“Lara sering datang ke studio kamu?” Ciara bertanya di tengah perjalan. Ia mengingat lagi saat gadis itu dibawa Mahesa ke rumahnya untuk makan malam. Juga saat ia tidak sengaja membaca pesan yang dikirimkan gadis itu untuk Mahesa. Ia lupa bahwa sebelumnya, ia pernah bertanya-tanya sedekat apa hubungan keduanya. “Ya, lumayan.” Mahesa tak berbohong. Akhir-akhir ini gadis itu memang sering datang ke kantornya. Meski hanya untuk sekadar mengobrol, makan siang bersama ataupun mengerjakan tugas. Ia tidak pernah melarangnya. Selama ia ada di kantor, ia membebaskan gadis itu untuk datang ke kantornya. Toh, gadis itu sama sekali tak mengganggu pekerjaannya. “Ngapain aja? Kamu nggak sibuk memang?” Ciara bertanya lagi. Mati-matian berusaha menyembunyikan nada penasara

