BAB 2

1468 Kata
Bu Nana tengah mengoleskan salep pada luka di b****g Dinda. Dengan satu sabetan saja sudah berhasil membuat luka di b****g mulus putrinya. "Lagian kau ini kepala batu. Batu bertemu batu tentu akan menimbulkan api. Dan kau batu kerikil tak tahu diri ingin memecahkan batu kali? Tak bisa di bayangkan memang." "Pelan-pelan Bun, itu aset Dinda yang berharga. Bunda harus menyembuhkan luka itu sehingga tak berbekas nantinya." pinta Dinda "Sudah untung Bunda bantu oleskan obat." ucap Bu Nana seraya menekankan jarinya di luka Dinda. "Awww sakit tau....." pekik Dinda. Dinda reflek langsung duduk, walau masih nyeri tapi ia paksakan untuk duduk. "Kenapa sih kalian ingin sekali membuang ku? Memangnya kenapa kalau aku tak menikah dengan pria tua itu?" "Kau lupa tamparan Bunda kemarin?" "Mana mungkin." Dinda mengosok-gosok pipinya sendiri seraya berharap menemukan gambar tangan Ibunya itu. "Tapi kenapa Bunda?" lirih Dinda. Bu Nana yang melihat raut wajah memelas putrinya tentu sebenernya tak tega untuk memberika masa muda putrinya untuk pria itu. Pria yang bahkan Bu Nana dan Pak Dimas tak tahu tampangnya. Karena selama ini dalam menjalankan bisnisnya mereka bertemu dengan perantara orang dekat Pak Revandra. Dan rumor-rumor yang melekat pada orang itu juga membuat Bu Nana tak sepenuhnya rela. "Jika Dinda tak mau menikah dengan dia, maka Ayah dan Bunda harus masuk penjara karena utang yang sangat banyak itu." Dinda menatap wajah Ibunya dalam-dalam. Jelas di sana terlukis kekhwatiran yang begitu mendalam. Dinda berpikir jika Ibunya itu khawatir akan kehidupan Dinda dan adik bungsunya jikalau mereka meringkuk di balik jeruji besi. Untuk Dita mereka tak terlalu khawatir karena dia sudah akan memiliki pendamping hidup sendiri. "Biarkan Dinda berpikir lagi ya Bun." Satu kalimat itu bagaikan angin segar dalam keluarga Pak Dimas. Bu Nana memeluk putrinya itu erat-erat dan berterimakasih karena sudah mau bersikap dewasa. ********** Hari ini Dinda di bawa kedua orang tuanya ke perusahaan milik Pak Revandra. Takjub sebenernya dengan perusahaan milik calon suaminya itu. Namun Dinda tentu khawatir akan nasibnya kelak. Memasuki sebuah ruangan khusus, seseorang yang katanya asisten pribadi Pak Revandra datang dengan sebuah dokumen penting di tangannya. "Silahkan Pak Dimas tanda tangan bersama dengan istri." Dengan senang hati Ayah dan Ibu Dinda menorehkan tanda tangan yang di arahkan orang itu. Dinda hanya bisa membantu menyaksikan hal semacam transaksi jual beli itu. "Hutang kalian akan di anggap lunas saat Dinda sah menjadi istri tuan kami. Dan pada hari itu juga kalian harus menyerahkan sepenuhnya putri anda pada tuan kami. Dam kalian tidak berhak lagi untuk ikut campur dalam hidupnya kelak." Ingin menangis memang, tapi Dinda tidak bisa berbuat apapun. Ia ingin pergi jauh, namun Dinda adalah anak berbakti yang begitu menyayangi keluarganya. Anggap saja Dinda sekarang sedang melakukan baktinya untuk yang terakhir kali. "Dan untuk acara pernikahannya akan kami beri tahukan secepatnya." Setelah mengucapkan kata itu, asisten Pak Revandra itu pamit undur diri untuk melanjutkan kesibukannya yang lain. ********** Dengan langkah gontai Dinda berjalan ke kasurnya. Membanting tubuhnya di kasur empuk yang selama ini menemani tidurnya. "Entah kesalahan apa yang aku buat di masa lalu sehingga karmanya sebesar ini. Apa Dinda ini kuat ya Tuhan." keluh Dinda. Tok..... Tok..... Tok..... Sebuah ketukan kecil berhasil membuyarkan lamunan Dinda. "Masuk aja." ucap Dinda pelan. Ternyata kaka sulungnya Dita datang. Dengan tentengan besar di tangannya dia menemui adiknya dengan maksud untuk sedikit menghibur dan menyemangatinya. "Nih baju buat lo." "Makasih." ucap Dinda singkat. Dita duduk dan menarik Dinda kepelukannya. "Maafin kaka ya." tangis Dita pecah di pundak Dinda. "Kenapa kaka minta maaf?" "Seharusnya kaka yang ada di posisi itu, tapi..." Dita seolah tak sanggup lagi melanjutkan perkataannya. "Tak apa kak, asal kak Dita dan Dio aman Dinda akan baik-baik saja." Dinda menepuk lembut pungung kakaknya. "Huwaa....." Dita menangis sesenggukan. Dia merasa gagal untuk melindungi adiknya. Sebagai kakak tertua harusnya ia yang berada di garda terdepan, namun nyalinya begitu kecil karena keegoisannya sendiri. Nasi sudah menjadi bubur, hari pernikahan adiknya mungkin sudah di tentukan. Dan dia tak bisa melakukan apapun lagi sekarang. ********** "Nih Yah kopinya." Bu Nana menyuguhkan kopi buatannya untuk Pak Dimas yang baru saja pulang. "Makasih Bun." Pak Dimas menyeruput sedikit kopi itu lalu meletakkannya kembali di meja. "Ada apa Yah?" Seolah tahu isi pikiran suaminya. Pak Dimas menatap dalam wajah Bu Nana. "Harinya sudah ditentukan dan itu dua hari lagi." Pak Dimas memberi tahu. "Asisten Pak Revandra yang memberi kabar?" Tanya Bu Nana. Dan Pak Dimas hanya mengangguk. "Kapan?" "Dua hari lagi." "Hah? Apa Ayah tak salah dengar, bahkan kita belum melakukan persiapan." "Kita tak perlu melakukan apapun, semuanya sudah di urus oleh mereka. Kita hanya perlu membawa Dinda saja ke tempat yang mereka pilih." "Aku aka memberi tahu keluarga dulu." Bu Nana meraih ponselnya. "Jangan!!" Pak Dimas sedikit panik. "Kenapa? Ini kabar baik." "Mereka hanya ingin Dinda, bahkan Dita dan Dio juga tak di perkenankan hadir. "Mengapa Yah?" "Kita turuti saja sayang, kita tahu betul jika kita tak menuruti permintaannya." "Ini gila, kenapa kita jahat sekali pada Dinda. Setidaknya di hari spesialnya dia berhak merasa istimewa." Keluh Bu Nana. "Tenangkan dirimu sayang." Pak Dimas juga sebenernya merasa bersalah atas semua yang menimpa putrinya. Jika saja ia tak kalap mata dan terbujuk buaian orang itu, mungkin saja kehidupan Dinda masih tenang-tenang saja hingga detik ini. Tak bisa di pungkiri memang, Pak Dimas bisa saja di sebut sebagai dalamg atas menderitanya Dinda saat ini. ********** Pagi-pagi buta Dinda sudah di bangunkan oleh Bu Nana. Hari ini adalah hari pernikahannya, Dinda sudah tahu tentang itu. Namun dia seperti enggan berkomentar dan memilih pasrah akan masa depannya. Dinda menjadi anak yang penurut kali ini dan tak banyak mengeluh maupun berkomentar. Dia hanya bisa menahan sesak di dadanya seorang diri. Bu Nana yang menyadari kegelisahan putrinya juga hanya bisa memberinya semangat moril saja. Dinda dan kedua orang tuanya berhenti di sebuah hotel mewah tempat yang mereka beri tahu. Takut menang, namun ini adalah bagian masa depan yang harus Dinda jalani. Saat ia melangkah maju maka tidak tersedia lagi jalan untuknya mundur. ********** Dalam sekejap Dinda sudah di sulap menajdi pengantin yang cantik. Berbalut kebaya putih sederhana namun cantik Dinda terlihat begitu pangling. Bahkan Pak Dimas dan Bu Nana sampai menitikkan air mata terharu melihat putrinya yang begitu cantik. Senyum yamg di paksakan dan langkah yang terseok, Dinda sebenarnya begitu enggan untuk duduk di kursi pelaminan itu. Sebuah kursi pada umumnya namun mampu mengubah segala hidupnya. Dinda meremas kebayanya dengan erat, dia begitu gugup untuk melewati semua ini. Namun sudah tak ada pilihan kedua untuknya saat ini. Mau tak mau itu yang harus ia jalani. Pak penghulu dan kedua saksi sudah datang dan duduk dengan rapi. Dinda semakin gugup, keringat dingin sudah membasahi keningnya. Seorang pria berjas putih datang, dengan diiringi kedua asisten pribadi dan beberapa bodyguardnya dengan langkah tegap berjalan ke pelaminan. Namun yang menarik perhatian adalah pria itu memakai topeng menutupi kedua mata dan hidungnya. Sehingga tak ada satupun orang yang bisa dengan jelas mengenalinya. Kedua netra mereka bertemu. Bola mata kecoklatan itu benar-benar misterius bagi Dinda. Orang yang akan menjadi suaminya itu sama sekali tak tersenyum padanya. Hanya duduk dan meminta untuk segera memulai acaranya. "SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA ADINDA MAHARANI BINTI DIMAS RAHARJA DENGAN MAS KAWIN LOGAM MULIA SEBERAT 500 GRAM DAN UANG TUNAI 300 JUTA RUPIAH DIBAYAR TUNAI." Dengan lantang pria itu mengemban tugas baru di pundaknya. Dengan satu tarikan nafas saja dia sudah berhasil memperistri Dinda dalam sekejap. "Bagaimana saksi?" Tanya Pak penghulu. "SAHHHH." "SAHHHH." Bu Nana tak bisa membendung air matanya lagi, sesuai perjanjian mulai saat ini Dinda sudah bukan lagi menjadi tanggung jawabnya lagi. Baru selesai menangkupkan tangan seusai berdo'a belum sempat Dinda sungkem pada orang tuanya namun pria yang notabene sudah menjadi suaminya malah berdiri meninggalkannya. "Ini waktu terakhirmu untuk mengucapkan salam perpisahan pada orang tuamu. Dan perlu di ingat jika Aku tak suka menunggu terlalu lama." Pak Revandra seolah memberi kode pada asistennya untuk mengawasi Dinda lalu pergi. Bu Nana menghampiri Dinda dan memeluknya. "Maafkan kami nak, kami orang tua terbodoh di dunia ini." Bu Nana meraung. Dadanya serasa sesak saat membayangkan putrinya harus hidup dengan pria tak berperasaan itu. Pak Dimas tak bisa berkata apapun lagi, lidahnya kelu. Dia sangat menyesal dengan yang menimpa Dinda. "Sudahlah Bun, Dinda tak apa. Mungkin sudah nasib Dinda begini adanya. Kalian harus tetap hidup bahagia dengan atau tanpa Dinda ya, Dinda sangat mencintai kalian. Ucapkan salam pada Kak Dita dan Dio ya Bun. Dinda belum sempat berpamitan pada mereka. Anggap ini sebagai bakti Dinda terkahir. Entah kapan Dinda bisa ketemu kalian lagi. Tapi semoga Tuhan segera mempertemukan kita lagi ya? Dinda pamit ya? Ayah harus jaga Bunda." Dinda memeluk erat Bu Nana kemudian Pak Dimas secera bergantian. Sebenarnya ia enggan untuk melepaskannya, namun tiba-tiba saja salah seorang asisten Pak Revandra datang dan menarik Dinda untuk pergi. "Jaga diri kalian baik-baik. Dinda sayang kalian." Teriakkan dan tangisan Dinda yang begitu menggema membuat Bu Nana tak kuasa menahan tangisannya. Beliau bersimpuh karena lemas. "DINDAAA....."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN