika, Alina langsung memutus sambungan teleponnya. "Matilah! Pasti Meli diinterogasi sama mas Fatih. Jangan-jangan, dia sudah tau kalau aku hamil," gumamnya. Ia terlonjak dan duduk di tepian ranjang. "Ya ampun ...!" Alina mengacak-acak rambut sendiri, "kenapa hidupku ribet begini?" Alina berdiri, lalu ke ruang tamu. Duduk sejenak, batinnya berontak jika Fatih akan datang menemuinya. "Aku nggak mau bertemu dengannya, kalau gak terpaksa ketemu di kantor. Tapi kalau dia datang ke sini?" Ia berdiri menuju jendela depan, dan menggait tirai, mengintip ke luar. "Mana mungkin datang secepat ini. Kenapa jadi cemas, sih? Toh, belum tentu dia senang kalau aku hamil, kan?." Alina terus bergumam. "Ah, terserahlah! Mending masak aja." Rasa perih pada lambung, menuntunnya bergerak ke dapur. "Ya ampun, gak ada apa-apa." Ia membuka rak kecil yang hanya teronggok sebungkus mi instan. Tanpa pikir panjang, ia menghidupkan kompor dan merebur mi instan sambil berselancar di dunia maya. * Pikiran terkuras oleh karena menahan sakit hati membuat Alina hanya berada di pembaringan. Setelah menerima asupan energi dari sebungkus mi instan tadi, tenaganya mulai pulih, tetapi ia enggan beraktivitas. "Kalau cuma begini saja, hidupku gak akan maju. Mengandalkan gaji di kantor yang hanya cukup untuk biaya makan dan membayar kontrakan saja." Alina berpikir keras agar mendapatkan penghasilan di luar pekerjaan tetapnya. Mengambil pekerjaan lain, tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kehamilannya butuh waktu istirahat yang cukup. "Aku mesti kerja apalagi? Cuma lulusan SMA, dapat pekerjaan di kantor pun, berkat sogokan mbak Nita. Seandainya papa dulu punya uang cukup untuk melanjutkan kuliah, tentu aku gak perlu mengalah demi mbak Nita." Ia terus menggumam hingga tiba-tiba terlintas satu pemikiran .... "Aku kan bisa--" Gumamannya terhenti oleh sebab pintu yang diketuk beberapa kali. Ia beranjak mendekat, tetapi hening. Ia bergerak meraih tirai dan mendapati seseorang sedang berdiri di depan pintu yang masih tertutup. Fatih. Alina mondar-mandir di depan pintu yang kembali diketuk. Jujur, rasa rindu yang menggunung tempo hari sudah menguap entah kemana semenjak Alina memergoki kelakuan Fatih bersama Anita. "Al, aku tau kamu di dalam. Buka pintunya!" Akhirnya, sesuatu yang Alina takutnya terjadi. Fatih pasti ingin meminta penjelasan darinya. "Alina!" panggilan Fatih semakin keras. "Kamu nggak malu kalau tetangga di sini melihat tamu berteriak seperti ini!" Mendengar ucapan itu, Alina gelisah. Kemudian menyambar jilbab instan di atas sofa. Pintu pun terbuka lebar. Fatih masuk dan mengunci pintu dari dalam. "Ngapain ke sini?" tanya Alina ketus. Ia berdiri menyandar pada pintu. Fatih berbalik, kini menghadap Alina yang sengaja membuang pandangan. "Mau liat kontrakanmu," jawab Fatih ringan. "Sekarang sudah liat, pulanglah!" Alina hendak membuka pintu, tetapi secepatnya Fatih mendorong tangan Alina hingga pintu itu tertutup kembali. "Kemasi barang-barangmu!" perintah Fatih. Alina terkesiap mendenganya. "Ini tempat tinggalku," bantah Alina. "Kemasi sekarang juga! Kamu nggak layak tinggal di sini." "Apa pedulimu?" Fatih tak menjawab. Ia mengitari seluruh ruangan, kamar Alina kemudian berhenti di dapur. "Kamu habis makan mi instan. Gak takut sakit perut?" Fatih memandang dapur yang masih berantakan, lalu mengaduk-aduk sisa mi instan yang tergeletak di meja dapur. "Al ...." "Bukan urusanmu!" "Sekarang jadi urusanku." "Aku nggak suka mas Fatih bertindak sesuka hati. Datang langsung main perintah. Aku bukan lagi istrimu. Jadi berhentilah bersikap diktator seperti ini!" Fatih bungkam. Sengaja menatap Alina yang sejak awal kedatangannya tidak ingin memandangnya. "Sejak kamu hamil anakku, kamu berada dalam pengawasanku, Alina." Alina tercekat. Pikirannya malah melayang tentang penghianat Fatih. Sementaranya Fatih bergerak mendekati Alina. "Aku akan membesarnya sendiri," tegas Alina. Kali ini ia memberanikan diri memandang wajah Fatih. "Karena kamu sedang hamil anakku, maka urusanmu menjadi urusanku juga." Fatih tidak ambil pusing dengan sikap ketus Alina yang masih bersikukuh tidak ingin pindah. Namun, bukan seorang Fatih jika tidak mampu membuat Alina menuruti permintaannya. Fatih pergi meninggalkan Alina menuju kamar. "Mau ngapain ke kamarku?" Alina tidak bisa berdiam diri ketika Fatih menyambar koper yang teronggok di sudut ruangan. Alina menarik lengan Fatih, tapi Fatih menepisnya. Fatih bergerak lebih cepat membuka lemari dan meraih pakaian Alina. Ia memindahkan semua isi lemari yang tak seberapa banyak itu. "Aku nggak suka mas Fatih memaksa begini!" Alina membentak, menangis dan tersedu di pinggir ranjang. "Aku akan memastikan jika anakku akan mendapat tempat yang layak. Dengan atau tanpa persetujuanmu, aku akan tetap membawamu pergi." "Mas, tolong mengertilah keadaanku." "Kamu yang harus mengerti. Kamu yang harus banyak belajar mulai sekarang. Apa kamu nggak capek hidup amburadul seperti ini, Al." "Mas!" "Cukup, Alina! Sekarang juga kemasi barang-barangmu. Aku tak mau mendengar alasan apapun itu. Di tempat yang baru nanti, keadaanmu akan jauh lebih baik. Setidaknya pikiranku nggak was-was kalau anakku berada di tempat yang aman." "Kamu nggak ngerti, Mas. Nggak akan mengerti." "Aku sedang tidak mau berdebat. Mauku, kamu menuruti perintahku. Titik."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN