19 - Gak Pake Bra

1008 Kata
"Suamiku! Istrimu pulang sama cowok lain!" seru Flora masuk ke dalam apartemen usai pulang sekolah. Sebenarnya dia tidak langsung pulang, tetapi menghabiskan waktu sebentar dengan dua sahabatnya di mall. Biasalah, hidup seorang remaja SMA walau statusnya bukan lagi gadis biasa. Asik. "Sama siapa?" Gera datang dari dapur yang sudah menggunakan pakaian biasa. Dia sudah pulang sejak tadi. Bukan Gera yang terlalu cepat pulang dari kantor, tetapi Flora yang kemalaman untuk pulang. "Jimmy." "Oh." Flora melepas sepatunya lalu mengikuti Gera ke dapur. Ada beberapa makanan yang berjajar di atas meja makan. Alisnya mengerut heran. Sudah pasti bukan Gera yang masak karena semua makanan itu berada di sebuah tupperware. Ini pasti kerjaan ibu-ibu. Tetapi hari ini tidak ada berita kalau ibunya atau ibu mertua datang ke rumah. Jika iya, sudah pasti berisik di grup WA mereka semua. "Dari siapa ini? Mama?" Flora mengambil satu bakwan dan menggigitnya. "Hm, enak! Dari siapa?" "Dinda." "Uhuk! Uhuk!" Flora melempar bakwan yang dia ambil ke tempatnya lalu segera mengambil air meneral dan meneguknya. Jangan harap Gera khawatir melihat Flora yang kelabakan karena tersedak bakwan. Dia hanya menonton aksi konyol itu sambil bersandar di dinding. "Kenapa bisa ada Dinda?! Lo selingkuh lagi?!" jerit Flora galak. "Enak aja! Dinda tetangga kita, dia tinggal satu lantai di atas sama Dimas." "Terus?! Kenapa dia dateng pas gak ada gue?!" Flora masih tidak terima kalau suaminya bertemu dengan cinta pertamanya. Malah pas sekali saat dia tidak ada. Mana Flora tahu kalau Gera ada apa-apa dengan Dinda. Jika itu benar terjadi, Flora akan benar-benar marah. Dia tidak segan untuk memaksa Gera bikin anak malam ini juga. "Ya lo pulang malem banget! Tadi dia mau ajak kita makan malam bareng di kamarnya, tapi pas tau lo gak ada, dia cuma kasih makanan ini. Semuanya dia yang masak. Enak, kan?" Flora masih menatap sinis pada Gera dan mengangguk-angguk. "Bagus ya, kalo ngomongin Dinda langsung bawel." "Ck! Sana mandi, lo bau matahari!" Gera pergi meninggalkan Flora dan duduk di sofa ruang nonton. "Dasar nyebelin! Duh, ini bakwan enak banget lagi," desis Flora kesal tetapi tidak bisa mengelak kalau masakan Dinda memang enak. º~º "Suami... udah tidur belom?" Flora mendekat ke arah Gera yang membelakangi tubuhnya. Dia sangat sulit tidur karena tadi sok-sokan minum kopi bersama Gera. Hanya demi bisa duduk berdua dan berbincang mesra dengan sang suami. Ya walaupun tidak ada yang dibicarakan tadi. "Hmmm." Gera hanya bergumam malas. "Gue gak bisa tidur," rengek Flora menempelkan kepalanya pada punggung bidang Gera. Hanya sedekat ini saja, jantungnya naik-turun tidak jelas. Apalagi jika... ah ini sudah malam jangan berpikir aneh-aneh. "Jangan nempel-nempel." "Lagi apa sih?" Flora bangkit setengah untuk mengintip apa yang Gera lakukan. Di tengah kegelapan kamarnya, dia melihat layar ponsel Gera menerangi wajah suaminya itu. Flora mendesis kesal dan kembali menghempas tubuhnya tidur. "Daripada main hp, mending ngobrol," ucap Flora sebal. "Mau ngobrol apa?" Gera meletakkan ponselnya dan berbarang lurus menghadap langit-langit. Sama seperti yang Flora lakukan. Baik, ini pertama kalinya Gera mengiyakan permintaan Flora untuk berbicara. Tidak sia-sia meminum kopi hitam sampai mual tadi. Flora harus menggunakan kesempatan ini dengan baik. "Cerita dong, dulu lo sama gue gimana sih pas masih kecil?" Flora menghadap Gera yang masih menatap langit-langit. "Ya gak gimana-gimana." "Ih, masa gak inget apa-apa?" "Emang lo mau gue inget apa?" tanya Gera mulai kembali jutek. Ok, Flora harus hati-hati. "Gue bandel gak dulu?" "Bandel, gak bisa diem apalagi kalo ketemu Romy." Flora membulatkan matanya karena baru tahu hal tersebut. "Oh ya? Kok bisa?" Gera hanya menaikkan bahunya tidak tahu. "Terus lo pas pertama kali ketemu gue, kesan pertamanya apa?" "Ya... anak kecil, lo kan umur 4 tahun waktu itu. Gue udah 12 tahun." Flora mengangguk-angguk mengerti. "Lo punya pacar waktu itu?" "Punya, tapi bentar doang." "Siapa? Kok gue gak tau?" Setiap membicarakan kisah cinta Gera, Flora kesal sendiri. Dia cemburu dengan semua wanita yang pernah mendapatkan tempat spesial di hidup Gera. "Ngapain lo tau? Gak penting." "Putusnya kenapa?" "Dia suka cowok lain." "Mampus! Pasti gara-gara lo nyebelin, kan?" Flora tergelak tawa membuat raut wajah Gera tertekuk kesal. Lebih baik suaminya disakiti agar tidak ada lagi cinta-cintaan yang tersisa di hatinya. "Udahlah! Tidur aja!" "Eh! Eh! Iya deh, bercanda...." Flora mengelus lembut punggung Gera yang sudah menjadi pemandangannya sekarang. Suaminya itu masih membelakanginya. Bahkan menggerakkan tubuhnya agar tangan Flora menyingkir. Flora sudah biasa mendapat tindakan menyebalkan dari Gera. Marah? Ya tidak juga, dia sudah digilai oleh cinta. Flora mengerti kalau Gera belum siap menerima perjodohan mereka. Apalagi mempunyai kekasih yang aneh dan memiliki masalah temper di Australia. Inikah sulitnya menikahi pria tampan idaman para wanita? Tetapi Flora bersyukur sekarang bisa satu kasur dengan Gera. Baru beberapa hari bersama Gera sang suami, tekad Flora semakin bulat. Dia tidak akan membiarkan Gera menceraikannya. Dia harus bisa melakukan segala cara agar pria itu menyukainya. "Suami, ayo cerita lagi," bujuk Flora dan kini sudah memeluk tubuh Gera dari belakang. Ini pertama kalinya Flora berani melakukan skinship seperti ini. Anehnya, Gera tidak berontak. "Lepas." "Gak mau, gue kan istri lo." "Lepas, Flo! Gue masih baik ini!" "Gak mau!" "Lo gak pake bra!" Pelukan Flora terlepas karena Gera bangkit duduk dengan gelisah. Perkataan terakhir Flora menyadarkan dirinya sehingga dia memeriksa tubuhnya sendiri dari balik piyama merah mudanya itu. "Oh, kata mama tidur pake bra itu gak bagus." "Ya- ya udah! Jangan peluk-peluk kalo gitu!" Flora menaikkan alisnya dan tersenyum miring. "Kenapa?" "Lo kira gue tergoda? Gak!" Gera berseru, namun jakunnya naik-turun meneguk air liurnya sendiri. Sebisa mungkin matanya tidak menatap Flora yang kini menumpuh kepalanya dengan siku. "Yakin? Gak mau liat?" Flora menarik ujung piyamanya sangat pelan. Dia ingin lihat seberapa bisa Gera menahan egonya itu. "Flo, stop ya!" "Dikit aja deh-- AW! Gila lo ya!" Flora mengaduh kesakitan dan sangat kesal dengan tindakan sang suami. Istri mana yang tidak marah jika didorong hingga jatuh dari kasur?! Flora bangkit berdiri dan melotot marah pada Gera yang membelakanginya. Tangannya naik ke udara hendak memukul tubuh Gera yang terbalut selimut tebal itu. Tetapi Flora harus sabar, dia memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya pelan. "Gera, jangan harap lo bisa balik sama Bella dan minta jatah! Gue hajar langsung!" "Berisik!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN