Ayra tahu ia sudah gila. Ia sudah gila karena baru saja memberitahu Kamal bahwa ia menyukai Bara, laki-laki yang dulu dibencinya setengah mati. Ia tahu ini tidak masuk akal bagi laki-laki itu. Baginya pun tidak. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Benar kata orang, jarak benci dan cinta sangat tipis. Kedua mata Kamal mengerjap. Ia masih menatap Ayra yang duduk di depannya. Gadis itu menunduk dan sedang mencoba fokus memakan es krim dalam cup. “Lo beneran?” tanyanya. Ia masih tidak percaya jika gadis itu baru saja bilang bahwa ia menyukai Bara. Ia tersenyum saat melihat gadis itu mengangguk pelan. Gadis itu masih menunduk. Seakan ia malu dan menyesal mengatakannya. “Bagus dong.” kata Kamal, “lo udah kasih tahu dia?” tambahnya. Ia tidak

