“Mal, bisa bicara sebentar.” Lara mengatakan itu saat laki-laki itu baru saja hendak keluar dari mobil, menyusul Ayra yang sudah turun lebih dulu. Kamal terdiam. Ia masih berada dibalik kemudi. Sebelah tangannya akhirnya membuka kaca jendela. Ia meminta pada Ayra untuk masuk ke kelas lebih dulu. Gadis itu mengangguk lalu berjalan lebih dulu ke fakultasnya. Lara menelan ludah. Ia menunduk dan memilin jari-jari tangannya. Ia tahu bahwa ada banyak yang harus ia bicarakan dengan laki-laki itu, namun ia tidak tahu harus memulai dari mana. Ia tidak tahu harus memulai dengan kalimat seperti apa. “Kenapa?” kalimat pertama justru keluar dari mulut Kamal. Ia melihat gadis itu menoleh ke arahnya dengan raut wajah kebingungan. “Gue mau minta m

