16 - Pindah Rumah

1146 Kata
Dus demi dus Flora angkat masuk ke dalam apartemen dimana Gera tinggal. Ada Emi dan Jimmy yang ikut membantu pindahnya Flora. Banyak sekali barang yang Flora bawa. Termasuk baju-bajunya yang mungkin telah memakan tiga per empat lemari Gera sekarang. Sebenarnya Gera malam membantu Flora untuk pindahan. Tetapi istrinya itu mengancam akan membuat keturunan malas ini jika dia hanya diam tidak membantu. "Kenapa sih lo bawa banyak banget barang?" Gera menggeleng melihat ruang tamunya penuh dengan kardus. "Ya kan pindahan, kalo dikit namanya nginep." "Yang gak penting gak usah dibawa." "Ini penting semua, suami...." Flora mendengus sabar karena terus mendapat omelan tidak penting. "Ini penting?" Gera mengangkat sebuah benda dari kardus yaitu boneka-boneka hewan kesukaan Flora. "Masa mereka ditinggal sendirian di kamar?" "Terus ini penting?" Begitu banyak frame foto Flora bersama teman-temannya yang dia bawa. "Rumah mana yang gak punya foto pemiliknya?" "Udah sih, lo jadi cowok ngomel mulu," sela Jimmy yang baru masuk membawa kardus berisi baju-baju Flora. "Masih ada baju lagi?!" seru Gera tidak percaya. "Apa sih, orang baru dua koper tadi bajunya." Flora pergi bersama Emi ke luar apartemen untuk terus membawa kardus yang tersisa. Membiarkan Gera yang memegang kepalanya pening. Rencana Gera kan ingin cerai usai beberapa tahun, tetapi kenapa Flora seakan menjadi istrinya sungguhan? Baju dan barangnya sudah pindah resmi ke apartemennya. "Flora, ini yang gak penting udah jual aja." Gera mengikuti langkah Flora yang menuju kamar mereka nanti. Disuruh pisah kamar saja Flora gak mau. "Yakali dijual, Ger, ini kan barang gue semua." "Ini apartemen gue, jadi gue berhak dong ngatur." "Nggak, lo nggak berhak ngatur. Istri itu presiden rumah tangga, lo gak tau?" "Eh! Mana ada kayak gitu!" Flora mengabaikan tatapan marah Gera dan berbagai ocehannya itu. Lebih baik membereskan baju-bajunya dan menata skincare di atas meja rias. Bodo amat kalau Gera semakin marah. Mama Gina pasti membelanya kalau ada apa-apa pada Flora. "Lo ambil kain pel gih," pinta Jimmy yang membuat Gera mengernyit tidak suka. "Gak ada!" "Dih, kok ada?" "Gue jarang di rumah." Gera menyandar di dinding kamarnya menatap tiga curut sibuk merapihkan barang-barang sang istri. "Ya udah, abis ini kita belanja keperluan aja," ajak Flora membuat Gera melotot terkejut. "Lo aja sendiri." "Ok, mana?" Flora mengulurkan telapak tangannya pada Gera. "Apaan?" "Kartu debit lo lah, masa gue yang bayar?" Gera mendesah kesal lalu membuka dompetnya dan memberikan yang Flora mau. "Ok, nanti malem kita bikin anak pertama ya." "Flora!" omel Gera gusar. Istrinya itu sangat terang-terangan. Dan anehnya, tidak ada satupun sahabatnya yang terganggu akan hal itu. "Ya itu gantinya karena lo gak mau temenin gue belanja keperluan rumah!" "Ya udah, entar sore kita jalan!" Gera menghentakkan kakinya hendak keluar kamar mencari angin. "Suami, tolong bawain kardus yang boneka sama foto tadi dong!" "Gak mau!" "Lo mau kembar cewek atau cowok?!" "Ish! Gue ambil dulu kardusnya!" º~º Langit sudah berubah oranye dan sudah waktunya untuk belanja keperluan rumah. Lagian Flora heran, kok bisa rumah tidak ada alat bersih-bersih. Padahal apartemennya besar dan butuh dibersihkan. Flora sudah mencatat banyak benda untuk dibeli. Gera hanya perlu menggesek debitnya yang kebanyakan uang itu. "Kita butuh pel, sapu, sponge cuci piring, sabun-sabun buat cuci baju-" "Emang lo ngerti?" tanya Gera tidak percaya sembari mendorong trolly mengikuti langkah sang istri. "Gue udah tanya ke mama tadi, terus dikasih deh listnya." Flora melihat-lihat ke berbagai rak yang sudah menjadi tujuannya. Berbagai alat dia masukkan tanpa peduli berapa harganya. Toh, bukan Flora yang membayar. Ini juga demi kebersihan rumah Gera. "Kita sekalian belanja bulanan aja ya, lo suka makan apa?" "Lo bisa masak?" "Nggak, tapi kan bisa lihat youtube." "Gue gak akan makan kalo lo masak dari youtube." "Ih! Kok gitu?" Flora menghentakkan kakinya kesal tidak peduli kalau pengunjung lain menatapnya konyol. Salahkan sang suami yang berkata sangat jahat itu. "Gue belom mau mati, Flo. Udah ah jangan kayak anak kecil." Gera menarik lengan Flora untuk kembali jalan ke tempat buah-buahan. "Tapi dimakan ya entar." "Mie instan aja, gue makan." "Gak, gue mau masak--" "Gera? Hai!" Langkah Gera dan Flora terhenti saat seorang wanita cantik memanggil namanya. Diikuti seorang pria di belakang sang wanita. Alis Flora bertaut seakan familiar dengan wajah wanita di hadapannya ini. "Hai, Din, hai Dim, kalian lagi ngapain?" tanya Gera. Flora ikut tersenyum pada sepasang kekasih yang dia tidak kenali itu. "Aku lagi belanja bulanan sama Dimas, gimana kemarin?" Dinda mengedipkan sebelah matanya pada Flora dan Gera. "Kemarin.. maksudnya?" tanya Gera ragu. "Jangan sok poloslah, Ger, malam pertama gimana kemarin?" Kali ini Dimas yang tertawa melihat Gera. "Oh, enak kok!" Dinda dan Dimas saling bertatapan lalu tertawa kecil. Berbeda dengan Gera yang melotot terkejut dan menyenggol tubuh Flora sebagai teguran. "Wah, Gera hebat juga ya, bisa dapetin gadis 17 tahun," ucap Dimas menggeleng-geleng. "Nggak juga kok," kekeh Gera salah tingkah. "Ya udah, kalian cepetan belanjanya biar lanjut lagi pas pulang!" ucap Dinda semangat. "Saran gue, jangan takut mencoba," ucap Dimas. "Tenang, udah coba banyak kok." "Flora!" tegur Gera berbisik. "Ya udah kita duluan ya, bye." Gera cepat-cepat menarik Flora menjauh dari kedua temannya itu. Padahal dia yang tinggal di Aussie dan mencoba banyak kenakalan, tetapi kenapa dia yang terlihat paling polos diantara mereka semua? Ini juga istrinya terlalu frontal berkata seperti itu. Semua dikatakan juga mengada-ngada. Tidak mungkin Gera melakukan hal itu pada Flora yang masih kecil. "Kenapa sih harus malu-malu?" tanya Flora sebal sembari berjalan ke kasir lalu mengantre. "Ya masa lo gak malu sih? Lo kan juga gak kenal mereka." "Tapi lo kayaknya deket sama mereka." "Dinda cinta pertama gue pas SD." "Apa?! Cinta pertama?!" Ok, ini fakta baru yang Flora ketahui dari Gera. Jika tahu wanita cantik tadi adalah cinta pertama Gera, jangan harap akan obrolan ringan itu. Sudah pasti Flora tarik Gera menjauhi Dinda. Anggaplah dia lebay, tetapi demi keberlangsungan pernikahan mereka, Flora tidak mau ada perselingkuhan. Sudah cukup ada Bellatung yang menjadi penganggu hubungan mereka. "Gak usah lebay, udah lama itu." "Namanya cinta pertama, pasti tetep beda dari yang lainnya!" "Ya emang, tapi kan dia udah punya suami." "Tuh kan! Nyebelin!" Gera mengernyit heran dan bergumam, "apa sih?" "Jangan ketemu dia lagi!" "Mana bisa kayak gitu, entar kita juga ketemu lagi di apartemen." "Apaan sih, Ger? Gak ada ya ketemu-ketemu lagi sama dia!" "Dia satu apartemen sama kita, Flo," ucap Gera yang kini sibuk membayar seluruh barang mereka. Matanya melirik Flora yang mengerucutkan bibirnya sebal sembari mengambil barang belanjaan mereka. "Gak usah cemburu, udah ada suaminya dia." "Besok kita cari cinta pertama gue." "Buat apa?" "Biar lo juga cemburu." "Cih, mana mungkin gue cemburu." "Dasar nyebelin! Gak mau tau pokoknya malem ini bikin anak!" "Flora!" Gera menatap tidak percaya pada Flora yang sudah berjalan lebih dulu menuju parkiran mobil. Keramaian pengunjung membuat ocehan Flora terlihat lebih memalukan. Tatapan mereka kini seakan mengejek Gera sendirian di tengah keramaian itu. Tidak pikir panjang, Gera berjalan lebih cepat mengikuti Flora. Memang hanya gadis itu yang tidak tahu malu jika membicarakan hal-hal 18+. Padahal umurnya hanya 17 tahun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN