Masa lalu

1728 Kata
Sebulan setelah pernikahannya dengan Alonso, perlahan kehidupan Arunika pun berubah. Biasanya dia yang melayani keluarga Edric, tapi kini dia yang dilayani oleh para pelayan yang memang disiapkan Alonso untuknya. Rumah mewah dengan furniture yang harganya bisa untuk memberi makan anak-anak tidak mampu di luar sana, dan juga para penjaga yang selalu siap dua puluh empat jam bergantian menjaga kediaman mereka. Mulanya Arunika tidak merasa nyaman dengan segala kemewahan dan penjagaan yang ketat seperti itu. Namun, ucapan Alonso membuat dia berpikir ulang untuk menolak semuanya. "Saat ini kau adalah istri dari Alonso de Alma, seorang pengusaha yang sangat disegani oleh siapapun. Aku punya banyak musuh di luar sana, dan tidak mau mengambil resiko besar yang bisa membahayakan nyawamu. Jadi, mengertilah. Semua ini demi keselamatan dirimu," ucap Alonso ketika aku mencoba menolak semua kemewahan yang dia berikan. Aku hanya bisa mengangguk dan menerima semua fasilitas ini, tapi bukan berarti aku berubah arogan dan sombong. Justru aku memperlakukan semua orang di rumah ini layaknya sebuah keluarga, dan mereka merasa diperlakukan seperti manusia olehku dan juga Alonso. Itu sebab mereka sangat setia dan melindungiku. Pernikahan kami juga berjalan baik-baik saja. Kami berdua masih saling mengenal karakter satu sama lain. Tidak mudah rasanya, karena terkadang Alonso bisa berubah menjadi pribadi yang misterius, dan terkadang dia bisa menjadi laki-laki yang hangat. "Sayang ... Aku bosan berada di rumah setiap hari, bolehkah aku keluar rumah untuk jalan-jalan,?" pintaku pada suamiku. "Kau mau kemana,?" tanyanya menyelidik. "Aku hanya ingin ke salon dan berjalan-jalan ke mall untuk menyenangkan diri, bolehkan,?" ucapku memohon. "Tapi aku tidak bisa menemanimu, bagaimana jika terjadi sesuatu,?" ucapnya khawatir. "Dengan beberapa bodyguard bersamaku, apakah kau masih tidak yakin akan keselamatanku,?" kataku meyakinkan. Alonso berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujui permintaanku. Meskipun aku harus menerima persyaratan, aku tetap patuhi, yang penting aku bisa jalan-jalan. "Baiklah, tapi ingat kau harus ditemani beberapa penjaga dan kepala pelayan harus ikut denganmu. Terima persyaratan atau tidak sama sekali," katanya setengah mengancam. "Baiklah, Alonso. Kau kan tahu aku tidak bisa menolak keinginanmu," jawabku tersenyum. === Di sinilah Arunika sekarang, sebuah pusat perbelanjaan mewah terkenal di Italia. Ditemani beberapa bodyguard dan juga kepala pelayan yang setia menemaninya selama ini. Tidak nampak sekali di mata orang bahwa mereka adalah anak buahnya, karena saat ini mereka semua berpakaian casual dan santai. Arunika memang sengaja meminta mereka memakai pakaian itu supaya tidak ada jarak di antara mereka. Namun bukan berarti mereka memanfaatkan kebaikan Arunika, justru mereka sangat menghormati dan melindungi majikan perempuannya itu. Seperti yang terjadi hari ini, mereka melihat bagaimana sepasang kekasih menghina dan melecehkan Arunika, akan tetapi dia tidak membalas perlakuan itu, justru dia hanya diam menahan kesedihan dan kemarahannya. "Arunika ... Ngapain kamu di sini,?" suara itu langsung membuat Arunika menengok ke arahnya, dan dia melihat mantan kekasih dan sahabatnya berada di sana. "Delon ... Liona," jawabnya lirih menahan sakit melihat kemesraan mereka. "Waah, dapat kakap kayaknya setelah putus darimu, sayang ...," sindir Liona padanya. "Bukankah ku dengar perusahaan pamanmu sudah bangkrut,? Lalu dari mana kau dapatkan uang untuk berbelanja di mall mewah ini,?" tanya Delon sambil menatapku tajam. "Ya dari mana lagi kalau bukan hasil menjual dirinya sama om-om kaya," ucap Liona menyakitkan hatiku. Arunika meminta seluruh anak buahnya untuk tidak berbuat keributan dengan membalas perlakuan mereka terhadapnya, dengan tatapan mata memohon, dia meminta anak buahnya pura-pura tidak tahu. "Dari mana aku mendapatkan uang untuk membeli semua ini bukan urusan kalian," jawabku datar. "Sudah pandai menjawab kamu sekarang. Jadi benar yang dikatakan Danisa bahwa kau sudah menjual dirimu pada orang kaya demi mendapatkan keinginanmu,? rendah sekali harga dirimu, Arunika!" ucap Delon menyudutkannya. "Sekarang kau percaya ucapanku kan sayang, dia tidak pantas mendampingi dirimu. Lihat saja, demi kepuasan pribadinya, dia tega membuat keluarga pamannya menderita dan malu, beruntung aku segera menyadari dan menjauhimu," lanjut Liona lagi. Ucapan mereka berdua terasa menyakitkan, terlebih fitnahan yang sudah Danisa sebarkan pada semua orang mengenai dirinya semakin membuatnya terluka. Tanpa sadar air matanya sudah menetes dari sela pipinya. Dia hanya bisa diam menahan semua ejekan mereka. Tapi, kemarahan suara laki-laki yang melihat kejadian itu membuat semua orang yang berada di sana menjadi ketakutan. Terutama Arunika, dia tidak pernah melihat kemarahan begitu besar pada lelaki yang mulai mengisi relung hatinya. "Berani sekali kalian menghina istriku seperti ini di depan orang banyak." Arunika segera melihat ke arah datangnya suara dan melihat wajah suaminya yang tidak bisa menahan amarah. "Alonso ..." *** "Hinaan orang adalah salah satu cara pembuktian diri untuk berbuat lebih baik." =Arunika= "Berani sekali kalian menghina istriku di depan orang banyak,?" "Alonso ..." Dia hanya menatapku sekilas dan menyiratkan untuk aku tetap diam. Sejurus kemudian, dia kembali menatap sepasang kekasih yang tadi sudah menghinaku dengan kata-kata kasar dan menyakitkan. Beberapa anak buah Alonso langsung mengelilingi Delon dan Liona, dan itu menyebabkan kebingungan yang teramat besar pada keduanya. Mereka hanya menatap satu sama lain di iringi tatapan emosi para pengunjung mall yang melihat kejadian itu. "S-siapa kau, mengapa ikut campur urusan kami,?" tanya Delon dengan gugup. "Apa kau masih kurang jelas dengan perkataanku tadi,?" jawab Alonso dingin. "Jadi, kau ...," ucap mereka bersamaan. "Aku tegaskan sekali lagi pada kalian berdua. Aku adalah suaminya, dan dia adalah istriku. Siapa pun yang berani menghinanya, sama artinya mereka menghinaku," jelasnya pada mereka berdua. "Tidak mungkin ... Danisa bilang padaku Arunika menikah dengan seorang bandot tua demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tapi ...," ucap Liona tidak percaya. Aku tidak bisa lagi menahan tawa mendengar ucapan Liona tentang suamiku, dan langsung menghampiri Alonso lalu menggenggam tangannya erat. "Apakah kalian melihat sosok bandot tua di sini,?" tanyaku tersenyum sinis. Liona menatapku penuh kebencian. Sepertinya dia iri dengan apa yang terlihat di depan matanya kini. Sementara Delon, dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi. "Berapa kau beli perempuan ini untuk menjadi istrimu, tuan,?" tanya Liona tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. "Kau tahu nona, perempuan yang kalian anggap rendah dan murahan ini, jauh lebih baik daripada dirimu. Dia tidak pernah memakan daging saudaranya sendiri dan merebut apa yang pernah menjadi miliknya. Jadi, kalau kau bertanya berapa harganya,? Dia tak bisa dinilai oleh apa pun di dunia ini," jawab Alonso menatapku penuh cinta. Liona sangat malu karena perkataan Alonso menyinggung dirinya yang memang telah merebut apa yang pernah menjadi milik Arunika, yaitu Delon, lelaki yang kini menjadi kekasihnya. "Sombong sekali kau tuan. Jangan karena kau dikelilingi oleh anak buah yang akan melindungi kalian, bukan berarti aku takut padamu. Kau tidak tahu siapa keluargaku dan juga pekerjaan kekasihku," ucapnya penuh kesombongan. Alonso hanya tersenyum dan kemudian memanggil sekretarisnya untuk memperlihatkan sesuatu. "Sekretaris Chan ... Bisa kau jelaskan padaku tentang kedua pasangan ini,?" ucap Alonso menatapnya tajam. "Nona Liona Antonio. Putri tunggal tuan Fredric Antonio , seorang pengusaha di bidang tekstil dan orang terkaya nomor lima di Italia. Saat ini diketahui perusahaan mereka sedang dalam keadaan goyah karena defisit dan tidak mampu lagi bersaing dengan industri lain," ucap Chan yang mampu membuat Liona menjadi pucat pasi mendengarnya. "Tuan Delon, putra seorang bankir bernama Eduardo yang saat ini diketahui tengah terlibat bisnis money laundry, dan sedang dalam penyelidikan pihak interpol," ucap Chan melanjutkan. "Tidak mungkin, papaku bukan seperti yang kau sebutkan tadi. Kalian pasto berbohong," teriak Delon tanpa malu di depan para pengunjung mall yang kian penasaran dengan apa yang terjadi. "Kalian hanya menutupi kemiskinan dan menjelekkan nama baik keluarga kami. Akan ku adukan ini semua pada papa karena berani menghina mereka," ucap Liona penuh amarah. "Kalian berdua tidak perlu susah payah memanggil kedua orangtua. Sebentar lagi mereka akan tiba, dan kita lihat, siapa yang kalian anggap miskin di sini," jawab Alonso tersenyum dingin. Tidak berapa lama, muncul dua orang lelaki yang ditemani oleh beberapa orang menghampiri kerumunan. Nampak raut wajah ketakutan ketika melihat Alonso di sana. Sementara di depannya, nampak putra dan putri mereka yang berlari menghampiri kedua orangtua dan mengadukan apa yang telah terjadi pada mereka, berharap mendapatkan perlindungan namun ternyata ... "Liona ... Mengapa kau berada di sini,? Bukankah kau bilang hari ini akan sidang skripsi,?" tanya tuan Fredric pada putrinya. "Sidang skripsiku sudah selesai, papa. Jangan alihkan pembicaraan. Aku minta papa membawa kasus hinaan yang telah dilakukan oleh laki-laki ini pada papa dan juga om Eduardo," kata Liona pura-pura menangis. "Apa maksudmu, Liona,?" tanyanya tidak mengerti. "Biar aku jelaskan tuan Fredric. Mulanya putrimu dan juga kekasihnya telah berani menghina dan mempermalukan istriku di depan para pengunjung mall ini. Kau pasti tahu apa hukuman yang akan kuberikan jika menghina seorang Alonso de Alma, bukan,?" ucap Alonso menatap tajam ke arah mereka. "T-tuan Alonso, tolong maafkan putriku, dia tidak tahu saat ini berhadapan dengan siapa. Nyonya, tolong maafkan dia, ku mohon," ucap tuan Fredric ketakutan. "Papa ... mengapa kau justru memohon pada mereka,? Kedudukan papa lebih tinggi dari pada orang-orang itu ...," teriak Liona tanpa malu. "Plak ..." Satu tamparan keras melayang ke pipi Liona, dan itu membuatnya kaget. Begitu juga dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu. "Tutup mulutmu! Kau tidak tahu dengan siapa kita berhadapan sekarang,? Dia adalah tuan Alonso de Alma, seorang Miliarder dan pemilik mall ini, jika dia mau saat ini juga kita semua akan dimasukan ke dalam penjara," ucap tuan Fredric penuh amarah. "Kalian berdua, cepat minta maaf pada tuan dan nyonya Alonso sekarang juga!" ucap kedua orang tua itu. Akan tetapi Liona dan juga Delon tidak ada yang bergerak sedikit pun untuk meminta maaf. Mereka tidak peduli, padahal perbuatan itu akan membuat keluarga mereka hancur. "Baiklah kalau begitu ... Chan, beritahukan pada semua kolega untuk menarik semua saham dari perusahaan mereka. Katakan ini perintahku, jika ada yang berani melawan, maka aku sendiri yang akan datang menghancurkan mereka, " ucap Alonso sambil menarik tangan Arunika dan meninggalkan mall tersebut. Sementara kedua orang tua Liona dan dan juga Delon hanya bisa pasrah dan menatap marah pada putra juga putri mereka. "Kalian salah memilih musuh, sekarang kita sudah tidak punya apa pun lagi, kita akan jatuh miskin dan dikucilkan oleh orang-orang," ucap tuan Fredric lirih. "Apa maksud papa, itu tidak mungkin terjadi, mereka hanya pengusaha biasa," ucap Liona masih tidak mengerti. "Kalian salah, tuan Alonso de Alma adalah seorang mafia yang ditakuti oleh semua orang di negara ini," ucap tuan Eduardo lirih. "Apa ... jadi ...," ucap Delon tidak percaya. "Kalian telah menjadikan keluarga kita miskin, sudah puas,?" ucap tuan Fredric sambil berlalu pergi. "Papa ... Maafkan Liona," ucapnya sambil mengejar tuan Fredric. Sementara Delon hanya bisa menatap papanya dengan perasaan bersalah. Dia telah menghancurkan keluarga dengan kesombongan, kini dia juga harus bersiap mendapatkan hujatan dari seluruh keluarga besarnya di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN