Kediaman keluarga Adhikara malam itu tampak sangat megah. Lampu gantung kristal di ruang makan memancarkan cahaya yang menyilaukan, namun atmosfer di dalamnya terasa sangat menyesakkan bagi Ziva. Ia duduk di samping Alvian, mengenakan gaun anggun pilihan Ibu Helena, berperan sebagai "pacar kesayangan" sang bungsu. Namun, fokus utama malam itu bukan hanya mereka. Di seberang meja, Damar duduk dengan wajah sedingin es. Di sampingnya ada Clarissa dan Mamanya, yang terus menebar senyum penuh kemenangan. "Karena malam ini keluarga besar sudah kumpul, Mama rasa ini waktu yang tepat," ucap Ibu Helena sambil menatap Damar. "Clarissa dan Mamanya sudah setuju. Damar, Mama mau kalian segera menentukan tanggal pernikahan. Akhir bulan depan sepertinya bagus, kan?" Ziva meremas serbet di pangkuanny

