Kejutan Manis

1085 Kata
"Kenapa Delon tidak menjawab semua pesan yang dikirim, telepon pun tidak diangkat. Apa yang sebenarnya terjadi padanya," ucap Liona berpikir keras. Nasib keluarga Liona tidak jauh berbeda dengan keluarga Delon, kekasihnya. Karena kesalahan Liona dan juga Delon, keluarga Merek turut menjadi korban. Mau tidak mau, suka tidak suka, Liona harus mulai terbiasa hidup di rumah kecil milik salah satu keluarga papanya yang berbaik hati meminjamkan rumah mereka. Tuan Fernando di pecat dari bank tempat dia bekerja selama ini. Kasus money laundry yang melibatkan dirinya telah menyebabkan dia harus menerima kenyataan pahit di pecat secara tidak hormat. Semua aset kekayaannya turut disita oleh pihak bank untuk membayar semua kerugian yang ditimbulkan selama ini. Istrinya sangat terpukul dan merasa malu, karena selama ini dia tidak pernah mengetahui kejahatan yang dilakukan suaminya. Tuan Fernando juga tidak pernah mengetahui kelakuan anak gadisnya selama ini. Mereka pikir anak mereka adalah gadis yang baik dan tidak pernah mempermalukan keluarga. Akan tetapi, kejadian di mall yang melibatkan istri seorang mafia telah membuka mata mereka tentang kelakuan putrinya. "Untuk apa lagi kau hubungi Delon,? Papa dan mama yakin, dia tidak akan pernah mau berhubungan lagi setelah apa yang sudah kamu lakukan terhadap keluarganya," kata tuan Fernando. "Apa maksud papa,? Delon tidak akan melakukan hal itu padaku. Dia sudah berjanji bahwa kami akan terus bersama apapun keadaannya," jawab Liona penuh keyakinan. "Saat ini istri Eduardo, orangtua Delon tengah koma di rumah sakit akibat tidak bisa Menerima kenyataan yang menimpa keluarga mereka. Dan kau, masih berani menghubungi anak mereka setelah apa yang terjadi,?" kata tuan Fernando. Liona terdiam. Dia tidak pernah menyangka akan begini akibatnya. Niatnya hanya ingin mempermalukan Arunika dan membuatnya terpuruk. Namun, justru dia dan Delon juga keluarga mereka harus menanggung akibat dari perbuatannya. Dia tidak menyangka, Arunika menikah dengan pria tampan dan kaya raya. Seharusnya bukan ini yang dia harapkan. Dia merasa bahagia ketika Danisa mengabarkan bahwa Arunika akan dinikahkan untuk membayar hutang-hutang keluarga mereka. "Arunika akan dinikahkan dengan seorang bandot tua sebagai pembayaran hutang orang tuanya di masa lalu. Sekarang kau bisa tenang karena tidak ada lagi yang akan menghalangi kisahmu bersama Delon," kata Danisa satu hari. "Ini adalah berita yang sangat membahagiakan diriku. Akhirnya, aku bisa menghancurkan Arunika, dan Delon ... selamanya dia akan menjadi milikku, hahaha," kata Liona tertawa bahagia. Tapi semua impian dan juga kebahagiaannya hancur dalam sekejap mata setelah dia mengetahui bahwa Arunika bukan menikah dengan bandot tua melainkan seorang pemuda tampan dan juga kaya raya. "Sial ... Kenapa nasibmu selalu lebih baik dariku, Arunika. Dulu aku sengaja merebut Delon karena aku ingin menghancurkanmu, tapi kenapa kau tetap saja beruntung mendapatkan pria itu,?" teriak Liona frustasi. "Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus bisa merebut pria itu dari sisi Arunika. Aku harus menggantikan posisinya menjadi istri dari Alonso De Alma, harus ...," ucap Liona penuh ambisi. Liona tetap saja menyimpan kebencian dan juga iri hatinya pada Arunika, sahabatnya dulu. Dia tidak pernah menyadari, apa yang direncanakan hanya akan berbalik pada dirinya sendiri. "Tunggu saja Arunika, aku akan merebut Alonso dari sisimu," kata Liona dalam hati. *** Alonso sengaja tak memberitahu pada Arunika, istrinya kemana mereka akan pergi saat ini. Dia ingin memberi satu kejutan manis yang akan membuatnya tersenyum bahagia. "Akan ku lakukan apa pun untuk membuatmu bahagia, Arunika ...," ucap Alonso tersenyum menatap wajah istrinya yang terlelap. Tring ... [Kami sudah melaksanakan perintah untuk menghancurkan bisnis keluarga Eduardo dan Fernando, bos] [Bagus, pastikan mereka merasakan apa yang pernah istriku alami dulu, terutama pada anak-anak mereka. Jangan biarkan perusahaan mana pun menerima mereka bekerja] [Baik, bos] Alonso segera mengakhiri percakapan dengan anak buahnya melalui pesan ketika terlihat gerakan pelan Arunika dalam tidurnya. Dia tidak ingin istrinya merasa terganggu. "Kepolosan terkadang bisa membahayakan dirimu sendiri, sayang. Mengapa kau tunjukan kelemahan itu pada semua orang, hingga mereka bebas menyakitimu," ucap Alonso dalam hati sambil mengelus rambut istrinya lembut. "Tapi sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti bahkan menyentuhmu. Selama kau bersamaku, tidak akan ada siapa pun berani mendekatimu," kata Alonso lagi dalam hati. Rasa kantuk membuat Alonso ikut tertidur di samping istrinya. Keduanya terlihat sangat lelah, sehingga siapapun tidak akan berani membangunkannya. ??? "Suamiku, bangunlah ...," kata Arunika menyentuh pipi Alonso. Alonso menggeliat dan mengerjapkan matanya pelan sebelum akhirnya menemukan wajah Arunika tengah menatap wajahnya. "Hmm ... kau sudah bangun, Arunika,?" tanya Alonso setengah mengantuk. "Sudah dari lima menit yang lalu, dan sepertinya pesawat yang membawa kita sudah sampai ke tempat tujuan," jawab Arunika. "Mengapa tidak ada yang memberitahukan padaku,?" tanya Alonso kembali. "Sekretaris Chan tadi sudah ke sini, tapi tidak berani untuk mengganggu kita, jadi dia menunggu sampai salah satu dari kita bangun, "ucap Arunika lagi. "Owh begitu. Ya sudah lebih baik kita bersiap saja," sahut Alonso sambil bangkit dari tempat tidur. Arunika pun segera merapikan diri sambil menunggu Alonso bersiap. Setelah itu mereka berdua turun dari pesawat pribadi milik Alonso lalu masuk ke dalam mobil yang sudah tersedia di dekat landasan pesawat. Arunika penasaran kemana mereka akan pergi sebenarnya. Namun, dia tak berani bertanya pada Alonso, suaminya. Mobil yang mereka tumpangi melaju membelah jalan dengan menyuguhkan pemandangan indah di bahu jalan menuju satu tempat. Terlihat hamparan luas padang rumput di mana terdapat sapi-sapi berukuran besar tengah merumput di sana. Sementara pegunungan yang diselimuti pepohonan rindang, menambah keindahan yang membuat Arunika terkagum-kagum di buatnya. "Cantik sekali," katanya pelan. Alonso hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang polos. Dia bagai anak kecil yang menemukan mainan kesayangan saat menatap hamparan padang rumput dan pegunungan. "Alonso, sebenarnya kau mau mengajakku ke mana,?" tanya Arunika penasaran. "Sebentar lagi kita sampai. Kau pasti akan menyukai tempat itu," jawab Alonso. "Kau membuatku semakin penasaran," ucap Arunika merajuk. Alonso hanya tersenyum melihat kelakuan Arunika. Dia memang sengaja melakukan hal itu untuk menggodanya. "Bersabarlah, kita sampai sebentar lagi," kata Alonso menggenggam tangan Arunika. Tidak berapa lama, sampailah mereka di sebuah gerbang yang menjulang tinggi di antara rerimbunan pohon pinus. "Selamat datang di istana kita, Arunika ..." Dirinya tidak tahu lagi harus berkata apa. Alonso sangat memanjakan matanya dengan kejutan-kejutan yang membuat Arunika terharu. Seperti saat ini, dia melihat sebuah rumah yang telah lama menjadi impiannya kini berada di depan mata. Sebuah rumah yang berada di dalam hutan Pinus di mana dirinya bisa menghabiskan waktu dan memanjakan matanya dengan keindahan alam. "Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal ini, Sayang ... Aku merasa malu karena dirimu terus menghujaniku dengan hadiah-hadiah mewah yang tidak terduga," ungkap Arunika penuh rasa haru. "Itu karena aku mencintaimu, Arunika. Jangankan rumah ... Jika kau minta aku mengambilkan bulan, aku pasti akan pergi dan memberikannya padamu," ungkap Alonso yang membuat Arunika tertawa. "Terima kasih, Sayangku ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN