Rhea dan Nicko sedang berdiri berdampingan di dalam gedung yang sedang dibangun. Gedung ini untuk sementara diberi nama C2. Nantinya akan dibangun menjadi apartemen.
Dari tadi, mereka berdua saling berinteraksi dengan baik. Saling mengawasi dan bisa bekerja sama dengan bagus. Layaknya pegawai normal seperti biasanya.
Tiba-tiba, ponsel Nicko berdering. Nicko segera mengambilnya dari saku. Ada panggilan masuk dari pak Krisna. Nicko pun segera mengangkatnya.
"Iya, Pak?" sapa Nicko lebih dulu.
"Nick? Apa kau masih di gedung C2?" tanya pak Krisna.
"Iya, Pak. Saya bersama dengan Rhea di C2," jawab Nicko.
"Untuk sementara ini, kalian tinggalkan dulu C2. Ada proyek dadakan yang harus dikerjakan dengan cepat," pinta pak Krisna.
"Proyek dadakan?" tanya Nicko mengulangi kalimat pak Krisna.
"Kalian sekarang harus ke kampus Paralangit. Ada yang membutuhkan jasa kita di sana, dengan cepat," ujar pak Krisna lagi.
Mendengar perintah pak Krisna itu, Nicko terdiam sejenak. Ia kemudian melihat ke arah Rhea yang fokus mendokumentasi gambar.
Saat Nicko melihat Rhea, Rhea pun tersadar. Ia juga menatap ke arah Nicko. Seolah ada yang ingin dikatakan Nicko pada Rhea, membuat Rhea penasaran.
"Halo, Nick? Apa kau mendengarku?" panggil pak Krisna untuk Nicko.
"Ah, iya ... iya, Pak. Saya dengar," kata Nicko yang kembali sadar.
"Kau, bisa ke sana sekarang kan?" tanya pak Krisna lagi. "Kalau bisa, ajak Rhea sekalian."
"Baik, Pak."
Panggilan telepon diputus. Nicko menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia mengembalikan ponsel ke dalam sakunya. Rhea masih memandangnya dan menunggu kalimat dari Nicko.
"Ada apa pak Krisna menelpon?" tanya Rhea.
"Kita, harus ke suatu tempat sekarang juga," kata Nicko.
"Ke mana?"
"Kampus Paralangit," jawab Nicko singkat dan cepat.
Setelah itu, tanpa menunggu tanggapan Rhea, Nicko segera berjalan menjauhinya. Rhea sedikit terkejut mendengarnya. Kampus Paralangit, adalah kampus mereka dulu.
***
"Terima kasih. Rekomendasi dari pak Krisna, memang tidak salah. Aku benar-benar terbantu," ujar seorang laki-laki yang sedang menjabat tangan Nicko.
"Sama-sama, Pak. Sudah menjadi tugas kami," jawab Nicko.
"Kalau begitu, aku tinggal kalian dulu ya," pamit laki-laki tadi pada Nicko dan Rhea.
"Silahkan, Pak," jawab Nicko.
Laki-laki yang berjabat tangan dengan Nicko pun menjauh. Nicko dan Rhea memperhatikan laki-laki itu, berjalan dengan langkah ringan. Mereka pun juga puas.
Pihak kampus Paralangit, fakultas teknik sipil, menginginkan arsitek untuk mendesain ulang bangunan baru mereka. Karena sebelumnya, mereka membatalkan kerja sama dengan pihak kontraktor yang mengambil keuntungan terlalu besar. Begitulah penjelasan singkat dari pak Krisna. Setelah Nicko dan Rhea memberikan ide, mereka nampak tertolong.
"Kerja yang bagus," kata Rhea pada Nicko. Nicko menoleh ke arah Rhea dan memperhatikannya sejenak.
"Kamu juga," kata Nicko. Membuat Rhea juga menengokkan kepala ke arah Nicko. "Kamu juga sudah melakukan yang terbaik," ungkap Nicko dengan tersenyum.
Jujur saja, saat mendengar Nicko mengatakan begitu, membuat Rhea tertegun. Nicko selama ini, belum pernah mengapresiasi pekerjaan Rhea. Sepertinya, baru kali ini. Rhea merasakan sebuah gemercik yang bekerja di dalam hatinya.
Rhea lalu segera memalingkan wajah dari saling tatap mereka. Ia mendadak merasa tersipu tanpa sengaja. Anehnya, meski Nicko berkata dalam hal pekerjaan, tapi yang muncul di kepala Rhea bukan seperti itu.
"Ngomong-ngomong, kita sedang di fakultas teknik sipil sekarang. Samping fakultas ini adalah fakultas arsitektur," kata Nicko lagi. Rhea hanya diam dan mengontrol hatinya yang sedikit tidak karuan.
"Karena kita sedang luang, kenapa kita tidak jalan-jalan ke fakultas kita dulu?" ajak Nicko.
"Boleh. Aku juga ingin melihat-lihat bagaimana perkembangan bangunan di sana," kata Rhea setuju.
Mereka berdua pun, berjalan menuju fakultas arsitektur. Tidak jauh memang. Hanya berkisar beberapa meter dari antar fakultas.
Sekali lagi. Ada percikan yang tersembunyi dalam raga masing-masing. Setelah melakukan pekerjaan berdua seperti ini, Rhea rasa hubungan mereka sudah menjadi lebih baik.
Nicko dan Rhea, sudah sampai di fakultas alumni mereka kurang dari dua menit. Mereka melihat-lihat sekitar fakultas, dan ternyata tidak jauh berbeda dengan saat mereka masih sama-sama menjadi mahasiswa. Hanya saja, Nicko lulus lebih dulu, dua tahun sebelum Rhea.
"Sepertinya, masih sama saja," kata Nicko pada Rhea.
"Hm ... mm ...." Rhea menganggukkan kepalanya dua kali.
Tiba-tiba, ada notifikasi pesan masuk di ponsel Nicko. Nicko mengambil ponsel dari saku dan melihat layarnya.
"Dari pak Krisna. Aku akan mengabari beliau dulu," kata Nicko pada Rhea.
Rhea lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya. Nicko pun menjauh dari Rhea untuk menghubungi atasan mereka. Rhea lalu berjalan mendekat ke arah tepi dan mencari tempat duduk di sana.
Rhea duduk di salah satu bangku yang menghadap ke lapangan. Di bangku itu, banyak menyimpan kenangan. Terlebih, bagi mereka berdua. Dulu, mereka sering duduk berdua di sini untuk saling mengobrol atau sekedar bercanda gurau. Bahkan, mereka sering datang ke sini setelah mereka menikah.
Satu moment terlintas di kepala Rhea. Waktu itu, Rhea tengah menunggu Nicko, suaminya, yang sedang ada urusan di kampus. Setelah menunggu, Nicko datang dengan membawakan wafel dari kantin fakultas. Membuat Rhea seolah kembali ke masa itu.
Tiba-tiba, tidak lama saat Rhea duduk di sana, Nicko datang setelah menghubungi pak Krisna. Dari arah samping, Nicko membawakan satu wafel yang baru saja Rhea bayangkan tadi. Nicko memberikannya pada Rhea.
"Ini, untukmu," ujar Nicko sembari menyodorkan salah satu tangan berisi wafel ke arah Rhea. Rhea pun menerimanya, dengan tersenyum.
"Terima kasih, Sayang," kata Rhea sambil tersenyum dan mengambil wafel dari Nicko.
Saat mendengar Rhea mengatakan begitu, membuat Nicko sedikit tersentak. Beberapa detik berjalan, tentu saja Rhea juga terkesiap sendiri. Seolah-olah, ia baru sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya.
Rhea membelalakkan kedua matanya, setelah sepenuhnya sadar. Mulutnya, menandakan bahwa isi kepalanya sedang mengulas memori lima tahun silam. Rhea mengerjapkan mata beberapa kali dengan panik.
"Ah! Aku sedang teringat drama yang baru aku tonton!" ujar Rhea cepat-cepat mencari alasan absurd.
Rhea lalu kembali memalingkan wajah dari Nicko. Segera melahap wafel yang baru saja ia terima dengan salah tingkah. Dalam hatinya, ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa, ia tidak bisa membedakan masa dulu dan sekarang?! Pikirnya.
Nicko yang melihat sikap Rhea itu, hanya tersenyum. Ia tahu, Rhea sedang salah tingkah. Ia lalu ikut duduk di samping Rhea.
"Ada apa dengan pak Krisna?" tanya Rhea segera mencoba mengalihkan rasa malunya. Membahas pekerjaan, adalah salah satu cara tercepatnya.
"Beliau sudah menerima kabar baik dari pekerjaan kita," jawab Nicko.
"Oh! Baguslah!" ucap Rhea dengan masih melahap wafel dengan tidak wajar. Ia tidak bisa menghilangkan sikap salah tingkahnya.
Saat Nicko ingin membahas sesuatu pada Rhea, mendadak ponsel Nicko kembali berbunyi. Nicko jadi tertahan. Ia kembali mengambil ponsel dan melihat layarnya. Rhea yang ada di sampingnya juga ikut melihat, ada panggilan masuk dari pak Krisna.
Nicko pun mengangkat panggilan pak Krisna. Ia berdiri dan berjalan menjauhi Rhea untuk menerima telepon dari pak Krisna. Rhea hanya diam dan melihat Nicko menjauhinya.
Setelah Nicko menjauh dari Rhea, Rhea segera mememejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ia benar-benar malu dengan apa yang baru saja ia katakan tadi. Kenapa, pikirannya tidak bisa jernih, dan bisa-bisanya ia memanggil Nicko, Sayang?!
Apa karena hari ini, hubungan mereka berdua sudah lebih baik? Tapi, mereka sekarang hanyalah rekan kerja. Tidak lebih! Rhea memukul-mukul kepalanya sendiri pelan. Terus mengumpat pada dirinya sendiri.
Rhea kemudian melahap kembali satu wafel yang tinggal setengah itu. Saat tinggal satu gigitan lagi, Rhea memperhatikan wafel tadi. Wafel ini, dari kantin fakultas. Rasanya sama sekali tidak berubah.
Jadi, tadi Nicko sempat ke arah kantin untuk membeli wafel ini? Pikir Rhea. Rhea lalu tersenyum sedikit, merasa bahagia. Ia lalu melihat ke arah kantin, yang juga tidak jauh berbeda dengan waktu itu.
Di samping kantin, ada sebuah gedung kuliah. Gedung itu, juga menyimpan sebuah kenangan yang mendalam. Rhea memperhatikan gedung tersebut. Di atas gedung itu, ada balkon yang sangat luas.
"Aku, menyukai kak Nicko."
Mendadak, Rhea terlintas akan suaranya sendiri. Di balkon atas gedung tadi, Rhea pernah mengungkapkan isi hatinya pada Nicko. Dan itu, menjadi sangat jelas sekarang.
"Aku, sudah sangat lama memendam perasaan pada kak Nicko. Kak, aku tahu, banyak yang menyukai kak Nicko. Tapi aku pastikan, akulah orang yang paling menyukai kak Nicko. Aku juga tahu, kak Nicko tidak akan bisa langsung membalas perasaanku. Tapi, mulai sekarang, biarkan aku menyukai kak Nicko, menjaga, dan melindungi kak Nicko sepenuhnya. Bisakah kakak menerimaku?"
Semakin lama, ingatan itu menjadi semakin jelas saja. Rhea bahkan sampai menitikkan air mata, saat mengingat kalimat yang keluar dari mulutnya waktu itu. Ia juga ingat, setelah menyatakan cinta pada Nicko, mereka berpelukan di atas balkon sana.
Rhea kemudian menyeka air yang menggenang di pelupuk matanya. Ia lalu berdiri dan berjalan ke arah gedung itu. Rhea rasa, ia tidak cukup hanya memandangi gedung itu dari bawah. Ia akan ke atas balkon dan menuruti perasaannya. Merekam lebih dalam, kenangan itu.
Rhea pun berjalan ke dalam gedung. Ia menaiki tangga untuk ke ujung gedung itu. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik, Rhea sudah sampai di atas gedung.
Rhea kemudian menuju ke arah balkon atas. Saat sudah berada di atas, Rhea terhenti. Ia melihat Nicko yang juga ada di sana. Membuat Rhea terdiam berpikir.
Nicko tidak menyadari jika Rhea baru saja datang, karena Nicko berdiri membelakangi Rhea. Bukankah, tadi Nicko sedang menerima telepon dari pak Krisna? Sejak kapan Nicko berada di sini?
Tepat pada saat itu, Nicko membalikkan badannya. Ia pun melihat Rhea yang berdiri di sana. Terjadilah saling tatap di antara mereka, dengan jarak tidak begitu jauh. Apa jangan-jangan, Nicko juga sedang meresapi kenangan antara mereka berdua? Pikir Rhea.