Keheningan malam di kamar itu kini terasa begitu menenangkan. Alvian berbaring telentang dengan napas yang mulai teratur, sementara Nabila menyandarkan kepalanya di d**a bidang suaminya, mendengarkan detak jantung Alvian yang perlahan kembali normal. Nabila memeluk Alvian dengan sangat erat, seolah tak ingin ada celah sedikit pun di antara mereka. Ia mendongak, menatap wajah Alvian yang tampak jauh lebih rileks dan tampan setelah badai gairah tadi. "Mas..." bisik Nabila sambil memainkan jemarinya di d**a Alvian. "Ternyata suamiku yang kaku ini... kalau di kasur bisa jadi sehebat itu ya? Aku nggak nyangka Mas bisa se-intens tadi. Kamu luar biasa, Mas." Mendengar pujian yang begitu jujur dan frontal dari istrinya, benteng pertahanan Alvian runtuh. Senyum lebar yang jarang diperlihatkan pu

