4 - Kamar Gera

1077 Kata
Flora menaiki tangga menuju lantai dua. Di mana Gina sudah memberi arah padanya mengenai letak kamar Gera. Berada di paling ujung dengan pintu berwarna putih. Dan di sinilah Flora berada sekarang. Dengan penuh keberanian, Flora tidak mengetuk pintu kamar Gera. Dia segera membukanya perlahan-lahan. Tidak ada cahaya kecuali pantulan matahari senja dari jendela di sisi kiri yang belum terlihat oleh Flora. "Iya sayang, aku bakal balik secepatnya." "Udah sebulan loh kamu nggak samperin aku, kan aku kangen." Dahi Flora mengernyit bingung dan tidak suka saat mendengar suara wanita yang merajuk memasuki telinganya. Sebelumnya suara Gera yang sangat lembut juga disadari oleh Flora. Sayang? Berani sekali calon suaminya mengucapkan sayang pada wanita lain. Flora membuka pintu kamarnya lebih besar lagi. Barulah terlihat punggung kekar Gera tanpa atasan membelakanginya. Sepertinya Gera tengah menatap laptop yang menjadi perantara Gera dan wanita manja itu. Tidak bisa Flora biarkan. "Ya ampun calon suami! Kamu udah buka baju aja?! Duh, aku kan udah bilang kamu harus tahan sampai malam pertama kita nanti!" Gera melotot terkejut menghadap Flora yang masuk ke dalam kamar usai menutup pintu. Cepat-cepat dia meraih bantal untuk menutupi perut kotak-kotaknya. Sebenarnya Gera senang saja memamerkan betapa kerennya tubuh dia itu. Tapi khusus Flora, Gera menjadi takut kalau gadis itu melakukan yang tidak-tidak padanya. "Sayang! Itu siapa!" Flora baru menatap wanita berambut pirang itu dari layar laptop Gera. Dia melangkah lebih maju ke arah laptop sembari merangkul tubuh Gera yang masih terbeku menatapnya. "Hai! Temennya Gera di Aussie ya? Kenalin, gue Flora, calon istrinya Gera." Sebisa mungkin Flora tersenyum ramah agar tidak terlihat kalah oleh wanita itu. "Bukan! Dia adik aku, sayang," elak Gera berbohong sembari menyikut tubuh Flora yang berada di sebelahnya. "Iya deh yang lebih tua 8 tahun, yang suka nemenin aku pipis dulu," sindir Flora tersenyum menang saat Gera melotot marah ke arahnya. "Kamu nemenin dia pipis?! Heh anak kecil! Jangan keganjenan lo ya!" Baiklah, situasi semakin seru dan sesuai seperti yang Flora harapkan. Sekarang tujuannya hanya satu, membuat wanita manja itu semakin marah padanya dan mematikan sambungan video call mereka. "Sayang, temen kamu kasar banget deh, belain aku dong," rajuk Flora dan menunduk memeluk erat bahu Gera tersebut. "Flora!" bentak Gera melepaskan pelukan Flora itu dengan kasar. "Bella sayang, nanti aku telepon lagi ya." "Bye! Kita mau ena-ena!" seru Flora tepat sebelum panggilan mati. Kini, dia harus melawan raja hutan ngamuk yang sudah berdiri di hadapannya. Tetapi tenang, Flora sudah memiliki senjatanya. "Lo apaan sih?! Kenapa lo ke sini?!" "Ya kan kangen calon suami, emang gak boleh?" Flora tersenyum malu dengan jemari yang memainkan ujung rambutnya. Sebelumnya maaf nih, tetapi Flora rasa dia tidak akan mendongakkan kepalanya untuk menatap Gera. Apa yang terlihat di hadapannya ini jauh lebih menarik dari segala hal apapun. "Jangan liat-liat!" gertak Gera dan memakai kaos putih polosnya dengan cepat. "Ya orang keliatan, gimana gak liat," gerutu Flora kesal sendiri. "Kenapa lo bisa masuk ke sini? Mama gak mungkin kasih." "Terus menurut lo gue nyusup gitu?" Gera melirik sipit curiga. "Ya mungkin aja, kenapa nggak?" "Ck! Lo gak mau peluk gue atau apa gitu? Gue udah samperin lo jauh-jauh loh!" "Peluk? Geli!" "Ya udah gue aja yang peluk lo." "Apa sih!" Gera mendorong kembali tubuh Flora yang baru saja ingin mendekap tubuhnya. Demi apapun, kenapa gadis ini selalu membuatnya merasa terancam? Entah sudah berapa pelecehan seksual yang Flora lakukan padanya. Jika dilaporkan ke polisi, Gera yakin dia akan menang. "Ya udah gue gak akan pulang." Flora merebahkan tubuhnya di atas kasur abu-abu milik Gera. Tentu saja membuat sang pemilik memijat keningnya. "Pergi, sebelum gue makin marah." Gera menarik lengan Flora secara paksa. Namun Gera heran, dia sedang menarik gadis 17 tahun atau karung beras sih? Kok berat sekali. Ditambah Flora yang memberontak. "Gak mau!" "Cepet! Pulang gak!" "Gak mau! Lepas!" "Kok galakan elo sih! Pulang!" Gera masih menarik-narik lengan Flora agar gadis itu menjauh dari kasurnya. Namun tiba-tiba Gera terdiam melongo melihat aksi Flora selanjutnya "AAAAAH!" Kenapa tiba-tiba Flora teriak? Bukankah seharusnya Gera yang teriak karena ada penyusup masuk ke kamarnya? Brak! "Flora? Kamu gak apa-apa?!" seru Gina panik. Matanya melotot marah ke arah Gera yang masih memegang tangan Flora itu. "Kamu apain Flora?!" "Gak aku apa-apain kok!" "Anak nakal!" Gina memukul-mukul lengan Gera yang mencoba melindungi wajahnya. Walaupun terlihat pukulannya tidak begitu keras, Gera masih merasa perih. Kekesalannya semakin menambah saat melihat Flora yang sudah berdiri tida jauh dari Gina dengan senyuman puasnya. Flora mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedih saat Gina berbalik dan memeriksa tubuhnya. "Kamu gak diapa-apain, kan? Bilang sama Tante kalau Gera lakuin sesuatu yang aneh-aneh sama kamu." "Belom kok, Tante, untung Tante langsung masuk tadi." Gina bernafas lega kemudian memeluk erat tubuh Flora. Sekarang Gera merasa dipojokkan seperti kambing congek. Menatap datar kedua wanita penuh drama itu. Apa iya dia harus memasang CCTV untuk menghindari kejadian seperti ini terulang kembali? Flora sudah seperti kriminal di mata Gera. "Ayo kita ke bawah saja, nanti kalau om Henry pulang, kamu ngadu aja ya? Tante bantuin." "Iya, Tante." "Loh, aku kan gak apa-apain dia!" "Diem kamu! Dasar m***m! Gak bisa lihat cewek cantik sedikit ya?! Tahan dong sampai menikah nanti!" Gina segera menarik Flora untuk beranjak dari kamar Gera. Dan sebelum keluar, Flora memeletkan lidahnya pada Gera. Rasanya puas sekali selalu menang di setiap situasi bersama Gera. Flora tidak peduli jika Gera marah padanya, lagipula pria itu akan berujung menjadi suaminya. Dan ingat, tidak ada cerai diantara mereka. º~º "Gera, Papa tau kalau kamu ini pria normal. Memiliki hasrat pada perempuan, apalagi kalau cantik seperti Flora. Tapi ingat dong, Flora masih berumur 17 tahun. Dia belum siap melakukan hal-hal seperti itu." Apanya belum siap? Orang minta melulu dari awal! Gera mendengus pelan mendengar teguran Henry itu. Ini semua karena Flora dan mamanya yang langsung mengadu pada Henry saat pria itu pulang ke rumah. Lagi-lagi Gera yang disalahkan. Lihat saja ekspresi Flora saat ini, sok dipolos-poloskan! "Iya, Pa." "Kalau mau minta, harus diomongin dulu baik-baik. Jangan asal dorong ke kasur," lanjut Henry yang lagi-lagi dibalas anggukkan pasrah oleh Flora. "Flora, maafin Gera ya. Dia kelamaan tinggal di Aussie, jadi begini deh." "Iya gak apa-apa, Om, aku ngerti kok." "Baguslah, jadi masalahnya sudah selesai ya?" Flora dan Gera mengangguk bersama di ruang tamu tersebut. "Kamu ikut makan malam dulu yuk sebelum pulang, jangan sampai kemalaman juga pulangnya." Flora mengangguk nurut dan segera ikut dengan Gina menuju ruang makan. Sebelum Flora duduk di kursi sebelah Gera, dia membisikkan sesuatu secara diam-diam. Bisikan yang langsung membuat lapar Gera musnah entah kemana. "Ditahan dulu ya calon suami."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN