Pak Jaka justru semakin tertawa melihat tingkah putri tunggalnya yang salah tingkah berat. "Halah, anak Bapak sudah besar ya sekarang. Pantas saja Dokter Alvian mintanya langsung akad minggu depan. Takut kehilangan ya? Atau takut khilaf kalau lama-lama pacaran sama kamu?" "Bapak stop! Nabila mau tidur!" teriak Nabila dari dalam kamar, menenggelamkan wajahnya di balik bantal. Jantungnya masih berdegup kencang, antara bahagia karena akan segera menjadi istri Alvian dan malu karena tertangkap basah oleh ayahnya sendiri. Malam itu, di bawah atap rumah yang sederhana, Nabila sadar bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Minggu depan, ia bukan lagi sekadar Dokter Nabila, melainkan bagian dari keluarga besar Adhikara. Gema gosip di RS Adhikarya Yogyakarta lebih riuh daripada suara mesin a

