Bangkrut

1085 Kata
Arunika terus berjalan di sisi Alonso, suaminya. Diiringi tatapan banyak orang, mereka pergi berlalu meninggalkan kedua orang yang telah menghinanya sedemikian rupa. Arunika sesekali menatap ke arah suaminya. Dia tidak pernah menyangka, Alonso melindunginya sedemikian rupa di depan orang banyak. Arunika tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya dia jika suaminya tidak datang saat itu. Mungkin Liona dan Delon akan berhasil mempermalukan dirinya. "Terima kasih ...," ucapannya berbisik pelan di telinga Alonso. Alonso berhenti dan menatap ke arah istrinya. Dia tersenyum tanpa kata, menggenggam erat jemari tangan Arunika lalu kembali berjalan menuju mobil yang sudah menanti mereka di lobby utama. Arunika segera memasuki mobil di susul Alonso yang duduk di sampingnya. Mereka saling memandang satu sama lain tanpa kata. Dia tidak pernah menyangka, di balik dinginnya sikap Alonso, tersimpan kelembutan di sana. "Lain kali, jika ada orang yang menghinamu, lawan ..., mungkin hari ini aku bisa membantumu, tapi jika aku tak ada, siapa yang akan membelamu, Arunika,?" kata Alonso padaku. "Maafkan aku, dan sekali lagi terima kasih untuk hari ini," jawabku menatapnya. "Sudahlah lupakan hal itu. Sekarang aku akan mengajakmu ke suatu tempat, tapi sebelum itu kita makan dulu," ucap Alonso tersenyum hangat. Aku hanya menganggukan kepala menyetujuinya. Kebetulan aku tak sempat makan siang karena insiden itu. Begitu juga para pengawal dan kepala pelayan yang menemaniku. "Alonso, apa kau serius dengan ucapanmu tentang keluarga mereka,?" tanyaku padanya. "Tentu saja. Aku tidak pernah main-main dalam hal apapun. Mengapa kau tanyakan itu,? Apakah kau kasihan pada mereka,?" tanyanya menyelidik. "Tidak, bukan begitu. Aku justru merasa senang dan puas melihat kehancuran mereka. Biar mereka tahu bagaimana rasanya hidup dalam hinaan," jawabku. Alonso menggenggam tanganku erat dan tersenyum padaku. Menatapku penuh rasa cinta. Entah mengapa hatiku berdebar ketika tatapan kami bertemu. "Mulai sekarang, belajarlah menjadi nyonya Alonso yang angkuh. Balas semua orang yang berani menghina mu, mengerti,!" ucapnya menekankan. "Iya, aku mengerti," jawabku. Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara kami. Sepanjang perjalanan kami mulai sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Aku berpikir bagaimana keadaan Delon dan Liona setelah hari ini. Aku tak bisa membayangkan, mereka akan sanggup menjalani kehidupan baru sebagai orang biasa. "Aku tidak ada maksud untuk membuat kalian seperti ini. Tapi setidaknya, dengan kejadian ini semoga kalian akan sadar dan berubah menjadi lebih baik," ucapku dalam hati. "Danisa ... begitu bencinya dirimu padaku, dan ku harap kau akan menyadari kesalahanmu kali ini," kataku lagi dalam hati. Tibalah mereka di sebuah restoran mewah yang berada di pinggir danau. Alonso mengajakku turun menuju ruangan yang memang sudah di pesan sebelum kami datang. "Chan ... ajak semua anak buahmu untuk beristirahat dan makan," kata Alonso sebelum masuk ke dalam ruangan bersamaku. "Baik, tuan. Terima kasih atas kemurahan hatimu," ucap sekertaris Chan menunduk ke arah Alonso dan kemudian tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya dan kemudian mengikuti Alonso masuk ke dalam restoran. "Manisnya ...," ucapku tersenyum. Alonso hanya tersenyum dan terus menggenggam tanganku. *** Sementara itu di tempat lain, Delon dan keluarganya bersiap meninggalkan rumah yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga. Karena kebodohan putranya, Eduardo harus kehilangan segala miliknya. Bisnis orang tua Delon benar-benar dihancurkan dalam sekejap mata oleh seorang Alonso de Alma, seorang mafia yang disegani kalangan pengusaha dan juga pemerintahan, sekaligus suami dari Arunika, mantan tunangannya. Tidak ada yang boleh membawa barang-barang berharga apa pun keluar dari rumah itu, karena tuan Alonso yang memintanya pada pihak terkait. Semua aset mereka dibekukan oleh pihak bank sampai bisa melunasi hutang-hutang perusahaan. Kedua orangtua Delon sangat terpukul, terutama nyonya Eduardo. Serangan jantung membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit. Sementara tuan Eduardo hanya bisa terdiam menyaksikan kehancuran keluarga akibat kebodohan putra yang tidak bisa dia andalkan selama ini. "Kau puas melihat kehancuran keluarga kita, anak bodoh,!" ucap tuan Eduardo menahan amarah. "Maafkan aku, Pah. Sungguh, aku tak menyangka akan begini akibatnya," jawab Delon menunduk takut. "Seharusnya kau menyadari kesalahanmu sedari dulu. Aku sudah pernah mengatakan padamu, Liona hanya akan mendatangkan masalah untuk keluarga kita, tapi kau tak pernah percaya," kata tuan Eduardo lagi. Delon hanya tertunduk menahan malu dan juga rasa amarah pada Liona. Dia baru menyadari dan menyesali kebodohannya. "Sekarang, apa yang harus kita lakukan pah,?" tanya Delon. "Bukan aku yang harus berpikir, tapi kau ... Kau yang harus mencari jalan keluar atas semua kekacauan ini. Aku tak akan memaafkan jika terjadi sesuatu pada mamamu," ucap tuan Eduardo mengancam. "Kak ... pokoknya kakak harus bisa mengembalikan kekayaan keluarga kita. Apa kata teman-teman jika mereka tahu aku miskin, mereka pasti akan menjauhiku, dan ini semua karena ulahmu dan kekasihmu itu,!" ucap Abriel marah. "Lalu, di mana kita akan tinggal sekarang,?" tanya Delon lagi. "Sementara ini, kita tinggal di pinggiran kota. Ada teman papa yang masih berbaik hati meminjamkan rumah mereka sampai kita mendapatkan tempat tinggal," jawab tuan Eduardo. "Kalian berdua pergilah ke sana untuk istirahat. Papa akan menjaga mama malam ini, semoga besok dia akan sadar dan bisa menerima kenyataan ini, pergilah," kata tuan Eduardo pada putra putrinya. Delon membawa Abriel menggunakan mobil pinjaman teman papa ke tempat di mana mereka akan tinggal. Sepanjang jalan Abriel hanya diam dan tak mau menegur kakaknya. Dia sangat marah dan juga membenci Delon dan juga Liona. Sesampainya di sana, Delon hanya melihat sebuah rumah kecil yang sangat sederhana sekali. Jauh berbeda dari rumah mewah yang selama ini mereka tempati. "Tempat apa ini,? Apakah ini layak dikatakan sebuah rumah,?" ucap Abriel sinis sambil menatap rumah itu. "Diamlah kau, Abriel. Mulai sekarang kita harus terbiasa dengan ini semua. Berdoalah semoga ini lekas berlalu," kata Delon setengah marah. "Ini semua gara-gara kamu, Kak. Seandainya kau dan pacarmu itu tidak mencari masalah, mungkin kehidupan kita akan baik-baik saja," teriak Abriel yang langsung masuk ke dalam rumah dengan membawa koper berisi pakaiannya. Sementara Delon, dia hanya bisa merutuki kebodohannya. Seandainya dia tidak menuruti keinginan Liona untuk menghina Arunika, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. "Maafkan aku, Arunika ...," ucap Delon lirih dalam hati. Dering telepon menyadarkan lamunannya. Delon hanya melirik pada layar telepon dan melihat nama Liona di sana. Dia enggan menjawab panggilan dan juga membalas pesan-pesan Line yang masuk semenjak kemarin. Delin merasa tidak ada gunanya hubungan mereka berdua di lanjutkan setelah apa yang menimpa keluarganya. Dia harus mulai membiasakan diri tanpa Liona dan juga kekayaan keluarganya yang hilang akibat kebodohannya. Mungkin ini karma atas segala hal yang pernah diperbuat pada Arunika dulu. "Aku harus mendatangi kediaman tuan Alonso dan meminta maaf padanya dan juga pada Arunika. Semoga mereka berdua mau memaafkanku," ucap Delon optimis. Dia tidak pernah tahu , baik Alonso maupun Arunika tidak akan pernah memaafkannya. Mereka ingin menghukum Delon dan juga Liona terlebih dahulu, supaya menyadari semua kesalahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN