3 - Ngapel

1301 Kata
Sejak kapan keramik sekolah lebih menarik daripada wajah-wajah manusia? Mungkin sejak wajah-wajah itu menunjukkan ekspresi sinisnya pada Flora. Baru saja melangkah memasuki gerbang SMA Dynamic, Flora sudah merasakan hawa-hawa tidak enak di sekelilingnya. Jika biasanya para murid tersenyum atau setidaknya tidak acuh padanya, kini Flora bagaikan segumpalan kentut yang membuat orang mendecih kesal. Penyebabnya sudah pasti karena undangan pernikahan tiba-tiba Flora yang mereka dapati Minggu lalu. Namun kenapa jadi mereka yang kesal? Bukankah seharusnya Flora yang gondok karena harus menjadi ibu rumah tangga dini? Ah, tetapi bagaimana bisa gondok jika suaminya saja setampan Gera. Flora percaya, jika nanti mereka datang ke pernikahan dirinya, para gadis akan mengiri setengah mati melihat suaminya itu. Mengayallah setinggi mungkin, karena mereka tidak akan bisa mendapatkan pria setampan Gera. Flora tersenyum sinis lalu mengibaskan rambut panjangnya itu dengan percaya diri. Tentu membuat sekitarnya semakin mual melihatnya. "Pasti Flora hamil di luar nikah." "Masa baru umur 17 udah nikah, mau jadi apa entar." "Ah, paling dijodohinnya sama om-om, mau bangkrut kali keluarganya." "Atau emang Floranya aja kegatelan mau nikah muda, kebelet kali dia." Flora mengernyit tidak suka saat mendengar fitnah-fitnah yang keluar dari mulut siswi butek dekat kelasnya. Tanpa basa-basi, Flora berjalan lebih cepat menuju mereka. "Heh cewek-cewek butek! Asal lo tau ya! Gue ini cantik dan laki gue tergila-gila sama gue! Saking takutnya gue direbut orang, dia mau nikahin gue pas gue legal!" Seluruh murid yang ada di lorong kelas 12 itu mengerubuni Flora dan keempat siswi yang kini merapat gemetar. Flora tersenyum cemooh dengan tangan melipat di depan d**a. "Kalo modelan kalian sih, agak susah buat bikin cowok takut kehilangan kalian. Mungkin mereka justru takut kalo kalian yang jadi jodohnya beneran." Emi dan Jimmy yang mendengar ada keributan di depan kelas yang melibatkan Flora, mereka segera menerobos kerumunan. Emi menarik lengan Flora agar menjauhi keempat siswi tersebut. "Flo! Jangan ngada-ngada deh!" bisik Emi jengkel. Baru saja masuk kelas, sahabatnya ini sudah menyerang siswi lain yang menghinanya. "Bubar! Bubar! Berantemnya udah selesai!" Jimmy mengusir para murid yang berkumpul mengitari mereka. Termasuk keempat siswi yang tadi diserang oleh Flora. Sedikit informasi saja, Flora tidak takut untuk melawan siapapun yang mengganggunya. Meskipun itu adalah guru atau orang tua murid sekalipun. Bukannya jahat, tetapi Flora tidak suka mengalah atas hal yang tidak benar. Berbeda jika dia yang salah, Flora akan meminta maaf. Tetapi itu jarang terjadi. Mungkin hanya saat Flora salah menyapa orang yang dia kira Emi dan ternyata bukan. Dia akan bilang maaf. Begitu Flora melihat tidak ada lagi murid yang berlalu-lalang, dia berjalan ke arah pembatas yang menampilkan lapangan basket dari lantai dua itu. Flora menghembuskan nafasnya kasar.  "Jadi kemaren gimana? Lo udah bilang kan kalo lo mau cerai?" desak Emi tidak sabar. "Jangan bilang dia tergila-gila sama lo beneran?" tanya Jimmy. Flora terdiam menatap Emi dan Jimmy bergantian. Wajahnya jengkel akibat empat siswi tadi berganti dengan rona merah berseri-seri. Membayangkan wajah Gera saja Flora sudah salah tingkah sendiri. "Kok lo senyum-senyum? Kenapa sih?" Emi benar-benar heran dengan sikap Flora yang berubah-ubah. Tadi kesal, kini berseri-seri seperti bunga. "Gue gak akan cerai sama Gera," ucap Flora tersipu-sipu. "Loh kok? Kenapa? Dia gak mau?" cecar Jimmy mulai tidak suka. "Bukan dia yang gak mau, gue yang gak mau." "Why?" tanya Emi sekali lagi. "Lo harus liat betapa tampannya calon suami gue, ganteng banget, Mi! Lo bakal syok deh entar kalo ketemu!" ungkap Flora sangat bahagia. Bahkan pandangannya menatap ke arah atas sembari membayangkan wajah Gera. Belum 24 jam berpisah saja, Flora sudah rindu Gera. "Jadi lo suka sama cowok itu?!" Emi terperangah tidak percaya atas ungkapan yang baru saja Flora katakan. Flora mengangguk dengan senyuman berserinya. Jimmy dan Emi menghela pasrah seketika. Padahal mereka juga tidak ingin sahabatnya ini terjebak dalam rumah tangga yang Flora tidak inginkan. Apalagi Flora tidak mengenal calon suaminya dengan benar. Pasangan yang sudah pacaran bertahun-tahun saja bisa cerai, apalagi dua orang asing yang tiba-tiba memiliki tanggung jawab besar seperti itu. "Tenang aja, gue sama Gera gak akan cerai. Ternyata gue pernah ketemu dia pas masih kecil, tapi gue lupa aja." "Lo yakin? Kalo lo kenapa-napa, lo harus bilang sama gue," tegas Jimmy serius. "Iye-iye, lo berdua harus ketemu Gera dulu deh. Biar tau seseksi apa makhluk cipataan Tuhan itu." "Gue jadi penasaran sama cowok itu, seganteng apa sih?" Sebagai perempuan normal yang mencintai pria tampan, Emi juga penasaran akan sosok Gera tersebut. Jika Flora saja dapat bertekuk lutut, sudah pasti gantengnya bukan kaleng-kaleng. "Kalo ada waktu sebelum hari-H, gue ajak lo berdua ketemu deh." "Cepet masuk kelas yuk, entar telat." Flora dan Emi berjalan mengikuti Jimmy yang lebih dulu masuk ke kelasnya. º~º Flora berguling di atas kasurnya bosan. Pulang sekolah tidak melakukan apa-apa selain memainkan ponselnya. Tetapi yang membuatnya cukup resah adalah kumpulan rasa rindunya terhadap Gera di hati. Ingin rasanya Flora menelepon, mengirim pesan, atau bertemu dengan Gera. Tapi gimana caranya? Boro-boro alamat rumah, nomor teleponnya saja Flora tidak tahu. "Tunggu, kalo Gera anak dari keluarga Armanto, harusnya Gera satu rumah sama om tante, kan?" Flora mendecak kagum atas jalan pikir otaknya sendiri. "Gue ke sana aja kali ya?" Ribet berpikir lama-lama, Flora segera mengganti baju yang cantik. Memakai riasan tipis dan tidak lupa parfum mahal yang pasti memanjakan indera penciuman. Flora mengambil kunci mobil pribadinya dan segera menuju rumah Gera Armanto. Setelah KTP dan SIMnya jadi, Flora jadi lebih bahagia. Dapat kemana saja dengan umur legalnya. Memang norak sih, tetapi wajar saja kan? Untung saja Flora masih ingat akan rumah yang dia kunjungi beberapa bulan lalu. Rumah mewah milik keluarga Armanto. Pengusaha hebat dalam bidang tekstil yang sudah mengekspor ke berbagai negara Asia. Tidak perlu diragukan lagi berapa luas rumah dari keluarga Armanto itu. Flora turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah itu saat pelayan memepersilahkannya. "Flora, kamu datang sendiri?" sapa Gina segera menghampiri Flora dengan senyuman bahagianya. "Halo, Tante. Iya, aku datang sendiri." "Sini, duduk. Duh, Tante padahal mau banget ke rumah kamu buat ketemu sama kamu dan keluarga." Flora dan Gina segera duduk di sofa ruang tamu. "Boleh banget, Tante! Geranya jangan lupa diajak ya, Tante." Gina tertawa geli melihat Flora yang seketika menunduk malu-malu. Dirinya yang sudah mengenal Flora sejak kecil, merasa kalau Flora adalah perempuan paling cocok untuk menemani putranya sampai tua nanti. Gina tahu sikap berani Flora yang terkadang membuat orang-orang geleng kepala. Tetapi Gina justru menyukai sikap Flora tersebut. Terlihat jujur dan apa adanya. "Gimana kemarin pas ketemu Gera? Dia seneng gak?" Flora tersenyum kikuk bingung harus menjelaskan bagaimana. Seharian Flora tidak melihat raut bahagia Gera kemarin. Yang ada malah mengajaknya untuk cerai. "Ya gitu deh, Tante, gara-gara baru ketemu, jadi Gera masih malu." Keduanya tertawa pecah membayangkan Gera. Kalau masalah malu, ya memang tidak salah. Wong diajak masuk ke rumahnya pas sepi saja Gera menolak. Apalagi jika bukan karena malu? Itu yang ada dipikiran Flora. "Padahal dulu dia yang nemenin kamu pipis pas kecil. Sekarang aja malu-malu." "Yang bener, Tante? Memangnya Gera mau nemenin aku pipis gitu?" Gina mengangguk lalu kembali tersenyum geli. "Duh, dia tuh selalu pasrah aja kalau kamu ajak dia ini-itu." "Aku baru tau tentang itu, Tante." Flora meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia jadi heran, selama ini otaknya ngapain saja sih? Kok ingatan 13 tahun lalu tidak ada yang nyangkut satupun? "Kamu masih umur 4 tahun, sayang. Wajar kalau kamu lupa." "Iya ya, Tante." "Kamu mau ketemu Gera ya? Dia lagi ada di kamarnya, Tante suruh pelayan panggil dia saja ya." "Ah gak usah, Tante." Flora menghentikan niat Gina yang hendak memanggil seorang pelayan. "Aku aja yang panggil, boleh?" Gina tertawa sekilas dan mengelus pelan kepala Flora. "Ya sudah, kalau Gera melakukan hal-hal aneh, langsung teriak saja ya? Tante hajar nanti." Flora tersenyum lebar sembari menganggukkan kepalanya. Ya walaupun dia tidak yakin Gera akan melakukan hal yang ada di pikiran Gina. Jika iya pun Flora pasti akan teriak. Tetapi bukan meminta pertolongan. Melainkan... ya tahu sendirilah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN