15 - Jadi Suami Istri

1109 Kata
"Lo udah yakin sama keputusan lo?" Jimmy memandang Flora dari pantulan cermin besar di kamar hotel tempat acara pernikahan Flora dan Gera berlangsung. Gaun pengantin berwarna putihterlihat sempurna membalut tubuh ramping Flora. Bahkan Emi saja sampai ingin menyusulnya menikah secepatnya. Dia sampai memaksa Jimmy untuk menikahkannya. Tentu saja langsung mendapat jitakan oleh Jimmy. Walau semua ini hanya perjodohan, di dalam lubuk kedua sahabatnya, mereka bahagia. Flora menjadi teman pertama yang mengubah status sebagai seorang istri diantara mereka. Emi sangat memuja bagaimana kerennya Gera yang tadi dia temui si lorong hotel. Bahkan dia sudah memikirkan betapa lucunya nanti anak keturunan Flora dan Gera. Tetapi berbeda dengan Jimmy yang memiliki banyak kekhawatiran. Menurut pandangannya, Gera bukanlah pria yang pantas untuk Flora. Nadanya selalu jutek, tindakannya kasar, dan jauh dari kata peduli. Istri mana yang kuat memiliki suami seperti itu? Mungkin hanya Flora yang dengan entengnya menerima semua ini demi cinta. Ingin rasanya Jimmy menarik Flora pergi dari semua ini. "Masa gak yakin? Gue justru lagi deg-degan," ucap Flora membalas tatapan Jimmy dari cermin. "Udah sih, Jim! Lo bikin Flora makin deg-degan aja!" oceh Emi yang sedang duduk di sebelah Jimmy. "Lo udah ketemu Gera?" "Yakali, orang kita sama-sama dipingit!" "Terus? Kalo tiba-tiba Gera makin jelek gimana?" "Jimmy!" seru Flora dan Emi geram dengan segala pikiran aneh di kepala Jimmy itu. "Ya kan siapa tau...." Emi berdiri menghampiri Flora dan menatapnya hangat. "Flo, walaupun lo nikah muda dan dijodohin sama orang tua lo, bukan berarti pernikahan lo ini main-main. Walaupun Gera galaknya minta ampun dan gak mau pernikahan ini, bukan berarti lo bisa diperlakukan semena-mena. Jangan takut buat speak up kalo ada apa-apa ya, gue pasti dukung apapun yang lo lakuin." "Emi... thank you udah semangatin gue, gue yakin pernikahan ini bakal awet sampai gue tua. Gak akan gue biarin Gera ceraiin gue kok." "Kalo sampe dia apa-apain lo, lo harus ngadu sama gue loh! Gue tebas tuh leher Gera!" sambung Jimmy sudah berapi-api. "Kalem aja sih, Jim, berisik banget." Emi mengelus telinganya sebal. "Emi, Jimmy, kalian tunggu di bawah aja, acara udah mau mulai." Jimmy dan Emi menuruti perkataan Farah yang baru saja masuk ke dalam kamar. Tidak hanya Farah, ada juga sang ayah dan orang tua Gera. Dari senyum mereka, Flora tahu kalau tidak hanya dirinya yang bahagia atas hal ini. Hanya Gera saja yang tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. "Kamu udah mau jadi istri sekarang, jangan nyusahin Gera terus," ucap Farah. "Kalo bosen dan mau nginep di rumah, langsung pulang aja ya." Farah menepuk kesal bahu Paul itu. "Flora, terima kasih sudah mau jadi istri Gera ya. Kamu mengabulkan banyak permintaan orang-orang, termasuk Gera," ucap Gina memegang kedua tangan menantunya itu. "Permintaan Gera? Apa itu?" tanya Flora bingung. "Sudah, nanti kamu tanya aja sama Gera," kekeh Henry. º~º Apa yang dilakukan para pasangan usai resepsi? Malam pertama! Itulah yang memenuhi otak Flora saat ini. Langkahnya mengikuti Gera ke kamar hotel yang sudah disediakan. Senyumnya tidak juga memudar walau Gera sangatlah datar sejak tadi. "Flora, jangan minta aneh-aneh sama Gera ya." Farah sudah mencium aroma-aroma kemesuman dari diri putrinya itu. "Kan udah jadi istri." "Tenang aja, Ma, gak akan terjadi apa-apa," ucap Gera membuat Farah senyum, namun Flora mendelik kesal. "Ya udah, istirahat ya kalian." Kini orang tuanya dan orang tua Gera sudah masuk ke dalam kamar hotel masing-masing. Flora segera mengikuti langkah Gera ke dalam kamar mereka. "Wah! Kasur kita ada bunga-bunga!" Flora terpukau melihat kasur mereka begitu indah dengan kelopak mawar merah. Ada dua handuk berbentuk angsa yang tengah berciuman membentuk hati. Ada juga ucapan selamat dari hotel atas pernikahan mereka itu. "Gue mandi duluan." "Ayo bareng!" "Flora!" gertak Gera dengan alis mengernyit kesal. Flora terdiam mengerucutkan bibirnya. Selalu saja seperti ini, memangnya tidak boleh istri minta mandi bersama dengan si suami? "Kan kita udah nikah." "Lo masih kecil." "Nggak kok, udah gede." "Apanya gede?!" "Ayo mandi bareng kalo mau tau!" "Flora!" Gera menarik nafasnya kasar sembari memijat keningnya yang sudah pusing. Seharian bertemu para tamu membuat emosinya lebih sensitif. Dia masih heran kenapa Flora begitu terang-terangan ingin malam pertama. Padahal gadis berumur 17 tahun tidak akan seberNi itu untuk melakukan hal yang belum pernah mereka lakukan. Gera benar-benar pusing. "Gue udah ada Bella, lo tau sendiri." Flora mendecak kesal mendengar nama wanita itu lagi. "Ck! Putusin itu si Bellatung!" "Enak aja! Dia cewek gue." "Gue istri lo!" "Flora, ini udah malem, jangan ngajak debat." Flora hanya diam menatap tubuh Gera yang kini masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya. Ini baru sehari dia menjadi istri dari putra Armanto itu. Orang bilang, pernikahan bisa menjadi alasan seseorang berubah. Tetapi nyatanya tidak ada perubahan dari Gera. Dia masih galak, kaku, dan mencintai Bella walau sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Seharusnya Flora yang menderita atas situasi ini. Dia masih 17 tahun dan sudah harus menjadi seorang istri. Dia tidak bisa lagi lirik-lirik cowok ganteng yang biasa bermain basket di sekolahnya. Dia tidak bisa pergi dari pagi sampai malam, atau bahkan menginap di rumah temannya lagi. Semua itu karena ada suami yang harus dia urus. Tetapi apa daya jika cinta sudah bertindak? Flora tidak bisa melupakan kesan pertama dia melihat Gera di lobby hotel hari itu. Warna hitam juga ikut berperan dalam membuat Flora jatuh cinta akan penampilan Gera. Apalagi saat tahu mereka sudah berteman sejak kecil, Flora semakin bersemangat ingin tahu apa yang terjadi dulu. "Sana mandi." Flora menelan air liurnya saat melihat Gera keluar dari kamar mandi dengan piyama lengkap warna hitam. Tangannya sibuk mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk. Jika tidak ingat semua omelan Gera, sudah pasti Flora tarik ke kasur. "Jangan tidur dulu ya, suami." "Gak, gue ngantuk." Flora mendengus sebal melihat Gera tiduran di atas kasur membuat beberapa kelopak berjatuhan. Bahkan pasangan angsa saja sudah berpisah. Ada yang di atas kasur, ada yang jatuh tidak berbentuk di lantai. Dasar Gera, tidak tahu keromantisan. Flora keluar dari kamar mandi dengan piyama yang sama seperti Gera. Memang itulah yang diberikan sang sahabat, Emi, sebagai hadiah pernikahan. Dia menghampiri Gera dan melihat pria itu sudah tertidur pulas menghadap langit-langit. "Suami... bener gak mau jatah?" bisik Flora jahil di telinga Gera. Tangan Flora mengelus lembut rambut hitam Gera yang pekat itu. Aroma maskulin yang Flora sukai terhirup dengan mudahnya. Sungguh, dia merasa beruntung memiliki suami setampan Gera. Walaupun mulutnya galak minta ampun, saat tidur Flora bisa lihat manisnya pria ini. Flora memperhatikan wajah Gera yang terlelap. Dengkuran halus keluar dari mulut Gera membuat Flora terkekeh. Ini pertama kalinya Flora melihat Gera terlelap. Membayangkan selamanya Flora berada di samping Gera saat tidur, jantungnya sudah tidak karuan. Ah, tetapi Flora lebih tidak karuan jika membayangkan mereka membuat keturunan. Kapan hari itu datang? "Jangan sama Bella lagi ya, aku sumpahin kamu putus."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN