Taruhan di Klub Malam
Lampu klub malam itu kelap-kelip, warnanya saling bertabrakan mengikuti irama musik yang menghentak. Suasana ramai, tapi justru terasa menyenangkan.
Ziva Alessa Wardhani duduk santai di sofa sudut ruangan bersama teman-temannya. Rambut panjangnya tergerai rapi, dress modern yang dikenakannya terlihat sederhana tapi pas. Cantik tanpa usaha berlebihan, anggun tanpa terlihat kaku.
“Parah sih ini tempat,” ujar Keira sambil nyengir. “Akhirnya bisa keluar juga tanpa mikirin apa-apa.”
Ziva terkekeh. “Iya. Malam ini niatnya santai. Kepala lagi butuh hiburan.”
Nessa mengangguk sambil ikut menikmati musik. “Setuju. Minggu ini ribet semua. Kalau tidak ke sini, bisa stres duluan.”
Ziva menyandarkan punggungnya, matanya menatap keramaian di depan. “Nikmatin saja dulu. Besok urusan besok.”
Keira melirik Ziva dari ujung kepala sampai kaki. “Eh, jujur ya. Gaya malam ini beda banget. Biasanya hoodie, sekarang niat.”
Ziva tersenyum kecil. “Sesekali tampil rapi, tidak ada salahnya.”
“Cocok,” sahut Nessa. “Tetap kelihatan Ziva, tapi versi lebih kalem.”
Ziva tertawa pelan. “Yang penting nyaman. Kalau tidak nyaman, mau sekeren apa juga percuma.”
Mereka tertawa bersamaan. Musik berganti, lampu sedikit meredup. Gelas-gelas di meja beradu pelan. Malam itu terasa ringan, tanpa beban, tanpa drama.
Ziva menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.
Untuk beberapa jam ke depan, ia hanya ingin menikmati tawa, musik, dan kebersamaan. Tidak lebih.
Dan tanpa ia sadari, malam yang terasa biasa itu sedang menyiapkan awal dari sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.
Ziva baru saja menyesap minumannya ketika Nessa menyenggol lengannya pelan.
“Ziv, pacar lo kok enggak kelihatan?” tanya Nessa sambil menoleh ke sekitar.
Ziva mengangkat alis. “Ngapain datang? Gue sudah putus.”
Keira spontan menoleh. “Lah, putus kapan?”
Ziva mendengus kecil. “Sudah deh, jangan bahas itu. Malam ini niatnya senang-senang.”
Ia mengangkat gelasnya sedikit. “Oke? Kita nikmatin malam.”
“Cheers,” sahut mereka hampir bersamaan.
Sementara itu, pandangan Nessa teralih ke arah lain. Matanya melebar sedikit saat melihat seorang pria duduk di meja agak jauh. Kemeja putihnya rapi, posturnya tegap, wajahnya tenang tapi dingin. Kontras dengan suasana klub yang riuh.
“Gila…” gumam Nessa pelan.
“Apa?” tanya Keira.
“Itu om gue,” bisik Nessa, masih menatap ke arah sana. “Namanya Damar.”
Ziva melirik sekilas. “Serius? Yang kelihatan dingin itu?”
“Iya. Om gue paling anti tempat beginian. Perfeksionis, kaku, hidupnya kerja mulu,” jawab Nessa, masih tidak percaya. “Enggak nyangka bisa ketemu di klub.”
Nessa tiba-tiba tersenyum jahil. “Eh, gimana kalau taruhan?”
Ziva menoleh. “Taruhan apaan?”
Nessa menunjuk halus ke arah pria berkemeja putih itu. “Siapa pun yang bisa nyium pria itu, hadiahnya seratus juta.”
Keira langsung menggeleng cepat. “Gila. Enggak ikut-ikut gue.”
“Lewat,” sahut temannya yang lain. “Auranya serem.”
Nessa terkekeh. “Pada enggak berani, ya?”
Ziva menatap arah yang ditunjuk Nessa. Pria itu terlihat tenang, duduk santai bersama teman-temannya, sama sekali tidak tampak seperti orang yang suka cari perhatian.
Ziva tersenyum miring.
“Hm,” gumamnya.
Ia berdiri perlahan. “Gue coba.”
Nessa langsung menoleh cepat. “Serius, Ziv?”
“Iya,” jawab Ziva santai. “Awas, siapin uang lo. Jangan sampai mangkir.”
Nessa tertawa tidak percaya. “Oke. Gue tunggu.”
Ziva merapikan dress-nya sekilas, lalu melangkah pelan meninggalkan sofa. Jarak meja mereka dengan meja pria berkemeja putih itu tidak terlalu jauh, hanya beberapa meter.
Langkah Ziva mantap. Wajahnya tenang, seolah yang akan ia lakukan bukan sesuatu yang besar.
Dan tanpa ia sadari, satu langkah kecil malam itu akan mengubah banyak hal.
Ziva melangkah mantap mendekati meja om-nya Nessa.
"Hai, Om," sapa Ziva dengan nada yang tenang namun menggoda.
Seketika, semua teman Damar menoleh ke arah sumber suara. "Hai, cantik," ucap Julian yang langsung terpikat melihat kehadiran Ziva.
"Boleh gabung nggak?" tanya Ziva sambil memberikan senyum tipisnya.
"Oh, boleh! Silakan, cantik," sahut Bastian dengan antusias sembari mempersiapkan kursi kosong di sebelahnya untuk Ziva.
"Hmm, makasih ya," ucap Ziva singkat.
Namun, di luar dugaan semua orang, Ziva bukannya duduk di kursi yang telah disiapkan oleh Bastian. Ia justru melangkah lebih dekat ke arah Damar dan dengan berani langsung duduk di pangkuan pria itu.
Damar tersentak kaget. Tubuhnya menegang, namun sebelum ia sempat melayangkan protes, tangan Ziva sudah bergerak memegang wajahnya, membelai rahang dan pipinya dengan gerakan pelan yang provokatif.
Tanpa ragu, Ziva menunduk dan dengan lembut melumat bibir Damar di depan teman-temannya.
Damar yang awalnya terkejut, merasakan bibir manis Ziva menyentuh miliknya.
Naluri lelakinya terusik. Ia ingin memberikan pelajaran pada gadis ingusan yang sudah berani bermain api dengannya. Dengan gerakan refleks yang penuh d******i, Damar membalas ciuman itu, melumat bibir Ziva dengan intensitas yang begitu kuat hingga Ziva mulai kehabisan napas.
Merasa dunianya berputar dan pasokan oksigennya menipis, Ziva mulai panik. Ia berusaha melepaskan tautan ciuman mereka. Setelah berhasil terlepas, dengan wajah memerah dan napas tersengal, Ziva bergegas berdiri untuk meninggalkan meja itu secepat mungkin.
Namun, baru dua langkah ia menjauh, tangan Damar yang besar dan kuat langsung mencekal pergelangan tangannya, menghentikan langkah Ziva seketika.
Tangan Damar mencekal pergelangan Ziva tepat saat gadis itu hendak kabur.
“Tanggung jawab,” ucap Damar rendah. “Lo barusan bikin gue kelihatan kayak bahan tontonan di depan semua orang.”
Ziva berusaha menarik tangannya. “Lepasin.”
Tatapan Damar tajam. “Lo tahu enggak siapa gue?”
Ziva mendengus, masih mencoba melepaskan diri. “Emangnya siapa? Lo cuma om-nya Nessa, kan? Gue temannya Nessa.”
“Bukan soal itu,” jawab Damar dingin. “Lo sudah bikin nama gue kelihatan jelek.”
Ziva tertawa sinis. “Persetan sama nama baik. Lepasin, enggak?”
“Enggak,” jawab Damar singkat.
“Dibilangin lepas, Om,” Ziva menaikkan nada suaranya.
“Sekali gue bilang enggak, ya enggak,” balas Damar tegas. “Sekarang ikut gue.”
Ziva berhenti melawan, menatap Damar dengan kesal. “Ke mana?”
“Keluar,” jawab Damar tanpa basa-basi.
Ziva menghela napas kasar, lalu akhirnya mengikuti langkah Damar meninggalkan klub.
Di meja Damar, suasana justru pecah oleh komentar santai.
“Gila,” gumam Bastian sambil menggeleng. “Si Damar kelihatan beda banget malam ini.”
Julian terkekeh. “Kita kalah taruhan, Bro.”
Sementara itu, di meja Ziva, suasana berbeda.
Keira tampak cemas. “Ness, itu serius enggak apa-apa?”
Teman-teman lain ikut saling pandang, jelas khawatir.
Nessa justru santai, menyandarkan punggungnya. “Tenang saja. Om gue galak doang, bukan orang sembarangan.”
Ia mengangkat gelasnya pelan. “Paling juga habis ini balik lagi.”
Namun jauh di dalam hatinya, Nessa tahu, malam ini sudah terlanjur melewati batas permainan.
Damar menarik Ziva keluar dari klub dengan langkah lebar, tidak mempedulikan tatapan heran orang-orang. Ia membuka pintu mobil mewahnya dengan kasar.
"Masuk," perintah Damar singkat dengan nada dingin yang tidak terbantah.
Ziva yang mulai merasa ciut akhirnya masuk, dan Damar segera duduk di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobil serta AC yang langsung menghembuskan hawa dingin ke arah mereka.
"Om, tolong lepasin Ziva, Om. Ziva cuma taruhan sama Nessa," ucap Ziva membela diri, suaranya sedikit bergetar.
"Hah? Apa? Kamu taruhan?" Damar menoleh dengan tatapan tajam. "Kamu tahu nggak nama baik saya sebagai direktur rumah sakit akan tercoreng besok? Semua wartawan akan mengabarkannya, dan kedua orang tua saya pasti mendesak saya buat menikahi kamu!"
"Eh, nggak sejauh itu, Om! Aku masih kuliah semester satu loh, baru masuk juga," sahut Ziva panik.
"Sudah terlanjur, Ziva. Kalau nggak, kamu harus bayar kompensasi biar saya besok bisa tutup mulut wartawan yang sempat memfoto kita berdua," ancam Damar.
Ziva menelan ludah. "Berapa Om biayanya? Mahal nggak?"
"Hmm... yah, palingan lima ratus juta," ucap Damar santai.
"Gila! Itu mah meres, Om! Ziva nggak ada uang segitu. Ziva kuliah aja sambil kerja, Om," ucap Ziva memohon, berharap pria di sampingnya itu punya rasa iba.
"Oke, kalau begitu bayar pakai tubuh kamu," ucap Damar tenang.
PLAK!
Ziva menampar pipi Damar dengan keras. "Dasar Om m***m! Ziva nggak akan menyerahkan tubuh Ziva sama Om. Asal Om tahu, harga Ziva lebih dari lima ratus juta!" teriak Ziva emosi.
Damar mengusap pipinya yang panas, lalu menyeringai tipis. "Oh begitu? Berapa harganya, Ziva? Saya akan bayar."
Ziva terdiam sebentar, otaknya berputar mencari angka yang mustahil dikabulkan. "Hmm... satu milyar! Om sanggup nggak?" tantang Ziva.
"Oke, deal. Mana nomor rekening kamu, Ziva?" tanya Damar tanpa ragu.
Ziva melongo tak percaya. "Eh... Om beneran?"
"Iya bener. Kenapa? Kamu takut atau apa?" tantang Damar balik.
"Nggak! Ziva nggak takut, Om. Nih nomor rekening Ziva, transfer sekarang!" Ziva menunjukkan layar ponselnya dengan tangan sedikit gemetar.
Damar segera membuka ponselnya. Hanya dalam hitungan detik, notifikasi masuk ke ponsel Ziva. Satu milyar rupiah sudah berpindah ke rekeningnya. Ziva benar-benar melongo menatap angka nol yang berderet di layarnya.
"Hmm, deal kan? Sekarang kita cari hotel yang nyaman. Om nggak sabar buat mencicipi tubuh kamu," ucap Damar dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Ziva berdiri.
Ziva mendadak merinding. Suasana di dalam mobil itu terasa semakin mencekam.
"Hmm, kamu masih segel kan?" tanya Damar tiba-tiba sambil melirik ke arah Ziva.
"Hah? Om meragukan saya? Saya masih perawan, Om!" tegas Ziva, meski hatinya kini mulai diliputi rasa takut yang nyata.
"Baguslah. Kalau ternyata kamu sudah nggak perawan, maka kamu harus mengembalikan setengahnya," bisik Damar dingin sembari menginjak pedal gas, melajukan mobil mewahnya menuju hotel yang biasa ia pesan.