"Mengapa papa tidak pernah mengatakan jika tuan Alonso itu masih muda,? Seandainya aku tahu sejak awal, aku rela menikah dengannya," bisik Danisa iri melihat Arunika bersanding dengan pria tampan.
"Mana papa tahu. Selama ini papa tidak pernah berhubungan langsung dengannya. Dia selalu menolak bertemu dengan siapa pun, kecuali masalah penting," jawab Edric berbisik.
"Jadi menurut papa kita ini bukan orang penting?" ucap Danisa kesal.
"Sudahlah, lupakan. Seharusnya kau senang sekarang karena Arunika mau menikah dengannya. Dengan begitu, papa dan mama bisa bebas dari jerat hutang, dan keluarga kita akan semakin disegani karena pernikahan ini,"ucap Edrick penuh percaya diri.
Dia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada keluarganya setelah ini. Sekilas pandangan mata Edrick bertemu dengan Arunika, dan dia merasakan perbedaan yang mencolok sekali dari tatapan itu.
"Setelah ini, tidak akan ada lagi Arunika yang bisa kau permainkan hidupnya seperti dulu, paman. Kalian akan mendapatkan balasan atas apa yang pernah terjadi padaku selama ini," ucap Arunika dalam hati.
Pesta pun berakhir, semua tamu sudah beranjak pulang. Hanya keluarga inti yang masih tersisa di sana, termasuk Edric dan juga anak istrinya. Sementara, keluarga orangtua Alonso sudah terlebih dahulu meninggalkan pesta karena ada hal yang harus mereka lakukan di Italia.
Arunika nampak sedang menikmati hidangan di meja yang memang disediakan oleh pihak wedding organizer untuk kedua pengantin. Sementara Alonso masih menemani beberapa koleganya.
Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Edric dan keluarganya. Mereka langsung berjalan ke arah Arunika untuk mengatakan sesuatu padanya. Edric berharap Arunika akan memenuhi permintaannya menggelontorkan dana besar untuk membantu perusahaan yang dulunya milik orang tua Arunika, dan diakui sebagai miliknya setelah kematian mereka.
"Sekali lagi selamat atas pernikahan dirimu dan Alonso, Sayang," ucap Edric bersikap manis pada Arunika.
"Terima kasih, Paman," jawab Arunika tanpa menoleh sedikitpun ke arah mereka dan terus melanjutkan makan.
"Sombong sekali kau, sepupu. Jangan hanya karena kau berhasil menikah dengan tuan Alonso lalu seenaknya bersikap tidak sopan pada orang tuaku," ucap Danisa sinis.
Arunika menghentikan suapannya dan meletakkan kembali sendok di atas piring lalu menatap ke arah sepupunya tajam.
"Lalu, menurutmu aku harus apa? Berlutut di kaki kedua orang tuamu dan berterima kasih padanya? Apa kau lupa, aku menikahi Alonso sebagai jaminan hutang orang tuamu!" jawab Arunika masih tetap melanjutkan makannya.
"Danisa, jaga sikapmu! Jangan buat mama dan papa malu! Gertak bibi Lora yang sanggup membuat Danisa semakin membenci Arunika.
Dia lalu mengambil gelas yang berisi air dan menyiramkan ke wajah Arunika. Danisa lupa saat ini dia sedang berhadapan dengan siapa. Semua orang kini menatap ke arah mereka.
Arunika mencoba bersikap tenang dan tersenyum sinis menatap Danisa yang kini beringsut mundur kala pandangan mata keduanya bertemu. Dia berdiri dan berjalan ke arah sepupunya lalu menatap dengan pandangan rendah.
Sementara, Edric dan juga istrinya ketakutan sekaligus merasa malu akan sikap putrinya pada Arunika. Terlebih, ketika melihat tatapan marah dari seorang pria di ujung sana yang melihat perbuatan putri mereka.
Danisa memang tidak pernah tahu siapa dan apa pekerjaan Alonso sebenarnya. Dia hanya tahu Alonso seorang pengusaha muda yang sukses dari hasil browsing selama beberapa hari ini.
Plak!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Danisa. Meninggalkan bekas merah di sana. Edrick dan istrinya tidak pernah menyangka keponakan yang selama ini diam ternyata sanggup melakukan hal itu.
"Kau bilang aku sombong? Kau berani mempermalukanku di depan semua tamu, sepupu! Apa kau tidak tahu berhadapan dengan siapa saat ini?" ucap Arunika dingin.
"Kurang ajar, kamu berani menamparku! Aku tidak terima! Kau harus merasakan sakit yang aku rasakan sekarang," teriak Danisa tanpa malu dan berusaha untuk menampar Arunika.
"Hentikan!"
Suara itu sanggup menghentikan Danisa yang kini merasakan aura membunuh dari seorang Alonso yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kau berani menyentuh istriku, Jalang!? Apa sebelum melakukannya, kau sudah tahu konsekuensinya?" tanya Alonso tajam.
"T-tuan Alonso, tolong maafkan putriku. Dia tidak sengaja melakukan hal itu. Arunika, maafkan sepupumu," ucap paman Edrick memohon.
"Tuan Edric, kau tahu, selama ini aku tidak pernah memaafkan musuh-musuhku bukan? Terlebih orang yang sudah berani mempermalukan pasanganku," jawab Alonso sambil menatap tajam ke arah Edric dan keluarganya.
"Sekretaris Chan, bawa gadis ini sekarang juga! Kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk orang yang sudah mempermalukan istriku!" ucap Alonso memanggil orang kepercayaannya.
"Tuan Alonso, tolong maafkan putri kami, ampuni dia. Arunika, bantu paman dan bibi untuk menghentikan suamimu. Aku mohon," ucap Edrick berlutut dihadapan Arunika.
"Paman lebih tahu siapa suamiku. Seharusnya kalian menjaga sikap dan mengajari putrimu bagaimana bersikap," jawab Arunika berlalu pergi.
"Arunika, tolong maafkan Danisa, sepupumu. Bibi mohon ..."
Arunika tak bergeming dengan suara tangisan paman dan bibinya. Hatinya sudah menjadi beku setiap mengingat perbuatan yang telah mereka lakukan padanya selama ini.
Sementara Alonso, dia tersenyum menatap kepergian istrinya. Dia bangga melihat perubahan itu. Setelah tidak lagi melihat bayangan tubuh sang istri, kembali Alonso melirik tajam pada Edric dan istrinya.
"Kalian harus membayar semua perbuatan yang pernah dialami oleh istriku di masa lalu, camkan itu!" kata Alonso pada Edrick dan istrinya sambil berlalu pergi menyusul Arunika.
Sementara, Edrick dan istrinya hanya menatap kepergian Alonso dan Arunika dalam tangis keputusasaan mereka. Berdoa semoga putrinya tidak mengalami hal yang mengerikan.
Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa menatap iba ke arah mereka berdua. Sekaligus berharap kejadian itu tidak menimpa keluarga mereka. Karena, melawan Alonso adalah kematian untuk mereka.
***
Arunika bergegas pergi meninggalkan ballroom hotel tempat resepsi pernikahannya dengan Alonso. Saat ini hatinya begitu sakit dan terluka. Semua ucapan yang terlontar dari mulut sepupunya membuat Arunika menyadari, orang yang kau anggap saudara selama ini suatu saat akan berubah menjadi musuh.
Jika saja Danisa tidak menampar pipinya di depan para tamu dan sebagian keluarga suaminya, mungkin dia tidak akan semarah ini dan menampar balik sepupunya itu.
Akan tetapi, tindakan Danisa membuatnya muak dan sakit hati. Selama ini dia selalu diam di perlakukan tidak adil oleh paman dan bibinya. Padahal tanpa di sadari, selama ini ini mereka hidup dari perusahaan warisan orang tuanya.
Dia tidak sanggup dipermalukan terus menerus oleh mereka. Terlebih di depan Alonso, suaminya. Harga dirinya seolah di injak-injak keluarganya sendiri.
"Papa, Mama ... Arunika tidak sanggup lagi," ucapnya lirih dalam tangis.
Dia tidak tahu sudah berapa lama berada di kamar yang seharusnya menjadi tempat memadu kasih bersama Alonso. Lelah membuat dia tertidur pulas, sampai sebuah sentuhan membuat Arunika terbangun.
Dia melihat Alonso--suaminya tepat berdiri disebelahnya. Menggenggam erat jemari tangan Arunika seakan takut terjadi sesuatu pada istri kecilnya itu. Tatapan mata keduanya bertemu kala Arunika mengucapkan kata maaf akan kekacauan yang terjadi di pesta mereka.
"Maafkan aku karena sudah membuat kekacauan di pesta kita tadi," ucapnya menunduk takut.
"Angkat kepalamu, Arunika!" ucap Alonso dingin.
Tanpa banyak bicara, dia pun menuruti perkataan suaminya. Arunika paham jika perkataan suaminya adalah sebuah perintah yang tidak boleh disanggah.
"Dengarkan aku. Kau tidak bersalah. Justru aku bangga dengan apa yang sudah kau lakukan pada mereka tadi. Itu benar-benar membuatku berpikir, tidak salah aku memilihmu menjadi istriku," ucapnya lembut sambil memegang daguku dengan tangannya.
"Aku hanya benci mereka selalu menghinaku. Selama ini aku selalu diam. Tapi, kali ini aku tidak bisa tinggal diam," kataku menahan geram.
"Seharusnya kau lakukan itu sejak dulu, supaya mereka sadar siapa sebenarnya mereka tanpamu," ucap Alonso menguatkan istrinya.
Arunika hanya menurut saat Alonso membawanya masuk ke dalam mobil dan langsung meninggalkan lobby hotel. Mereka tidak peduli dengan para tamu yang mungkin akan mencari keduanya.
"Istirahatlah, kau sudah melewati hari yang berat. Bersihkan dirimu dan ganti baju supaya lebih segar," ucapnya lagi padaku.
Setelah mengucapkan hal itu, Alonso berlalu keluar kamar dan membiarkan aku sendiri. Namun sebelum dia benar-benar pergi, aku masih sempat menanyakan keadaan paman dan bibi juga Danisa.
"Tunggu, Alonso. Bagaimana keadaan mereka sekarang?" tanyaku penasaran.
"Kau tenang saja, anak buahku saat ini sudah mengurus mereka dengan sangat baik," jawabnya tersenyum penuh misteri.
"Alonso, kau yakin tidak melakukan apa pun pada mereka bertiga, 'kan?" tanyaku lagi.
"Tentu saja tidak. Seperti keinginanmu. aku akan menepati janji dan membiarkanmu membalaskan dendam tanpa bantuan dariku. Meski pada akhirnya mereka akan berhadapan denganku juga," jawabnya kembali tersenyum dan berlalu pergi.
Arunika semakin penasaran dengan keadaan mereka. Namun akan menjadi hal yang menakutkan jika dia terus menanyakan hal yang sama pada Alonso--suaminya.