Cemburu

1288 Kata
"Kau adalah hidup dan matiku, Arunika ..." =Alonso= "Selamat datang di istana kita, Arunika ...," ucap Alonso sesaat setelah penjaga membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi layaknya gerbang istana. "Kau tidak sedang bercanda kan,Alonso,?" tanya Arunika tak percaya. "Untuk apa aku bohong padamu,? Aku sengaja membawamu ke tempat ini untuk berbulan madu, apakah kau tidak suka,?" tanya Alonso. "Bukan begitu, aku hanya tidak percaya berada di tempat seindah ini. Seperti mimpi rasanya bisa berada di tempat ini," jawab Arunika masih tak percaya. "Percayalah, ini nyata ...," ucap Alonso yang mencubit pelan tangan istrinya. "Aw, sakit. Mengapa kau mencubitku,?" tanya Arunika kesal. "Supaya kamu percaya bahwa ini adalah kenyataan, bukan mimpi," jawab Alonso tertawa. Arunika memandang tak percaya bisa berada di tempat yang pernah dia impikan dulu. Dia pernah melihat istana ini di satu postingan media sosialnya. Mengunggah ulang postingan itu dengan caption "wish i can be there one day." Dan sekarang, impian itu menjadi kenyataan. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata ini milik Alonso, lelaki yang kini menjadi suaminya. Dia benar-benar tak habis pikir, siapa sebenarnya Alonso. "Kau bahagia, Arunika,?" tanya Alonso. "Tentu saja aku bahagia. Terima kasih sudah mewujudkan impianku di masa lalu," ucap Arunika tulus. Alonso hanya tersenyum melihat kebahagiaan istrinya. Dia melihat saat ini istrinya berlari layaknya gadis remaja yang baru bertemu idolanya. Terkadang menjerit tertahan kala melihat sesuatu yang membuatnya kagum. Arunika berlari dan memeluk erat sambil terus mengucapkan terima kasih padanya. Pancaran kebahagiaan terlihat jelas di mata Arunika. "Terima kasih, sayang ...," ucapnya menahan haru. "Sebaiknya kita segera masuk sebelum hujan turun. Kau tak sadar tetesan air mulai turun,?" ucap Alonso. Arunika kembali dibuat kagum dengan suasana di dalam rumah yang berbentuk istana ini. Interior bergaya klasik namun terlihat elegan, memanjakan matanya. "Sampai kapan kau akan mengaguminya,? kita akan tinggal lama di sini untuk berbulan madu, dan kau bisa mengelilingi tempat ini sepuasnya tiap hari, sayang," ucap Alonso. "Aku hanya terpesona melihat keindahan dalam bangunan rumah ini. Sangat sempurna," sahut Arunika. "Sebaiknya kita istirahat dulu, nanti kau masih bisa mengaguminya," kata Alonso langsung menarik istrinya ke dalam kamar utama. Arunika menuruti perkataan suaminya dan langsung memasuki kamar mereka. Sementara beberapa orang yang ikut serta dalam perjalanan ini sudah memasuki kamar mereka masing-masing. Kamar utama yang ditempati Arunika dan Alonso memiliki kasur ukuran King size. Ranjang yang didesain bergaya klasik dan elegan membuat Arunika seperti berada dalam dunia fantasi kisah kerajaan. "Bersihkan dirimu dan kemudian beristirahatlah. Aku akan keluar sebentar bersama Chan untuk menemui dua sahabatku. Kau tidak keberatan jika ku tinggal sebentar bukan,?" tanya Alonso. "Pergilah, dan cepat kembali," jawab Arunika tersenyum. "Terima kasih, aku pasti akan cepat kembali setelah semua urusanku selesai," jawab Alonso kemudian berlalu pergi keluar kamar dan meninggalkan Arunika sendiri. "Ku harap ini semua bukanlah mimpi ...," kata Aruna dalam kamarnya. *** Sepeninggal Alonso di rumah peristirahatan mereka yang megah itu, Arunika memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu suaminya kembali. Dia masih tidak percaya bisa berada di tempat yang menjadi impiannya sejak lama. Terlebih, saat mengetahui bahwa istana yang dia kagumi selama ini milik suaminya, Alonso. Sebenarnya, sekaya apa suaminya itu, hingga bisa memiliki semua ini. Entah apa lagi kejutan yang akan diterima selanjutnya. Yang pasti, dia bersyukur Alonso sangat melindunginya. Arunika sadar, dia menikah dengan seorang pengusaha besar, dan dia harus menjaga nama baik suaminya sebagai balasan atas segala kebaikan yang telah dia terima selama ini. Seandainya Arunika tahu, selain sebagai pengusaha, Alonso juga adalah seorang mafia yang terkenal sangat kejam dalam mengeksekusi lawan-lawannya, mungkin dia akan semakin terkejut. "Semoga kebahagiaan selalu bersama kami berdua. Sudah cukup rasanya kesedihan menimpaku, dan aku hanya ingin melupakan semua masa lalu yang kelam bersama mereka yang ku sebut keluarga dulu," ucapnya termenung mencoba melupakan. Arunika tertidur sangat pulas setelah itu, sampai tak tahu Alonso sudah kembali dan sedang menatapnya dengan kagum. "Arunika ... kau bidadariku," ucap Alonso lirih dan memilih untuk ikut tidur di samping istrinya tanpa membangunkan. Malam ini akan berlalu sangat panjang. Alonso dan Arunika tertidur pulas dalam buaian mimpi-mimpi mereka tentang indahnya kebersamaan dan kebahagiaan. Mereka tak akan pernah tahu, di depan sana akan banyak halangan dan rintangan yang akan menguji seberapa kuat cinta mereka satu sama lain. *** "Ya Tuhan, Alonso ... Maafkan. Aku tak tahu kau kembali semalam," Ucap Arunika terpekik kaget di pagi hari melihat Alonso di sampingnya. "Selamat pagi istriku. Kau kelihatan lelah sekali, hingga tak sadar aku kembali. Sengaja aku tak membanggunkanmu, karena tahu kemarin perjalanan kita sungguh panjang," jawab Alonso tersenyum menatap Arunika, istrinya. "Maafkan aku, seharusnya aku bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuk kita. Tapi, justru kau yang ...," uvapan Arunika terpotong dengan sentuhan jari Alonso di bibir, dan menyuruhnya untuk diam. "Jangan terus mengucapkan kata maaf. Kau tidak bersalah. Aku yang memang ingin membuatkan sarapan untuk dirimu pagi ini. Please, jangan pernah merasa sungkan padaku," jawabnya tersenyum manis pada Arunika. Terima kasih, sayang ... Kau perhatian sekali padaku. Aku merasa terharu," ucap Arunika kembali. "Bangun dan kemudian sarapan. Hari ini aku akan mengajakmu bertemu dengan teman-teman yang memang tinggal di negara ini," ucap Alonso pada Arunika. Arunika menuruti semua perkataan Alonso tanpa membantah. Dia segera bangun, kemudian membersihkan diri terlebih dahulu, dan setelah itu sarapan bersama suaminya. Selesai sarapan, Alonso menepati janjinya untuk membawa Arunika menemui para sahabatnya. Sekretaris Chan sudah menunggu mereka di depan mobil saat mereka sudah akan bersiap pergi. Melaju dengan kecepatan sedang, mobil membawa mereka menuju sebuah bangunan yang tak kalah mewah dari tempat tinggal Alonso. Di sana telah menunggu para sahabatnya yang tak sabar ingin mengenal wanita yang telah memikat hati seorang ketua mafia itu. Suara ketukan stiletto Arunika memecah keramaian tempat itu. Mereka sontak terdiam saat melihat seorang wanita yang terlihat anggun dan mempesona berjalan di samping Alonso yang memegang erat jemari tangannya. Ternyata benar, wanita ini sangat mengagumkan. Pantas saja Alonso tergila-gila padanya. Para lelaki yang melihat Arunika tak bisa menutupi kekaguman mereka, "seandainya saja aku yang berada di samping wanita itu," ucap mereka hanya dalam hati. Sebab mereka tak akan berani mengatakan secara langsung, jika tak ingin berurusan dengan Alonso, sang Mafia yang dapat melakukan apa saja untuk melindungi miliknya. "Akhirnya, bintang utama yang kita tunggu datang juga. Selamat datang Alonso dan siapa wanita mengagumkan yang datang bersamamu ini,?" tanya Dmitriy, pemilik tempat mewah ini. "Dia Arunika, istriku ...," jawab Alonso tersenyum bangga ketika memperkenalkan Arunika di hadapan teman-temannya. "Jadi ini, wanita yang sudah berhasil menaklukkan laki-laki yang terkenal sedingin es,? kau benar-benar hebat, nona Arunika. Senang bisa mengenalmu," ucap Dmitriy mengulurkan tangannya. Arunika tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Dia menatap ke arah Alonso seperti meminta izin. Setelah Alonso menganggukkan kepala dan tersenyum, dia baru berani menyambut uluran tangan Dmitriy dan tersenyum ramah. "Senang berkenalan denganmu, tuan Dimitri. Terima kasih sudah mengundang kami di tempat ini," jawab Arunika. "Ayo, ku perkenalkan pada yang lain. Alonso, jangan terlalu mengekangnya, nanti istrimu merasa tak nyaman di sini. Tenang saja, tak akan ada orang yang berani mendekati istrimu, hahaha," kata Dmitriy menggoda Alonso yang hanya tersenyum mendengarnya. Bagaimana Alonso bisa merasa tenang, jika semua laki-laki di ruangan ini tengah memandang istrinya bagai singa lapar. Entah mengapa dia merasa menyesal membawa Arunika ke tempat ini dan membuatnya tak nyaman dengan perasaan yang ada di hatinya. "Perasaan apa ini, mengapa aku merasa tidak suka melihat tatapan mereka ke arah istriku. Apakah aku ... Cemburu,?" ucap Alonso dalam hati. Arunika seolah tahu jika suaminya tak nyaman dengan tatapan orang-orang dalam ruangan ini. Dia mencoba menenangkan Alonso dengan membalas genggaman tangan Alonso erat, seolah menegaskan jika dia adalah miliknya. Alonso menatap istrinya dan tersenyum hangat, "Terima kasih, sayangku ...," ucap Alonso di telinga istrinya lirih. Arunika hanya tersenyum membalas ucapan suaminya. Baru kali ini dia melihat Alonso tak merasa nyaman di tempat seramai ini. Biasanya, dia yang mempunyai perasaan itu. Namun, saat ini justru Alonso yang merasakan hal tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN