Flora tersenyum menatap dirinya dari pantulan cermin. Pokoknya malam ini dia harus melakukan kewajibannya sebagai istri dengan Gera. Sejak bertemu Dinda, sang cinta pertama Gera, Flora semakin was-was kalau Gera bisa saja meninggalkannya. Status mereka memang sudah menjadi suami istri, tetapi tidak ada ikatan tertentu yang membuat Flora menjadi istri yang sebenarnya.
Lagipula, Flora heran juga. Pria mana yang menolak melakukan hubungan intim dengan lawan jenis? Sudah nikah pula. Mereka tidak ada diarak mengelilingi apartemen jika ketahuan oleh tetangga. Orang sudah menikah. Tetapi Gera selalu menolaknya. Sehingga malam ini, Flora harus melakukan tindakan padanya.
Ah iya, walaupun mereka sudah menikah, Flora dan Gera hanya berciuman sekali. Saat resepsi pernikahan kemarin. Itu juga hanya menempel beberapa detik. Membayangkan bagaimana rasa bibir Gera menempel padanya, Flora menjadi tersenyum kembali. Tekadnya semakin bulat. Malam ini harus berhasil.
Flora membuka kamar mandi dengan jubah yang menutupi tubuhnya. Di balik jubah merah muda itu, biarkan Gera yang melihatnya.
"Suami, kamu belom tidur?"
Flora sudah mengganti bahasanya menjadi aku-kamu dengan sang suami. Dia iri mendengar Dinda berbicara aku-kamu dengan Gera.
"Aku mau tidur dulu, sayang," ucap Gera membelakangi Flora dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Sa- sayang?" Flora terbeku di sisi kasur. Ini pertama kalinya Gera memanggil sayang. Apa itu pertanda kalau Gera sudah siap juga?
"Iya, sayang."
Ok fix! Flora naik ke atas kasur dan membuka selimut Gera. "Suami kam-"
"Flora! Ngapain sih?!"
"Kenapa dia satu kamar sama kamu?!"
Flora termangu melihat Gera yang ternyata sedang video call dengan kekasihnya, Bella. Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun juga, Flora lebih menang dibanding Bella. Flora lebih bisa melakukan apa saja dibanding Bella. Memang hanya dia yang bisa menggunakan baju ketat yang seksi untuk menggoda Gera dari kamera itu?!
"Katanya udah selesai telepon... aku udah siap ini," rengek Flora bersiap membuka jubahnya.
"Flora! Flora! Jangan gila ya!" Gera menahan tangan Flora tersebut. "Ganti baju yang bener."
"Gak mau."
"Ganti!"
"Apa sih! Kamu yang suruh loh tadi!"
"Gera! Kamu jangan macem-macem ya!" Flora tersenyum dalam hati karena sudah berhasil membuat kesalahpahaman diantara mereka.
"Enggak, sayang! Aku gak pernah ngapa-ngapain sama dia!"
"Apaan! Kemaren kamu semangat banget sampe des-"
"Jangan didenger, sayang, dia emang aneh!" seru Gera panik sembari menutup mulut Flora dengan telapak tangannya.
"Kamu jahat huaaa!"
Drama. Bella mulai menangis di ponselnya. Tangannya yang lentik menut wajahnya sampai Gera meringis panik.
"Sayang, aku beneran gak ngapa-ngapain sama dia, udah ya jangan nangis lagi," bujuk Gera dengan lirikan mata tajam ke arah Flora. Disaat seperti ini, lebih baik pura-pura bodoh saja.
"Udah matiin aja, kita mulai sekarang," ucap Flora pelan, tetapi dia tahu kalau Bella mendengarnya.
"Flo, cepet ganti sekarang!" tegur Gera membisik.
"Bener gak mau? Aku gak pake apa-apa loh ini," tanya Flora tersenyum manis seperti anak kecil, tetapi jelas ingin menggoda. Matanya melirik jakun Gera yang sudah naik-turun mendengar perkataannya.
"Ganti sekarang."
"Yah, sayang banget, padahal aku udah belajar banyak loh buat malam ini." Flora berpura-pura sedih menatap sekelilingnya. Diamnya Gera membuat Flora sadar kalau pria itu mulai mempertimbangkannya.
"Belajar apa...?"
"Ya banyak, gerakannya, posisinya, suaranya, semua aku pelajarin." Flora masih menggunakan wajah polosnya. Dia berbohong. Mana mungkin Flora belajar hal seperti itu. Biasanya dia hanya mendengar dari Emi mengenai hal-hal itu.
"Ga- ganti sekarang," ucap Gera dengan mata yang sudah turun melirik bawah. Tidak lagi wajah Flora yang masih polos itu.
Sebagai pria normal berumur 25 tahun, otaknya mulai belok ke sana-sini. Jika apa yang Flora katakan benar, itu berarti hanya jubah yang menjadi penghalang dari tubuh Flora itu. Pada dasarnya, Flora tidak buruk. Bahkan cantik dan sempurna. Tetapi, Gera melihatnya seperti anak kecil yang menyebalkan setiap hari. Bagaimana bisa dalam satu waktu berubah menjadi b*******h melihat gadis 17 tahun ini?
"Gera! Awas kamu ya macem-macem! Aku putusin loh ya!"
"Eh- eh? Sayang, jangan!" Gera terkejut mendengar jeritan Bella tiba-tiba. Entah harus berterima kasih atau tidak, yang pasti kesadarannya kembali pulih. "Flora! Ganti sekarang!"
"Bella, kita udah pernah macem-macem!" ucap Flora tersenyum lebar. "Hehe, enak loh."
"Flora!"
"Dasar cewek genit! Ganjen! Berani banget lo godain cowok gue!" jerit Bella marah.
"Dia suami gue! Enak aja!" Flora masuk ke layar kamera dengan tangan memeluk erat tubuh Gera yang menegang.
"Heh! Siapa suruh peluk-peluk Gera?! Lepas!"
"Gak bisa, wek!" Flora mengulurkan lidahnya jahil. Seketika wajah Bella semakin merah menahan amarah. Sudah seperti kerbau yang berasap ingin marah.
"Flora, lepas," ucap Gera pelan seperti bergumam.
"Apa? Mau mulai sekarang? Ya udah, bye Bellatung!" Flora menekan tombol mati pada hubungan telepon itu. Tidak peduli kalau Bella semakin marah. Jarak Indonesia dan Australia jauh, jadi tenang saja.
"Ayo matiin lampu, buk-"
"Tidur." Gera membalikkan tubuhnya membelakangi Flora.
"Loh kok? Aku kira kamu mau-"
"Lo mikir gak sih?!" seru Gera bangkit duduk menghadap Flora. "Gimana kalo gue beneran khilaf? Gimana kalo lo hamil beneran? Lulus aja belom, gimana lo mau jadi ibu? Lo bisa kasih didikan apa buat dia? Lo bisa jamin apa kalo anak gue aman punya ibu kayak lo?!"
Flora terdiam tidak percaya mendengar perkataan Gera. Yang sebenarnya menyakiti hatinya. Tetapi tidak juga salah sepenuhnya. Masih begitu banyak sikap-sikap jelek Flora yang menyusahkan orang lain, Gera contohnya. Dengan begitu, kenapa Flora begitu percaya diri bisa membesarkan anak mereka nanti?
"Tapi... aku kan istri kamu, aku mau anak."
"Anak lagi! Anak lagi! Lo bikin gue suka sama lo aja belom bisa, apalagi ngajarin anak gue buat sayang sama orang tuanya!"
Flora menunduk dalam. Perasaannya campur aduk mendengar omelan Gera yang berbeda dari biasanya. Sangat serius dan seakan menusuk hatinya dalam. Membuat Gera menyukainya saja tidak bisa? Flora meringis menahan malu. Sudah berusaha seperti ini, tetapi dia lupa kalau perasaan Gera seharusnya menjadi tujuan utama saat ini.
"Kita juga gak akan lama nikah, Flo. Gue akan ceraiin lo dan balik ke Aussie nanti."
"Aku gak mau cerai, aku gak akan bairin kamu ceraiin aku!"
"Lo kuat hidup sama gue yang cinta sama wanita lain? Kalo kuat, gue akan nikahin Bella tanpa ceraiin lo."
"Ni- nikahin Bella?"
"Gue sayang sama dia, gue akan nikahin dia, Flo."
Flora tidak lagi menahan air matanya. Sakit sekali rasanya mendengar suami ingin menikahi wanita lain. Tidak pernah terbayang suami sah yang dia cintai ini berniat menikah dengan wanita lain. Apa itu maksudnya Gera berniat poligami? Enak saja! Flora tidak akan biarkan hal itu terjadi. Tetapi untuk sekarang, Flora lemah dan hanya menangis.
"Lo tidur sini aja, gue di kamar tamu."
"Jangan!" Gera terdiam dalam posisi berdirinya di dekat pintu. "Biar gue aja yang tidur di luar."
"Ya udah sana."
Apa-apaan itu? Flora sudah berlinang air mata, menahan malu karena menggodanya, bahkan tidak marah saat Gera ingin menikahi Bella dan pria itu dengan tidak acuh kembali berbaring di kasurnya. Kalau tidak memikirkan hukum-hukum yang berlaku, sudah Flora cekik sampai modar. Sekarang perasaannya semakin campur aduk. Antara marah, kecewa, dan malu.
"Jadi gak tidur di luar?" tanya Geta gusar melihat Flora yang masih berdiri diam menatapnya.
"Dasar! Gue mau ngadu ke abang Romy entar!"
"Tukang ngadu dasar," desis Gera lalu kembali bermain ponselnya saat pintu terbanting menutup.