BAB 1
"Apa Ayah sudah tak waras menjual putrinya ?" Teriak Dinda dengan lantangnya
Hatinya begitu sakit saat mendengar keputusan Ayahnya untuk menyerahkan Dinda pada seorang pria untuk dinikahi.
Dinda merasa ia masih terlalu muda untuk membina bidak rumah tangga, di tambah dengan pria yang sama sekali ia tak kenal.
"Maafkan Ayah nak, Ayah terlanjur menjadikanmu sebagai jaminan atas semua hutang - hutang Ayah. Dan kau tahu sendiri jika perusahaan Ayah sudah bangkrut sekarang. Jadi mau tak mau kau harus mau menikah dengannya." Ucap Pak Dimas dengan suara kacau.
"Tapi yah, Ayah tahu sendiri Dinda masih muda."
"Dinda sayang, tolonglah Ayahmu nak. Tak ada yang salah menikah dengannya. Dia mapan, sudah tentu dia sanggup memberimu segalanya." Bu Nana mencoba memberi pengertian pada putrinya.
"Kalian emang tak sayang padaku. Yang di otak kalian hanya ada Kak Dita semata."
"Kenapa kau bicara seperti itu sayang?" Tanya Bu Nana.
"Kenapa Bunda bilang? Itu kenyataannya Bun. Dia putri tertua, lalu mengapa tidak Kak Dita saja yang kalian jadikan jaminan bukannya diriku? Itu alasan mengapa kalian hanya mencinrai Kakak saja."
"Dinda..." Pak Dimas ingin menyela.
"Aku benci kalian, kalian pilih kasih, kalian tak sayang padaku!!" Dinda berteriak histeris.
"Dinda dengar Ayah!!" Pak Dimas mencoba menenangkan putrinya.
"Kami tak bermaksud pilih kasih. Tapi kau tahu sendiri kan kalau Kakakmu akan segera menikah? Apa jadinya jika dia yang menjadi jaminan? Bagaimana perasaan calon suami dan mertuanya?"
"Persetan dengan perasaan mereka!! Ayah kira aku orang yang tak punya perasaan hah!!"
Plaaaaakkkk..... Tamparan keras mendarat di pipi Dinda.
"Bunda menamparku?" Dinda meringis merasakan panas di pipi kanannya.
"Jaga ucapan mu itu? Apa begini caranya kami mendidikmu selama ini Adinda? Bunda tak pernah mengajarkan bagaimana caranya berbicara lancang seperti itu!!" Bu Nana mulai kehilangan kesabarannya.
"Kalian memang tak mencintaiku!! Aku benci kalian!!";
Dinda lari pergi keluar rumah untuk menghindari kemelut yang terjadi. Dia sudah begitu buntu saat ini. Otaknya kosong. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya untuk menghindari pernikahan terkutuk itu.
Dinda tampak mendial nomor sahabatnya Vena. Dan tak butuh waktu lama agar mereka tersambung satu sama lain.
"Hallo Ve, dimana? Oh aku nyusul ya? Bye."
Setelah Dinda mematikan telfonnya dia segera pergi ke tempat yang di beri tahu Vena dengan menggunakan taksi.
**********
"Lo kenapa sih Din, galau ya!?" tanya Vena sembari memberikan air kemasan untuk sahabatnya.
"Di minum dulu biar otak lo dingin." celotehnya
"Ve aku mau nanya, tapi kamu jangan bicara keras-keras ya?"
"Apa sih? Kepo nih gue."
"Lo tau orang yang bernama Revandra Bagaskara gak?" bisik Dinda.
"Tau lah, terkenal gitu."
"Serius lo, kok bisa tau?"
"Hello.. Gue Vena ratu gosip setongkrong ini ya jelas tau lah."
"Apa yang lo tau darinya?" tanya Dinda antusias.
"Memangnya kenapa sih? Kamu ada masalah ya sama orang penting itu?"
"Bukan gue kali, tadi ada yang ngobrol nyebut nama dia, kepo deh akyu." Dinda mencoba membuat Vena tak curiga.
"Emangnya dia siapa sih?" tanya Dinda sekali lagi.
"Konglomerat misterius." ucap Vena singkat.
"Kok?"
" Soalnya nggak ada banyak berita tentangnya. Berita yang beredar juga nggak jelas dari mana datangnya."
"Hemmm memang misterius." Dinda mengangguk setuju.
"Di tambah katanya dia sudah punya tiga istri."
Bluuuur.... Dinda yang tengah meminum air yang Vena beri tak sengaja menyemburkan air dalam mulutnya.
"Dihh parah deh." Vena mengambil tisu dan mengelap wajahnya yang basah.
"Sorry, lagian berita lo itu amazing tau nggak." puji Dinda.
"Gue gitu loh." Vena membanggakan dirinya sendiri.
"Terus apa lagi yang lo tau."
"Oh oh oh, aku ingat. Kau tau Siti teman satu sekolah kita dulu kan?"
"Siti yang mana?"
"Siti cengceremen itu."
"Oh yang ingusan itu."
"Iya, katanya Siti Pak Revandra itu orangnya jelek, kumisan dan perutnya buncit, pendek pula."
"Hah?! Serius?" Dinda nampak tak percaya dengan kalimat yang baru ia dengar.
"Kalau itu sih gue nggak tau, kan kata Siti."
"Hemmmm."
"Udah ah ngapain kita jadi bahas orang itu sih. Yuk kita nyanyi, senang-senang kita nyampai pagi." Vena menarik tangan Dinda untuk bergabung dengannya.
**********
Dinda baru kembali menjelang pagi. Saat ia ingin membuka pintu rumah sialnya pintu itu masih terkunci.
"Ah sial, pasti Ayah sengaja melakukan ini." gerutu Dinda.
Namun bukan Dinda namanya jika ia tak memiliki banyak akal, ia mendongakkan kepalanya ke atas ke arah balkon kamarnya.
"Untungnya gue nggak pernah mengunci balkon kamar. Hahahaha."
Dinda menaiki pohon yang kebetulan salah satu cabangnya dekat dengan balkon kamarnya. Dengan mudah baginya untuk menaiki pohon itu. Dan dengan perhitungan yang matang ia melompat ke lantai balkon kamarnya.
"Jangan panggil gue Dinda kalau nggak bisa ngelakuin hal seperti ini. Cuih SEPELE."
Dinda memasuki kamarnya dengan santai, namun lagi-lagi nasib apes menimpanya. Saat ia membuka pintu, Pak Dimas sudah duduk tegap di kasurnya lengkap dengan sebuah sapu lidi.
"A-Ayah ngapain di kamar Dinda?"
Dinda gemetar, jujur ia takut dengan tatapan dingin Ayahmya yang mengahakimi.
"Anak tak tahu di untung, kemari sini."
"Nggak!!" Dinda menolak perintah Ayahnya.
"Kemari atau....."
"Atau apa? Ayah mau memukul ku? Ayo pukul saja Dinda sampai mati. Itu lebih baik dari pada Dinda harus menikah dengan tua bangka itu."
"Siapa yang kau sebut tua bangka?" tanya Pak Dimas seolah tak percaya dengan apa yang baru ia dengar dari mulut Dinda.
"Tentu saja Pak Revandra tuan Ayah."
"Dinda jangan kurang ajar kamu!!"
"Ayo pukul saja aku Ayah. Aku akan berbahagia dengan kematian ku. Pukul Ayah pukul cepat!!" Dinda melangkah mendekati Ayahnya, seolah menantang jika ia memang tak takut mati.
Ctttaaaaassshhh..... Satu sabetan sapu lidi mendarat di b****g Dinda.
"Aaarrrggghhh aawww....." pekik Dinda sambil mengelus bokongnya.
"Kemari sini kenapa kamu mundur, ayo Ayah pukul sampai mati dirimu."
"Sial, Ayah ternyata serius ingin menjual ku. Tapi ini sakit sekali loh. Ayah tega sekali padaku." batin Dinda sambil meringis nyeri karena sabetan sapu lidi Ayahnya.
"Mikir apa kau? Cepatlah!!"
"Ampun Ayah, maafin Dinda." bak langit dan bumi, sikap Dinda yang garang kini mencuit nyalinya. Dia merengek menangis sambil memeluk kaki Pak Dimas.
"Dinda salah, Dinda kurang ajar. Huuwwwaa....."
Pak Dimas sebenarnya tak tega, namun tentu sebagai orang tua beliau harus tegas mendidik putrinya itu. Dinda yang cantik namun pembangkang dan keras kepala. Dia harus secepatnya belajar tata krama dan mendewasakan dirinya sendiri. Dia bukan anak kecil lagi sekarang, sebentar lagi dia akan berganti status menjadi seorang istri. Dan Pak Dimas berharap agar putrinya itu segera mempersiapkan diri dengan baik.