"Kira-kira ada makanan apa aja ya di sana?"
Flora tersenyum-senyum menatap jalan raya dengan langit yang begitu cerah. Secerah hatinya saat ini. Tanggal pernikahan sebentar lagi dan sudah waktunya memilih serta mencoba makanan untuk hari-H pernikahan. Flora suka sekali makan, sehingga begitu semangat untuk mencoba makanan hotel bintang lima yang akan menjadi tempat acara mereka berdua.
"Banyaklah," sahut Gera tak acuh sembari menyetir ke tempat tujuan. Melihat tanggal pernikahan yang semakin dekat, Gera semakin lemas.
"Lo sukanya makanan apa, calon suami?"
"Banyak."
"Ck! Ya apa? Kan biar kita omongin nanti sama mama papa juga." Flora heran sama calon suaminya, tanggal pernikahan sudah dekat tetapi masih saja cemberut. Harusnya kan senang. Berarti mereka semakin dekat dengan malam pertama. Flora mendecak sebal melihat tingkah sang calon suami itu.
"Ya yang penting enak dimakan."
"Ih! Entar gue bilangin tante Gina! Lo makin nyebelin sekarang!" Flora sengaja menghela kasar sembari bersedekap d**a. Memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah calon suaminya yang menyebalkan.
Gera melirik sebal ke arah gadis labil itu. Sudah biasa melihat sikap kekanak-kanakan Flora setiap saat. Bahkan sekarang saja, Gera merasa dia sudah ketularan sikap seperti itu. Contohnya adalah, dia mudah sekali naik darah akan hal-hal kecil, mulai ingin pilihannya terus dituruti, dan kalau kesal bisa lama. Memikirkan sikapnya akhir-akhir ini saja sudah bisa membuat suasana hati Gera berjungkal balik.
"Udah sih biarin orang tua aja yang urusin," ucap Gera tenang.
"Tapi ini kan pernikahan kita."
"Tapi mereka lebih ngerti soal itu, Flora."
"Gue tetap maunya kita urusin juga, walau cuma sedikit. Setidaknya biar gue gak nyesel di masa tua gue." Gera mengernyit sendiri mendengar curhatan dadakan Flora.
"Jauh banget masa tua."
"Iyalah, kita kan bakal saling mencintai di masa tua, jadi harus bikin pernikahan yang berkesan juga." Flora tersenyum manis dengan pipi yang merona.
"Idih, pede banget," gumam Gera sebal dan masih bisa didengar oleh Flora.
"Udah jangan malu-malu, gue tau semuanya tentang kita pas masih kecil."
Cittt!
Mata Flora terbelalak saat Gera secara tiba-tiba mengerem mobilnya di pinggir jalan. Tidak sedikit yang mengklaksonkan mereka. Jantung Flora seakan lompat jauh ke depan sam9ai dia menyentuh kembali dadanya itu.
"Lo gila ya?!"
"Lo tau apa?" cecar Gera membuat Flora mengernyit bingung.
"Lo rem mendadak cuma buat tanya itu? Udah gila lo ya!"
"Makanya jawab dulu! Lo tau apa tentang kita dulu!"
Flora menatap Gera tidak percaya. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan rasa frustasinya. Benar-benar menyebalkan memiliki calon suami ribet dan pemaksa seperti Gera. Flora rasa lama-lama dia harus menyewa satu kamar rumah sakit jiwa untuk dirinya sendiri. Otaknya sudah mulai tergesar akibat sikap Gera yang naik-turun.
"Gak tau! Gue cuma bercanda!" jerit Flora sampai membuat tubuh Gera terperanjat. Gera terdiam dengan tangan yang mengelus dadanya kaget.
"Bercandanya gak lucu." Gera mulai kembali melajukan mobilnya. Membiarkan keheningan diantara mereka memimpin.
º~º
Flora masih kesal atas sikap gak jelas Gera saat di jalan tadi. Sehingga usai turun dari mobil, Flora jalan lebih dulu meninggalkan Gera di belakang. Jarang sekali Flora yang memimpin jalan karena biasanya Gera pasti yang di depan. Ah, Flora tidak peduli. Dia masih tidak habis pikir dengan sikap Gera yang bahaya itu. Beruntung keselamatan masih berada di tangan mereka, jika tidak, habis sudah riwayat mereka.
"Flora, ayo sini." Flora tersenyum manis menutupi rasa jengkelnya itu. Kakinya berlari kecil menghampiri Gina dan Farah.
"Hai, Tante!"
"Gera kok tumben cemberut gitu dia?" tanya Farah heran.
"Ah, dia emang suka kayak gitu. Gak tau juga masalah hidupnya apa," jawab Gina mendengus sebal melihat putranya yang semakin dekat. Sementara tangannya merangkul pundak calon menantunya itu.
"Siang, Tante," sapa Gera pada Farah.
"Kamu diapain sama Flora? Nakal ya dia?" Flora mengernyit tidak terima mendengar tuduhan Farah yang sembarangan.
"Ih, enak aja, Gera tau yang aneh banget tadi."
"Kenapa dia? Kenapa?" Gina sudah bersiap-siap untuk mengomeli Gera sesuai apa yang akan Flora adukan.
"Tadi Gera tiba-tiba rem mendadak. Padahal aku cuma bercanda, Tante," adu Flora manja membuat Gera memutar mata malas.
"Duh Gera, kamu ini hati-hati dong," tegur Gina.
"Mungkin Gera kaget kali ya? Flora suka iseng sih," ucap Farah yang lebih mengerti Gera.
"Iya, maaf ya, Flora."
Flora membulatkan matanya tidak percaya. Gera bilang maaf? Ini seperti kejadian langka yang harus diabadikan. Sayang, Flora tidak sempat mengeluarkan ponsel dan merekamnya.
Test food hari ini tidak hanya dilaksanakan oleh mereka berempat, tetapi ada juga Tera, selaku WO Gera dan Flora. Mereka semua mulai masuk ke dalam ruangan dan terlihat banyak makanan yang disediakan. Flora meneguk air liurnya begitu melihat jajaran masakan dengan aroma yang membuat perut bergetar.
"Nah, ini menu-menunya kalian bisa pilih buat yang ada di wedding kalian nanti." Tera memberikan sebuah menu kepada Gera dan Flora beserta ibu mereka.
"Kambing guling itu wajib ada," ucap Gina bahkan belum melihat menunya.
"Prasmanannya harus lengkap nanti dan jangan sampai habis duluan," lanjut Farah.
"Kalian boleh segera coba yang ada di jajaran itu kok, nanti komen aja apa yang kurang." Flora yang pertama kali berdiri usai suruhan Tera itu. Dia tidak sabar mencoba makanan itu semua.
"Jangan malu-maluin ah," tegur Gera berbisik dari belakang Flora.
"Duh, calon suami, kita harus teliti banget soal makanan."
"Teliti sama rakus beda." Flora menyengir malu dan hanya dibalas tatapan datar Gera.
"Tapi bener loh, makanan itu pride pernikahan kita nanti. Kalo gak enak, siap-siap jadi bahan gosip ibu-ibu deh."
"Emang bakal banyak ibu-ibu dateng ke acara kita?" Flora mengedikkan bahunya sembari mengambil makanan satu persatu.
"Gak tau juga sih, gue gak punya temen ibu-ibu."
"Ini harus dimakan semua?" Gera tidak mengambil makanan yang kini sudah tersaji di piring bawaannya. Memang Floralah yang mengambil itu semua agar Gera tidak pilih-pilih.
"Harus, kalo gak suka bilang aja nanti. Biar gak dimasukin ke menu kita nanti."
Flora berjalan lebih dulu setelah selesai mengambil makanan dari ujung sampai ujung. Kebanyakan dari itu semua adalah makanan Indonesia. Flora harus benar-benar mengkritiknya dengan adil. Makanan ini akan menjadi harga dirinya. Masa sudah nikah muda, suami tampan, hotel mewah, eh makanannya gak oke. Bisa habis Flora dihina teman sekolahnya nanti.
"Gimana Flora? Kamu suka sapi lada hitamnya?" tanya Gina dan diangguki oleh Flora. "Tapi terlalu keras gak sih? Tante rasa kayak gitu."
"Bener! Bener! Aduh jangan sampe kayak gini pas hari-H nanti," ucap Farah cukup kelabakan dan segera dibicarakan pada Tera. Sementara Gera dan Flora diam saja.
"Gurame asam manisnya juga enak ya, tapi terlalu asem, Ter," ucap Gina kembali mengkritik kepada Tera.
"Oke deh, nanti aku kasih tau lagi." Tera mencatat seluruh kritik kedua ibu tersebut.
"Tante, nanti ada dessert gak ya?" tanya Flora penuh harap.
"Ada kok, kamu juga boleh coba yang ada di ujung sana." Flora menatap ke arah yang ditunjuk Tera. Sebuah meja khusus untuk kue dan makanan manis lainnya. Walau hanya sedikit, Flora sudah bahagia.
"Temenin gue dong, calon suami."
"Duh manja banget sih, ambil sendiri."
Flora mengerucutkan bibirnya. "Jauh... takut...." Tentu saja hanya alasan belaka.
"Deket gitu, Flora," geram Gera mengernyit kesal. Membujuk Gera adalah kerja keras, tetapi Flora menyukainya. Karena ia tahu Gera akan tetap menurutinya. "Ck, ayo cepet."
"Yes!"