18 - Istri Tapi SMA

1108 Kata
"Anterin gue dong, suami!" "Gak mau, gue sibuk!" Flora terus mengikuti langkah Gera menuju dapur dan ruang nonton. Seragam SMAnya sudah membalut tubuhnya sejak pagi hari. Walau semalam sempat menangis dan kesal dengan Gera, Flora tidak ingin larut terlalu lama. Dibaikin saja Gera menjauh, apalagi dijauhi bisa-bisa hubungan mereka akan seperti orang asing yang tinggal satu atap. "Terus gue berangkat ke sekolah sama siapa? Ini udah jam setengah 7, Ger!" Benar-benar nih suami, Flora bisa gila dengan kekejaman. Disuruh antar ke sekolah saja tidak mau. Padahal kantor Gera, lebih tepatnya milik sang mertua, buka pukul delapan pagi. Boleh gak sih Flora curiga dengan Gera yang ingin pergi terlalu pagi ini? "Flo, jaman sekarang udah canggih, pake aja ojek online. Siapa suruh gak mau bawa mobil pribadi lo!" oceh Gera yang saat ini ingin memasang dasinya. "Sini gue aja yang pakein." Flora merebut paksa kain panjang itu lalu melingkarkannya di leher Gera. Sekalian modus, Flora mengikat dasi itu dengan perlahan. Dia sudah jago masalah perdasian, di sekolahnya juga memasang dasi dengan manual. "Gak usah dilama-lamain, cepet." "Kan kangen gara-gara pisah kamar semalem," rajuk Flora dengan manja membuat Gera mendelik sebal. "Entar malem tidur di sana lagi." "Gak mau, kita gak akan pisah kamar lagi." Flora mundur beberapa langkah ingin melihat hasil ikatan dasinya di kemeja Gera. Dia mendecak kagum karena ini pertama kalinya dia mengikatkan dasi untuk sang suami. "Foto dulu ya, suami!" "Nggak! Nggak!" Gera yang baru saja ingin kabur langsung ditahan oleh Flora. "Gue ikut mobil lo nih." "Ck! Cepet foto sekarang." Flora mengeluarkan ponselnya dan menyalakan kamera untuk berselfie bersama sang suami. Seperti biasa, hanya dia yang melebarkan senyumnya sementara Gera mengatup datar. Foto itu tidak hanya disimpan sampai basi, Flora mengumbarnya di sosial media melalui Instastory. Sengaja agar para teman dan keluarganya yang belum menikah, iri melihat dia yang sudah bisa ikat dasi untuk suami. "Oke! Ayo jalan!" seru Flora bersemangat mengambil tas sekolahnya dan hendak keluar pintu. "Jalan sama siapa?" tanya Gera yang sudah memiliki perasaan tidak enak. "Ya sama suami dong, siapa lagi?" "Gue pesenin ojek online sekarang." Gera mengeluarkan ponselnya dan mengetik di layar tersebut. "No! Entar kalo istri lo ini diambil orang gimana?" "Ya gue harus berterima kasih sama dia." "Suami!" jerit Flora sangat kesal sampai Gera meringis mengelus telinganya itu. Ting! Tong! "Ada tamu tuh," ucap Gera datar. Flora yang masih kesal pergi meninggalkan Gera untuk membukakan pintu. Matanya terbuka lebar lalu alisnya mengerut heran melihat siapa yang datang sepagi ini ke apartemen Gera. "Ngapain lo ke sini?" "Ya jemput lo lah, gue tau suami b******k lo gak akan mau anter lo ke sekolah." Gera ikut berjalan dan berdiri di belakang Flora saat statusnya dibawa-bawa oleh sang tamu. "Beruntung Jimmy dateng, lo jadi ada yang anter tuh," ucap Gera mengabaikan ejekan Jimmy yang dia dengar tadi. Pandangan jatuh pada Jimmy yang menatapnya sangat sinis. Kedua tangan lelaki itu masuk ke dalam saku celana sekolahnya. Sejujurnya Gera ingin tertawa geli. Masih kecil saja sudah setengil itu. Kalau dibanding dirinya dulu, Jimmy mah tidak ada apa-apanya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, Gera merasa jauh lebih baik dari Jimmy. "Ayo jalan, tinggalin tuh suami lo," ucap Jimmy masih sinis. "Ya udah deh, Gera gue pergi dulu ya," ucap Flora lemas. Niatnya ingin diantar ke sekolah sirna sudah. "Iya-iya! Bye!" Gera mendorong pelan tubuh Flora agar gadis itu keluar dari apartemen dan setelah itu dia tutup pintu kamar agar Flora tidak lagi mengganggunya. º~º Flora turun dari mobil Jimmy dan bersama-sama masuk ke dalam gedung sekolah. Sorot mata langsung menghadap kepada Flora dan sebenarnya dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Seluruh temannya datang ke acara resepsi Sabtu lalu dan hari ini hari pertama Flora masuk sekolah sebagai seorang istri. Malu? Tentu saja tidak. Siapa yang malu menikah dengan pria tampan yang berhasil membuat seluruh gadis di sekolahnya itu mengiler? Memang sih tidak semua tatapan itu bersifat positif. Ada aja yang menunjukkan kesinisannya. Dengan berbagai spekulasi, Flora yakin yang paling kuat di kepala mereka adalah tentang malam pertama. Kini, semua murid bisa saja berpikir kalau dirinya sudah tidak perawan. Seandainya mereka semua tahu apa yang terjadi di hotel malam itu, Flora bisa diejek habis-habisan. Waktu itu dengan percaya dirinya Flora mengatakan kalau Gera mencintainya sehingga takut kehilangan. Cih, kehilangan jidatmu! Dia saja mau melakukan poligami. Suami kurang ajar. "Flora! Selamat ya nikahnya kemarin!" "Gila Flora! Laki lo ganteng banget!" "Duh, Flo! Harusnya lo tahan dulu sampe lulus tau!" Kelamaan bosku. Flora hanya mengiya-iyakan ucapan teman-temannya yang menghadangnya di lorong. Banyak yang memuji betapa tampannya Gera hari itu. Yang menahannya juga hanya para siswi. Flora heran, kenapa tidak ada yang memuji cantik hari itu? Apa dia sejelek itu hingga tidak pantas dipuji. Atau jangan-jangan mereka tidak memperhatikan gaun apa yang Flora pakai hari itu? Dasar teman-teman b***t. "Lo cantik kok," ucap Jimmy membuat Flora menoleh cepat. "Hah?" "Iya, lo cantik hari itu." "Beneran?! Aw Jimmy... makasih!" pekik Flora terharu. Jimmy satu-satunya teman yang memujinya atas hari pernikahannya itu. Mereka berdua masuk ke dalam kelas yang sudah ramai. Jelas karena drama tadi pagi Gera tidak ingin mengantarnya ke sekolah. Tetapi bagus juga karena waktu tanya jawab yang akan dilontarkan para teman akan lebih singkat. Ya paling tidak jauh-jauh dari rasanya malam pertama. Dan sekarang Flora harus berakting lebih baik lagi. "Floraaa! Gimana jadi istri?" "Cie udah jadi istri, enak gak?" "Gue liat-liat lo makin lemes aja nih, semalem begadang ya?" Flora hanya terkikik singkat sembari duduk di kursinya yang sudah dikerumunin oleh para teman-teman. Emi dan Jimmy menjaga ketat di sebelah Flora agar sahabatnya tidak diapa-apakan oleh mereka semua. "Jadi istri... enak!" Flora mengacungkan jempolnya ke udara sampai membuat riuh para temannya yang bersorak. "Sehari berapa kali, Flo?" tanya teman lelaki Flora yang sudah melotot tidak-tidak saja. Sampai jari telunjuk Jimmy mendorong kening temannya itu. "Gak usah kemana-mana tuh otak!" "Ya elah, Jim! Emang lo gak penasaran?" "Nggak!" "Berisik ah! Lo mikir aja sendiri gue sehari berapa kali!" oceh Flora kepada teman lelakinya. "Gila ya, Flo! Suami lo pasti romantis banget! Keliatan dari mukanya gitu," puji teman perempuannya yang berbinar-binar. Iya romantis, kalo ke ceweknya yang di Aussie! "Iya dong, setiap hari gue disayang-sayang sama dia." Jimmy dan Emi menahan kedutan di sudut bibirnya. Hanya mereka yang tahu kisah cinta pengantin baru itu. Demi nama baik sahabatnya, lebih baik bersikap kalau itu memang nyata. "Flo, laki lo jago gak?" "Banget." Jago bikin gue ngemis minta bikin anak. Flora tersenyum manis menanggapi seluruh ucapan teman-temannya. Biarkan mereka mengkhayal dari apa yang dia katakan. Toh, mereka harus melalui beberapa tahun lagi sampai menginjak kehidupan yang sama dengannya. Pelajaran yang bisa Flora ambil adalah jangan percaya kisah yang diceritakan orang lain jika itu terdengar terlalu sempurna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN