Sore itu vila mulai berubah wajah sejak matahari belum sepenuhnya tenggelam. Para pelayan berlalu-lalang, membawa rangkaian bunga, menata meja, memeriksa ulang setiap sudut ruangan agar tampak sempurna. Lampu-lampu kristal dibersihkan hingga berkilau, sementara aroma wangi bunga segar memenuhi udara. Nia berdiri di tangga lantai dua, memperhatikan semuanya dengan sedikit kagum—dan sedikit canggung. Dunia seperti ini masih terasa asing baginya. “Non, nanti malam ikut ya,” suara Tuan Halim terdengar dari bawah. Nia menoleh. “Ikut, Tuan?” Tuan Halim mengangguk. “Ini pesta rekan bisnis. Kamu mewakili sebagai sekretaris saya. Sekalian belajar.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Nia terdiam. Ia belum pernah berada di acara seperti itu. Belum pernah berdiri di tengah orang-orang

