Diana yang Kesal

1031 Kata
Rhea mengembalikan dua buku tebal pada Nicko. Ia mengambrukkannya di atas meja Nicko. Membuat Nicko yang tadinya konsentrasi di depan komputer, menjadi terkejut. "Apa ini Rhe?!" tanya Nicko melihat Rhea berdiri di samping mejanya setelah meletakkan dua buah buku tebal itu dengan sedikit kasar. "Kenapa bertanya? Jelas-jelas, ini buku yang pak Nicko berikan pada saya!" jawab Rhea dengan sikap santai. Nicko kemudian menjauh dari layar komputernya. Ia menundukkan kepala dan menghela nafasnya, sambil menutup kedua matanya. Sekian detik, ia kembali mengangkat kepala dan menatap Rhea setelah mengatur emosinya. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kamu akan melakukan mogok kerja dan akan melapor ke Bu Wanda?" tebak Nicko. "Saya mengembalikan dua buku tebal ini karena saya sudah meringkas semuanya," jawab Rhea masih dengan nada sama. Membuat Nicko mendengarnya dengan saksama. "Saya juga sudah menyelesaikan tugas dari pak Nicko. Silahkan cek email pak Nicko untuk memeriksanya," ujar Rhea lagi dengan menyedekapkan kedua tangannya. Nicko terdiam sejenak. Ia lalu membuka emailnya. Ternyata benar kata Rhea. Rhea benar-benar menyelesaikan semua perintah darinya. Dari sini, Nicko akui ia cukup terkesan dengan Rhea. "Aku akan mengeceknya nanti," kata Nicko dengan ekspresi wajah datar. Sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia cukup kagum pada Rhea. "Apa anda puas?" tanya Rhea. "Mana mungkin aku puas? Ini masih tugas pertama," jawab Nicko santai. Rhea hanya memutar kedua matanya ke atas dan menggelengkan kepalanya sedikit. Rhea lalu berbalik arah. Ia akan kembali ke meja kerjanya. Nicko melihat ke arahnya sebentar, dan segera memanggil Rhea. "Eh ... Eh! Mau ke mana kamu?!" cegah Nicko membuat Rhea terhenti. Ia lalu berbalik kembali ke arah Nicko. "Sudah tentu mau kembali ke meja kerja saya, Pak," jawab Rhea. "Kenapa buru-buru?" tanya Nicko lagi. "Memangnya kenapa? Apa ada lagi yang harus saya kerjakan?" "Tentu saja ada. Kamu pikir setelah ini sudah selesai?" ungkap Nicko lagi. Rhea hanya menghela nafas, menahan kekesalan dari Nicko. Namun, ia terus mencoba untuk bertahan. "Jadi, apa yang akan saya kerjakan kali ini?" tanya Rhea. "Ikut aku ke gedung C2. Bawa semua peralatan yang kamu perlukan di sana. Mungkin kita akan pulang malam nanti malam," ujar Nicko. Mendengarnya, Rhea masih berpikir mencerna kalimat Nicko. Ia menautkan kedua alisnya untuk memahami apa yang Nicko perintahkan untuknya. Nicko yang tadinya fokus di depan layar komputer, lalu berdiri dari duduknya. "Kita akan mengawasi jalannya proyek di gedung C2," lanjut Nicko lagi. Satu detik, Rhea butuh waktu untuk memprosesnya lagi. Setelah itu, wajah Rhea segera berubah menjadi sumringah. Ia melebarkan kedua mata dan mengembangkan senyumannya, namun masih belum memberi respon apapun pada Nicko. "Apa kamu dengar? Kenapa tidak menjawab?" tanya Nicko melihat ke arah Rhea. "I ... Iya, Pak. Saya mengerti! Saya akan membawa dokumen yang perlu dibawa ke sana!" jawab Rhea antusias. "Tidak perlu membawa apapun. Ini masih hari pertama. Bawa satu buku kecil saja untuk mencatat hal yang penting di sana nanti, karena kita akan berkomunikasi dengan kontraktor di sana," ujar Nicko lagi. "Baik, Pak! Saya akan segera siap-siap!" ungkap Rhea dengan semangat. Rhea lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah mejanya. Wajahnya nampak sangat senang saat kembali ke meja. Nicko memperhatikan Rhea, lalu ia tersenyum kecil melihat ekspresi Rhea tersebut. Jujur saja, melihat Rhea yang sangat senang seperti itu, membuat hatinya juga bahagia. *** Diana baru memasuki kantor. Ia membawa lima kotak berisi brownies yang sangat enak. Saat melewati pintu, ia melihat Anton dan Wisnu di dalam kantor. Begitu juga dengan dua arsitek laki-laki yang juga melihat ke arah Diana yang baru datang. "Halo Di? Apa kamu baru datang?" sapa Anton. "Sudah jelas iya. Masih bertanya?!" jawab Diana ketus. "Kamu bawa apa itu? Baunya enak sekali?" tanya Anton lagi. "Bukan urusanmu!" jawab Diana lagi dengan nada yang sama. "Eh! Sudahlah!" bisik Wisnu pada Anton. "Jangan ganggu lagi!" tambah Wisnu lagi. "Aku pikir, saat kenalan dengannya kemarin, dia ada masalah. Tapi, ternyata dia memang galak. Berbeda dengan Rhea yang ramah dan manis itu," kata Anton pelan pada Wisnu. Diana menaruh tasnya di atas meja. Ia kemudian berjalan ke arah meja Nicko dengan membawa brownies yang ia letakkan dalam kantung plastik. Saat sudah sampai di meja Nicko, Diana melihat meja Nicko nampak kosong sekali. Tidak biasanya. Diana merasa aneh melihatnya. Tidak mungkin Nicko belum datang. Kemudian, ia melihat ke arah Anton dan Wisnu yang tengah fokus membaca lembar kertas di meja salah satu meja kosong yang ada di sana. "Ngomong-ngomong, kenapa kalian di sini?" tanya Diana pada Anton dan Wisnu, membuat Anton dan Wisnu menoleh ke arah Diana. "Kami disuruh pak Nicko untuk memilih dokumen yang ia butuhkan untuk dikirim ke gedung C2," jawab Wisnu. Diana menautkan kedua alisnya mendengar jawaban Wisnu itu. "Memangnya kemana pak Nicko?" tanya Diana lagi. "Dia sedang melakukan pengawasan di gedung C2 dengan Rhea," jawab Wisnu lagi. "Rhea?!" ulang Diana. "Ya. Tadi pagi mereka pergi. Tadi pak Nicko juga sempat berpamitan dengan kami," tambah Anton. Diana semakin kesal mendengarnya. Ia yang sudah ada di meja Nicko, tidak jadi memberikan brownies di meja Nicko. Ia membawanya kembali ke arah mejanya. "Kalian berdua apa bisa istirahat sebentar?!" tanya Diana yang tidak sadar sedang menaikkan nada bicaranya. Membuat Anton dan Wisnu kembali menoleh ke arah Diana lagi. Mereka berdua melihat Diana yang berjalan kembali ke mejanya dengan wajah nampak kesal. Anton dan Wisnu lalu saling pandang dan bertanya-tanya. "Kenapa memangnya?" tanya Anton pada Diana. "Makanlah! Semua brownies ini untuk kalian!" tawar Diana, masih dengan nada kesal. Membuat Anton dan Wisnu melebarkan kedua matanya degan agak kaget. "Kamu, tidak salah menawari kamu makan?" tanya Wisnu sekali lagi. "Ayo makan! Kalau bisa, habiskan semua brownies ini! Panggil teman-teman yang lain juga untuk ikut makan!" tambah Diana lagi. Diana segera mengambil satu kotak brownies dari bungkus plastik yang dibawanya. Ia lalu segera membukanya dengan agak kasar, karena menahan kekesalan. Anton dan Wisnu pun, kembali saling pandang. "Apa yang kau tunggu? Ayo, makan!" ajak Anton menyenggol bahu Wisnu. Wisnu pun menaikkan kedua alisnya beberapa kali dan menganggukkan kepala. Mereka berdua pun segera meninggalkan kerjaan mereka sebentar. Berjalan mendekat ke arah meja Diana. "Kamu, yakin memberi kami brownies ini?" tanya Wisnu memandangi Diana. "Tentu saja! Kalian bisa membawanya pulang kalau tidak habis!" jawab Diana lagi. Diana kemudian mengambil satu potong brownies cukup besar. Ia segera memasukkannya ke dalam mulut. Dengan harapan, kekesalannya bisa terobati dengan makan makanan yang manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN