"Sayang, selama kau pergi untuk bertemu dengan kolegamu, bolehkah aku berkeliling kota ini,?" tanyaku pada Alonso yang sudah bersiap pergi bersama sekertaris Chan.
"Kau bisa tunggu sampai aku pulang jika memang ingin jalan-jalan, Arunika," ucap Alonso seakan tak setuju istrinya pergi keluar rumah.
"Tapi sayang, aku pergi tidak sendiri. Kau kan selalu menyuruh para bodyguard untuk menjagaku setiap hari," ucapku sedikit merajuk.
Alonso menatap mataku seakan mencari sesuatu di sana. Sampai akhirnya, dia menghela napas dan kemudian menganggukkan kepala tanda setuju. Aku tersenyum gembira dan berlari ke arah Alonso untuk memeluknya.
Dia tak menyangka aku akan seantusias itu ketika menyetujui keinginanku. Alonso balas memelukku erat dan mencium keningku.
"Kau harus hati-hati di luar sana, Arunika. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu. Tetap dalam pengawasan para bodyguard," ucap Alonso memberiku sedikiy nasehat. Sebenarnya bukan nasehat melainkan sebuah ultimatum.
"Ay ay kapten, hahaha," jawabku menggodanya.
Alonso tertawa mendengar jawabanku. Mungkin dia tahu, aku kesepian di rumah ini. Meski banyak orang yang menemaninya, tapi dia kesepian. Dia butuh seseorang untuk menemaninya setiap waktu.
Sementara, Alonso sibuk dengan pekerjaan yang semakin menumpuk dan juga masalah yang terjadi di dunia bawah tanah.
"Aku berangkat sekarang. Kabari aku di mana pun kau berada," kata Alonso sebelum akhirnya pergi berlalu meninggalkan rumah.
"Hati-hati, Suamiku."
Alonso kembali tersenyum sampai akhirnya mobil yang membawanya pergi menjauh tak terlihat lagi.
Aku segera memasuki kamar untuk bersiap pergi melihat suasana kota yang indah ini. Untung saat ini musim semi, jadi udara tak begitu panas.
Memakai jeans dipadu kemeja putih dan flat shoes, aku bergegas pergi. Polesan lpstick dan bedak tipis menjadi andalanku setiap kali pergi. Aku memang tidak terbiasa bersolek, lagi pula Alonso tidak suka.
Bersama seorang asisten yang selalu menemani, dan dua orang bodyguard akhirnya aku bisa menikmati kota. Suasana di sini tak terlalu ramai.
Pemandangan yang menghiasi sudut kota nan indah membuatku terkagum-kagum. Aku suka tempat ini, perpaduan suasana pedesaan dan sentuhan kota yang asri, sangat indah.
Aku sudah mengirimkan beberapa photo pada Alonso, sebagai bukti bahwa aku memang pergi bersama orang kepercayaanku. Terkadang sikap protektif Alonso membuatku jengah, tapi aku sadar, semua itu dia lakukan demi keselamatanku.
"Nyonya, sepertinya kita harus segera pulang. Hari semakin sore," ucap asistenku, Sarah.
"Baiklah, Sarah. Maaf, karena aku terlalu bahagia bisa berjalan-jalan. hingga tak menyadari senja mulai beranjak naik. Kalau begitu, kita pulang sekarang," ucapku tersenyum dan meminta maaf pada mereka semua.
"Tidak apa, Nyonya. Sudah kewajiban kami menemanimu seperti permintaan tuan," ucap Sarah membalas senyumanku.
Aku menikmati perjalanan pulang dengan hati riang. Puas berjalan-jalan dan membeli beberapa buku bacaan untuk menemani sepiku setiap Alonso pergi bekerja.
Aku asik menikmati senja yang mulai turun. Semburat merah merona menandakan sang penguasa siang akan segera bersiap pergi, di gantikan malam dengan sinar bulan dan kerlip bintang.
Tiba-tiba, Sarah--pengawal pribadi yang selalu mendampingi selama ini mengambil sikap siaga.
Dia nampak berusaha untuk melindungiku dari seseorang. Namun, aku belum memahami apa yang tengah terjadi. Yang pasti, setelah itu, terdengar desing peluru yang terus menembaki mobil kami.
"Merunduk, Nyonya. Jangan bergerak sampai kamu memastikan keadaan aman," teriak Sarah tiba-tiba, dan memposisikan dirinya sebagai pelindung tubuhku.
Suara desingan peluru dan deru mobil saling berkejaran membuatku sedikit takut.
"Sarah, apa yang terjadi? mengapa mereka mengejar kita?" tanyaku sedikit berteriak.
Tentu saja, perkataan Sarah membuatku panik dan takut. Aku belum terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Padahal, tidak seharusnya aku panik.
Akan tetapi, saat ini aku hanya ditemani dua pengawal dan sopir dalam satu mobil dan tidak ada pengawalan lain.
Aku masih mendengar Sergey--salah satu pengawal mencoba menghubungi Alonso melalui sambungan telepon. Sementara, Sarah berusaha melindungiku dari serangan musuh.
"Seseorang ingin mencelakai kita. Nyonya jangan takut. Sergey telah menghubungi tuan. Bantuan akan segera datang. Tetaplah merunduk, Nyonya," ucap Sarah memohon.
"Sarah, apa yang harus kita lakukan sekarang? Sergey, bagaimana? Apa kau berhasil menghubungi Alonso?" tanyaku tidak sabar.
"Nyonya tenang saja. Tuan sedang dalam perjalanan menyusul kita. Tetaplah merunduk. Kami tidak ingin terjadi sesuatu pada nyonya yang akan membuat tuan Alonso membunuh kami berdua," ucap Sergey padaku.
"Berapa lama lagi kita akan menunggu Alonso datang? A-aku benar-benar takut. Sarah, kau juga harus melindungi dirimu!" teriakku pada dua pengawal.
Aku benar-benar takut kali ini. Siapa mereka yang mencoba mencelakai kami. Aku orang baru di sini, dan seingatku, tak punya musuh.
Saat ini, aku benar-benar membutuhkan kehadiran Alonso. Hanya isak tangis tertahan yang bisa ku lakukan saat ini, berharap semua segera berakhir.
Salah satu bodyguard kelihatannya terkena tembakan. Aku berteriak karena panik, dan itu membuat Sarah ikut panik melihatku. Beruntung, tak lama terlihat dua mobil seperti berusaha melindungi kami.
"Sarah! Kendalikan mobil ini! sopir kita tertembak. Sergey! ambil alih kemudi!" teriakku panik.
"Nyonya, kumohon tenanglah. Jangan membuat kami berdua ikut panik melihat keadaanmu," ucap Sarah padaku.
Aku semakin ketakutan ketika satu persatu mobil yang tadi mencoba menyelakai kami seperti terlempar dan tak lama terlihat api membakar mobil tersebut.
Masih satu mobil lagi yang berusaha untuk mendekati mobil yang ku tumpangi. Sarah berusaha terus melindungiku, Namun, sebuah peluru berhasil menembus lengan kananku, Aku berteriak memanggil nama Sarah yang juga terkena tembakan.
Aku berusaha lebih tenang dan tidak peduli darah mulai merembes dari sela tangan kananku. Justru, aku memikirkan dua pengawal pribadi yang mati-matian melindungi tubuhku dengan nyawa mereka.
Terlebih, melihat pengawal pribadiku juga ikut tertembak. Dia mulai nampak lemah dan tidak berdaya. Sepertinya, luka tembaknya lebih parah dibandingkan diriku. Tanpa sadar, aku mulai menangisi keadaannya dan juga nasib kami dalam mobil ini.
"Sarah, bertahanlah. Kumohon," teriakku menangis, tak peduli akan diriku.
"Nyonya, kau tidak apa-apa,?" tanya Sarah masih memikirkan keadaanku.
Aku memeluknya sangat erat berusaha memberi dia kekuatan. Hanya tangisan yang terdengar, sementara satu bodyguard masih berusaha keluar dari kejaran mereka.
Tak lama, mobil yang mengejar kami mengalami hal yang sama seperti mobil sebelumnya. pecah ban akibat di tembak oleh orang yang berada di dalam mobil lain, lalu kemudian terbalik dan terbakar.
Sergey menghentikan mobil kami, dan tak lama sebuah mobil menghampiri. Aku masih terus memeluk Sarah yang semakin melemah akibat darah yang terus keluar.
Aku mendengar suara seseorang yang meneriakkan namaku. Aku menatap ke arahnya, dan melihat siluet suamiku yang panik melihat keadaanku.
"Alonso ...," kemudian gelap melandaku.