Alonso De Alma

626 Kata
"Aku benci orang lemah, bagiku kelemahan adalah kematian. Siapa pun yang menjadi pasanganku kelak, harus wanita yang kuat dan tidak takut apa pun ... Sepertiku." =Alonso= *** Niatku saat itu hanya ingin bertemu dengan tuan Edrick untuk menagih janji yang sudah dia katakan padaku kala itu, menyerahkan keponakannya sendiri untuk membayarkan hutang-hutang mereka padaku. Awalnya aku tidak mau, akan tetapi saat Edrick memperlihatkan sebuah foto seorang gadis berwajah teduh dan menggetarkan hatiku, aku pun berubah pikiran dan berniat memilikinya. Kecantikan dan juga kepolosan gadis itu memikatku. Di binar matanya terpancar ketegaran dalam mengarungi hidup, namun terlihat pula kesedihan di sana.   "Aku harus menjadikan kau milikku,  Arunika ...," ucapku dalam hati.   Pagi ini aku sudah berada di depan jalan menuju rumah Edrick sebelum aku melihat sosok gadis yang ku rindukan berjalan tergesa-gesa keluar rumah menuju sebuah apartemen kecil yang terletak tidak beberapa blok dari kediaman Edrick.   "Mau apa dia ke apartemen itu, dan bertemu siapa,?" tanyaku dalam hati.   Aku bergegas turun dari mobil, sementara anak buahku berjaga di depan apartemen. Sengaja aku menjaga jarak dengannya, dan saat dia naik lift lalu berhenti di lantai tiga apartemen, aku pun ikut keluar dari lift itu. Arunika memang belum pernah mengenalku, jadi aku lebih tenang dan bebas mengikutinya.  Aku berpura-pura menjadi salah satu penghuni apartemen saat dia menatapku yang tengah berdiri tidak jauh dari pintu apartemen yang ingin dia masuki.   Tidak lama setelah itu, aku mendengar suara teriakannya dari dalam apartemen. Aku sengaja membuka pintu apartemen itu dan melihat semua kejadian itu dari balik pintu kamar di mana gadis yang aku cinta tengah di permalukan oleh pacar dan selingkuhannya. Tidak sedikitpun ku dengar suara tangisnya dari dalam kamar itu. Hanya suaranya terdengar lirih dan menahan kepedihan. Aku pun merasakan hal yang sama. Entah mengapa aku geram mendengar itu semua.   "Kalian berani menghina gadisku, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti,"kataku sambil menahan geram.   Tidak lama ku dengar Arunika berjalan pelan keluar kamar. Aku sudah keluar terlebih dahulu dan sebelumnya mengingat nomor kamar apartemen itu lalu turun menggunakan anak tangga supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Sesampainya di bawah, aku perintahkan salah satu anak buahku untuk mencari tahu siapa penghuni kamar nomor 125 yang berada di lantai tiga.   Tidak berapa lama ku lihat Arunika pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan hancur. Dia menangis dan terua berlari tanpa tujuan. Aku mengikutinya sampai akhirnya dia masuk ke dalam sebuah taman yang sepi dan menangis di sana.   Hatiku pun merasa sedih dan sakit mendengar suara jerit tangisnya saat itu. Entah mengapa begitu sakit. Itu tidak pernah aku rasakan sebelumnya pada gadis manapun yang aku kenal. Tapi Arunika, dia mampu membuatku merasakan hal itu. Dari kejauhan aku masih mendengar suara tangisnya sebelum tiba-tiba suara tangisan itu berubah menjadi suara teriakan tertahan, dan aku melihat Arunika limbung kemudian terjatuh dalam bangku taman itu. Aku berlari menghampiri dan menemukan pergelangan tangannya sudah dipenuhi oleh darah yang menggenangi tangannya. "Arunika ..." "Arunika ... Apa yang kau perbuat, dasar gadis bodoh!"   Aku langsung menggendongnya dan menyuruh anak buahku  membawa kami ke rumah sakit. Sesampainya di sana aku meminta dokter untuk menyelamatkan nyawa gadis itu.   "Selamatkan nyawa gadis itu, atau akan ku buat rumah sakit ini hancur!" ancamku pada semua orang yang berada di rumah sakit itu. Tanpa banyak bicara,  para petugas medis pun berusaha untuk menyelamatkan nyawa gadisku. Beruntung aku cepat membawanya ke sini, dan nyawanya dapat terselamatkan. Saat ini Arunika sudah berada di ruang perawatan VVIP dengan penjagaan ketat anak buahku. Tidak seorang pun bisa masuk ke kamar ini kecuali aku dan dokter juga suster yang merawatnya.   "Cari informasi tentang Arunika dan keluarganya, juga penghuni apartemen yang tadi dia datangi, jangan sampai terlewatkan, jika ingin nyawa kalian selamat, kerjakan!" ucapku memberi perintah pada anak buauku sambil menahan amarah. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Arunika ..." ucapku lirih menatapnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN