Singkirkan Dia

1130 Kata
"Alonso ..., My Goodness, kemana saja kamu baru kelihatan? kau menghilang begitu saja tanpa kabar berita. Aku kehilanganmu." Seorang wanita tiba-tiba datang menghampiri Alonso dan langsung memeluknya. Terlihat begitu manja padanya. Siapa dia, apakah dia tak tahu jika Alonso sudah menikah? Beberapa orang yang hadir nampak tak suka dengan keberadaan wanita itu. Mereka pun menatap ke arahku yang begitu tenang melihat peristiwa itu. Mungkin mereka bertanya-tanya, "mengapa aku tak marah." Aku memang kesal, tapi aku bukan anak kemarin sore yang akan berteriak dan membuat keributan di tempat ini. Cukup berdiri menjauh dan menepi di balkon yang terdapat pemandangan sangat menawan. Aku masih melihat Alonso menatapku ketika aku beranjak dari hadapannya tanpa bicara. Dia tahu aku kesal, tapi aku tak peduli dan terus berjalan tanpa menoleh ke arahnya lagi. Entah apa yang terjadi selanjutnya pada wanita itu. Masih ku ingat apa yang sudah terjadi pada Fiona dan juga beberapa wanita yang mencoba membuatku terluka. Nasib mereka sampai kini tidak lagi ku ketahui. Mungkin Alonso sudah menyuruh orang untuk mengusir para wanita itu, atau mungkin juga dia sudah meminta sekretaris Chan untuk menyingkirkan para benalu tersebut. Aku terlalu asik menatap ke arah taman yang berada tepat di balkon rumah ini. Sampai ku merasa ada tangan yang melingkar dan memeluk pinggangku erat. Alonso ..., dia tiba-tiba ada di sini tanpa kata, hanya memelukku. Aku mencoba untuk melepaskan pelukannya, tapi dia semakin mengeratkan pelukannya hingga aku kesulitan untuk bernapas. "Tetaplah seperti ini, sayang. Jangan bergerak. Aku tak ingin kehilangan momen ini bersamamu," ucapnya masih terus memelukku. Kepalanya menyandar di punggungku. Hembusan nafasnya seolah menggelitik seluruh tubuhku. Aku merasa tidak nyaman dan mencoba melepaskannya. "Alonso, lepaskan. aku tak bisa bernapas," kataku padanya. "Berjanjilah kau tidak akan melakukan hal seperti tadi," katanya padaku. "Melakukan apa,? perasaan aku tak melakukan hal apa pun yang membuatmu kecewa," jawabku padanya. "Meninggalkanku pergi begitu saja dalam pelukan seorang w************n, tanpa bicara sepatah kata pun. Apa itu tindakan yang dibenarkan,?" kata Alonso padaku. "Maaf. Aku hanya tak ingin mengganggu kesenangan wanita itu karena baru bertemu lagi denganmu," kataku padanya. "Tapi aku tak suka dan tak sudi tubuhku dipeluk oleh w************n itu. Aku merasa kotor, sampai akhirnya aku minta sekertaris Chan membawakan baju ganti dan membuang baju ke dalam tempat sampah," jawabnya tanpa berdosa sedikitpun. "Kau mandi dan berganti pakaian,? Mengapa,?" tanyaku penasaran. "Karena aku tak mau saat kau bersamaku, tercium aroma wanita itu. Aku hanya ingin aroma tubuhmu yang melekat di tubuhku," katanya romantis. Aku tersipu mendengar jawabannya yang sangat romantis dan mampu membuatku bahagia. Aku semakin lama semakin mencintai suamiku, meskipun terkadang tingkahnya sangat arogan di beberapa suasana. "Kita pulang sekarang, sayang. Tiba-tiba saja aku ingin berduaan saja denganmu," ucap Alonso yang membuat bulu kuduk berdiri. "I-iya, kita pulang sekarang, sayang," kataku gugup menahan gejolak perasaanku. "Kau gugup, sayangku ... hmm," tanyanya semakin mempererat pelukannya. "Alonso, kita pulang sekarang sebelum ada orang melihat kelakuanmu," ucapku yang akhirnya mampu membuatnya melepaskan pelukannya. Dia menatap ke arahku, menyusuri wajahku dengan jari tangannya. Kemudian, menarik tubuhku mendekat ke arahnya, lalu mencium lembut bibirku. "Jangan pernah lagi kau tinggalkan aku begitu saja, Arunika. Kau tahu, aku bisa gila tanpa dirimu disisiku. Mengertilah," katanya sesaat setelah dia menciumku. "Maafkan, aku hanya tidak ingin memperlihatkan kecemburuan di hadapan semua teman-temanmu di dalam sana. Jangan marah," jawabku menatapnya. "Kau cemburu, sayang,? benarkah,?" tanyanya tersenyum penuh arti. Aku menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Tanpa disangka, dia tersenyum bahagia sekali. Menatapku dan kemudian memelukku erat. "Terima kasih sayang, akhirnya ..." teriaknya bahagia. "Akhirnya apa, Alonso,?" tanyaku tak mengerti. "Akhirnya kau mengakui perasaanmu bahwa kau cemburu. Kau tahu, aku juga cemburu ketika semua lelaki yang ada di dalam sana menatapmu lapar. Aku jadi ingin mencongkel kedua mata mereka, biar tak lagi memandangmu," katanya berapi-api. "Jangan lakukan hal kejam itu, Alonso!" kataku memperingatkannya. "Tidak sayang, selama kau bersamaku, tak akan ada hal kejam terjadi, kecuali ada orang yang berani menyakitimu," jawabnya padaku. "Kita pulang sekarang, Alonso. Aku sudah tak nyaman disini. Lain kali, aku tak mau mendampingimu untuk datang ke setiap pesta. Cukup kau dan sekretaris Chan saja yang datang," ucapku meminta persetujuannya. "Baiklah, kau cukup menungguku di rumah dan berdandan cantik hanya untukku, sayang ...," jawabnya menciumku dalam sekali lagi. *** Aku tak suka melihat sinar matanya yang menyiratkan luka saat wanita gila itu memelukku dengan sengaja di depan matanya. Arunika pergi berlalu begitu saja ketika wanita itu makin berani. untuk menciumku di depan teman-temanku. "Chan ..." teriakku sesaat setelah tak ku lihat lagi tubuh Arunika di ruangan itu. "Singkirkan w************n ini dari hadapanku! Jangan sampai aku melihatnya lagi di sini atau di mana pun juga!" ucapku sambil melepaskan pelukan wanita itu dari tubuhku. "Baik, tuan Alonso. Kalian! cepat bawa wanita ini menjauh dari sini, singkirkan seperti permintaan tuan Alonso," ucap Sekertaris pribadiku pada para pengawalku. "Bawakan aku baju ganti, setelah itu buang bajunya atau bakar. Aku tak sudi bajuku ada aroma murahan melekat," kataku lagi. "Baik, tuan. Sebentar akan ku minta salah satu pengawal mengambilkan baju yang baru" ucap Chan kembali. Semua orang yang ada di sana hanya terdiam tanpa berani mengatakan apa pun. Mereka tak mau berurusan denganku. Siapa pun yang berani, pasti tak akan lama hidupnya. "Alonso ... sayang, kenapa kau tega melakukan hal ini padaku,? apa kau lupa kebersamaan kita dahulu,?" teriak Alora padaku. "Diam kau! w************n ..., kau telah membuat istriku bersedih. Sudah ku katakan, tidak ada yang boleh membuatnya bersedih, dan kau ...," bentakku pada Alora. "I-istri,? siapa yang kau sebut istri,? Kau milikku, dan tidak ada satu orang pun yang bisa merebutmu dariku, Alonso," teriak Alora putus asa. "Dmitry ..., anak buahku atau anak buahmu yang harus menyingkirkan benalu murahan ini dari hadapanku,?" ancaman pada Dimitri "Biar aku saja. Ini kediamanku, dan aku tak suka ada orang yang mempermalukan tamuku," jawab Dmitriy yang langsung meminta anak buahnya untuk menyingkirkan Alora. Aku langsung meminjam salah satu kamar untuk mengganti baju yang disentuh oleh Alora dan kemudian menyuruh Chan membakarnya. Alonso segera mencari keberadaan istrinya. Dia melihat Arunika sedang berdiri di balkon menghadap taman. Alonso langsung menghampiri dan memeluk erat pinggang istrinya itu. "Kita pulang sekarang, Arunika ... saat ini aku hanya ingin berdua denganmu." Setelah mengucapkan hal itu, aku langsung menggandeng tangannya dan pergi meninggalkan kediaman Dmitriy. "Maaf atas kekacauan yang terjadi dan membuat kalian tidak nyaman. Sungguh aku tak menyangka Alora ...," "Jangan di teruskan ucapan itu. Aku tak marah padamu. Next time kita akan bertemu lagi, sahabat. Kami pulang dulu." "Maafkan aku, tuan Dmitriy. Ini semua tidak akan terjadi jika saja aku tak ikut bersama Alonso tadi," kata Arunika pada sahabatku. "Tidak, ini bukan kesalahanmu. Aku memang sengaja membuat pesta. kecil ini untuk kalian. Namun, aku tak menyangka kejadiannya akan seperti ini," jawab Dmitriy. "Sekali lagi, maaf ..." "Dmitriy, besok kita akan bertemu lagi untuk menyambung pembicaraan hari ini. Kami pulang dulu," ucapku tersenyum dan memeluk sahabatku. "Hati-hati, Alonso."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN