Mereka berhenti di sisi balkon yang menghadap taman. Musik dari dalam ruangan terdengar lebih samar di sini, tergantikan oleh suara angin malam yang berembus pelan. Lampu-lampu taman berkelip hangat, menciptakan suasana yang jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk pesta di dalam. Nia berdiri sedikit menjauh, tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. Ia mencoba mengatur napas. “Tuan… maaf kalau saya—” “Kamu tidak salah,” potong Tuan Halim tegas, namun lembut. Nia terdiam. Ia menoleh perlahan. “Di tempat seperti ini,” lanjut Tuan Halim, “orang sering menguji bukan karena kamu lemah… tapi karena mereka takut kamu lebih kuat dari yang terlihat.” Kalimat itu membuat d**a Nia terasa hangat—dan berat di saat yang sama. “Saya hanya tidak ingin mempermalukan Tuan,” ucapnya pelan. “K
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


