Sepupu

1374 Kata
"Sayang, mulai hari ini aku tak mau jika kau mengajakku bertemu dengan para sahabat-sahabatmu di luar sana. Lebih baik, aku menunggumu di rumah," kataku pada Alonso masih di atas tempat tidur dengan tangannya masih memeluk pundakku erat. "Kau masih marah atas kejadian hari ini, istriku,?" tanyanya menatap ke arahku lembut dan merasa bersalah. "Tidak, Sayang. Aku hanya tak ingin sahabat-sahabatmu berpikir yang tak enak tentang diriku jika ada kejadian seperti tadi," jawabku menenangkan dirinya. "Kau tenang saja, Sayang. Tidak akan ada yang berani melakukan hal itu lagi padamu. Mereka hanya masa lalu buatku, dan kamu masa depanku, sekarang dan selamanya. Jangan berpikir karena kehadiranmu membuat mereka tak nyaman. Justru mereka harus berpikir dua kali jika menyakitimu," kata Alonso panjang lebar. "Jangan kau lakukan apapun pada mereka, Sayang. Berjanjilah padaku. Aku mohon," ucap ku menatap sendu ke arah Alonso yang juga menatapku, lalu tersenyum dan memelukku erat. "As you wish, My love ...," bisiknya di telingaku. Alonso tak membiarkan diriku beranjak sedikitpun dari tempat tidur. Seharian ini, kami hanya memadu kasih, dan hanya istirahat untuk makan saja. Dia benar-benar tak membiarkan diriku bergerak kemana pun. Seolah takut, jika dia terbangun dan tak menemukan diriku di sampingnya. "Aku mencintaimu, Arunika ...," ucapnya penuh cinta menatapku. "Aku juga mencintaimu, Alonso ...," jawabku memeluk dirinya erat sesaat setelah percintaan kami yang entah keberapa kalinya. Alonso tertidur lelap setelahnya. Itu kesempatanku untuk menatapnya dengan puas. Dia sangat polos, dan menggemaskan. Terkadang, aku tak mengenali dirinya saat amarah melanda. Namun, dia akan kembali bersikap lembut, di saat aku menenangkannya. "Bayi besarku, entah sampai kapan kau akan bersikap posesif seperti ini. Terima kasih, sudah hadir dalam hidupku, dan membuatku bahagia," ucapku dalam hati kemudian mencium bibirnya lembut, lalu memutuskan untuk tidur. Selamat malam, Alonso ..." *** "Sudah kalian dapatkan semua informasi yang ku minta,?" tanya seseorang pada orang yang ada di depannya saat ini. "Sudah, Bos. Ini semua data mengenai perempuan itu," jawab mereka menyerahkan satu berkas dokumen lengkap dan menaruhnya di atas meja. "Kerja bagus. Kalian boleh pergi sekarang. Aku akan kembali memanggil setelah membaca semua dokumen ini. Pergilah," ucap lelaki itu tanpa menatap sedikitpun ke arah anak buahnya. "Baik, Bos. Kalau begitu, kami permisi," ucap mereka sambil berlalu meninggalkan ruangan itu. Lelaki itu tetap fokus, dan mulai membuka berkas yang berisi beberapa data diri juga foto seorang perempuan di dalamnya. Dia tersenyum misterius saat menatap foto yang ada di tangannya. "Arunika ..., kau adalah senjataku untuk menghancurkan Alonso. Sebentar lagi, aku akan melihat kehancurannya, dan ini atas bantuanmu. Akan ku buat dirimu membenci suamimu sendiri, dan membalaskan dendamku padanya," ucap laki-laki yang tersenyum lebar sambil terus memandang foto Arunika. Dia lalu beranjak dari meja kerja menuju satu ruangan yang selama ini tak pernah mau dimasuki, karena ada kenangan buruk di dalam sana. Ragu tangannya membuka knop pintu yang menghubungkan ruangan kerjanya dengan kamar itu. Lelaki itu memutuskan untuk membuka pintu itu dan kemudian melangkah pelan masuk ke dalam. Hembusan nafas tertahan menahan sesak di d**a, saat matanya terpaku pada sebuah lukisan seorang perempuan muda yang tersenyum ke arahnya. Lama dia menatap lukisan itu, matanya sudah mulai berembun, dan mungkin sebentar lagi akan meneteskan air mata jika dia terus memandangi lukisan itu. "Isabell, sebentar lagi aku akan membalaskan kematianmu. Akan ku buat Alonso menangis darah seperti halnya yang dia lakukan dulu padamu. Aku akan membuatnya menderita, memisahkannya dia dengan istri yang sangat dia cintai saat ini," ucap lelaki itu menahan gemuruh amarah saat mengucapkan nama Alonso di depan lukisan itu. "Tenanglah kau di sana. Biar aku di sini yang membalaskan semua sakit hatimu, Isabell," ucapnya kembali dengan lirih dan beranjak pergi meninggalkan kamar itu. "Dmitriy, sayang ... apa yang kau lakukan di kamar itu,?" tanya seorang perempuan sambil berjalan pelan ke arahnya. "Tidak ada. Untuk apa kau di sini,? siapa yang mengizinkan kamu masuk ke ruanganku,?" ucapnya tak suka menatap ke arah perempuan itu. "Aku calon istrimu, dan aku tak perlu izin siapa pun untuk memasuki rumah calon suamiku," ucapnya angkuh menatap lelaki yang berubah dingin di depannya. "Pergi dari sini sekarang juga, sebelum aku membunuh dan menghancurkan impianmu, Liona!" ucapnya menatap tajam ke arah perempuan itu. "Dmitriy, aku ...," ucapnya tertahan. "Pergi kataku!" Dmitriy mengulang ucapannya dan menatap Liona dengan penuh amarah. Setelah memastikan Liona keluar dari ruangannya, dia segera membereskan dokumen yang ada di depan meja kerjanya. Dia berharap Liona belum melihat dokumen dan juga foto yang ada di dalamnya. "Aku akan menghabisi siapapun yang mencoba menghalangiku. Termasuk Liona ...," ucap Dmitriy dingin. *** Aku benar-benar tak terima, Arunika menikah dengan seorang pria tampan dan juga kaya raya. Bodohnya, Aku. Seandainya saja aku tahu Alonso De Alma itu adalah pria yang sangat tampan, pasti tidak akan ku tolak permintaan papa untuk menikah dengannya. Sungguh beruntung, Arunika. Gadis bodoh yang selama ini hidup dari belas kasihan keluargaku semenjak kedua orangtuanya meninggal dalam suatu kecelakaan pesawat. Sebenarnya, aku dan juga kedua orang tua harus berterima kasih pada mendiang orang tua Arunika. Jika mereka tidak mati, belum tentu aku dan juga keluargaku mencicipi kehidupan mewah. Kedua orang tuaku memang manusia serakah, sama seperti diriku tentu saja. Setelah berpura-pura baik dan meyakinkan pihak pengacara untuk mengurus Arunika yang saat itu masih berduka karena kematian orangtuanya. Mereka berdua berhasil meyakinkan Arunika. hingga akhirnya semua kekayaan jatuh ke tangan orang tuaku. Aku yang tadinya bukan siapa-siapa, kini menjadi banyak teman karena kekayaan yang keluargaku miliki. Tapi, ternyata papa melakukan hal bodoh. Dia berhutang pada salah mafia, dan menjadikan aset kekayaan sebagai jaminan pembayaran pinjaman. Tapi, karena hutang papa terlalu banyak, maka papa memutuskan untuk menjadikan aku sebagai jaminan untuk dinikahkan oleh mafia itu. Saat itu aku menolak, karena menurut mama, Alonso itu seorang bandot tua yang punya banyak istri. Akhirnya, papa memutuskan Arunika yang akan menggantikan diriku menikah dengan Alonso. Seandainya dulu aku tak menolak, mungkin saat ini aku akan menjadi nyonya Alonso de Alma yang kaya raya. Semenjak penghinaan yang aku dan kedua orangtuaku lakukan terhadap Arunika. Orang suruhan Alonso mengambil seluruh aset kekayaan kami, dan menempatkan diri kami di sebuah rumah kecil di sudut kota Italia. "Ini semua gara-gara kau, Danisa! Jika saja kau bisa menahan dirimu untuk tidak menghina Arunika di depan tuan Alonso, pasti hidup kita masih baik-baik saja," ucap papa memarahiku. "Kenapa hanya aku yang disalahkan,? Papa juga bersalah, karena telah membohongiku. Jika saja papa mengatakan padaku dari awal kalau tuan Alonso itu masih muda dan tampan, pasti saat ini aku sudah menjadi nyonya Alonso de Alma yang kaya raya itu," sahutku balik memarahi papa. "Itu karena papa tidak pernah bertemu dengan tuan Alonso secara langsung. Papa juga tidak menyangka, dia masih semuda itu," jawab papaku menyesali kebodohannya. "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Edric,? saat ini kita sudah tidak punya apapun juga. Seluruh aset kita telah disita oleh pihak tuan Alonso. Kita tak punya persediaan apa pun untuk makan dan melanjutkan hidup," ucap mama terlihat sangat frustasi. "Jual saja perhiasanmu untuk memenuhi kebutuhan kita sementara waktu, sampai aku mendapatkan pekerjaan," jawaban papa membuat mama marah dan menolak anjurannya. "Enak saja kau suruh aku menjual perhiasan ini. Kau yang seharusnya memberiku uang untuk kebutuhan kita, Edric!" jawab mama penuh tekanan emosi. Aku berlalu pergi memasuki kamar. dan meninggalkan mereka berdua yang masih berdebat. Sungguh, aku benci rumah ini. Tak ada pendingin ruangan. Beruntung mereka mengizinkanku untuk membawa tempat tidur kesayanganku ke rumah ini. "Awas saja kau Arunika. Aku tidak akan tinggal diam. Akan ku balas semua perlakuanmu pada kami," ucapku penuh nada ancaman mengingat perlakuan Arunika dan juga Alonso. suaminya pada keluargaku. "Ku pastikan penderitaan hidupmu akan berlanjut, meski kau kini sudah menjadi istri Alonso de Alma. Aku akan merebut dia dari sisimu, dan kemudian membuangmu ke jalanan seperti sampah!" ucapku tak sabar. Aku sungguh dendam pada Arunika. Karena dia, aku harus mendapat hinaan dari semua teman-teman kampus. Mereka tak ada lagi yang mau berteman denganku, karena melihatku yang telah jatuh miskin seperti dulu. Sementara Liona, sahabat Arunika yang pernah ku bantu untuk mendapatkan Delon, kekasih Arunika, seolah tutup mata dan tak peduli padaku. Aku juga mendengar berita jika saat ini keluarga mereka berdua juga tengah mengalami kesulitan yang diakibatkan ulah Liona dan juga Delon. Mereka tidak sengaja telah menghina Arunika di sebuah mall, tanpa mereka sadari dengan siapa mereka berhadapan. "Lagi-lagi Arunika ..., kenapa dia harus jadi biang keladi atas semua yang terjadi pada kami semua," ucapku geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN