Valen menutup pintu kamarnya dengan hentakan pelan, namun cukup untuk meluapkan kekesalan yang sejak tadi mengendap di dadanya. Lampu dinyalakan terang—seolah ia ingin mengusir bayangan pikirannya sendiri. Namun justru di sanalah semua kenangan berjejal, menuntut untuk diingat. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya. Cantik, terawat, elegan. Semua yang ia lakukan selama ini bukan tanpa perhitungan. Setiap langkahnya adalah strategi. Setiap senyum adalah senjata. “Kenapa tetap tak melihatku?” gumamnya pahit. Dua tahun. Dua tahun ia tinggal di rumah ini dengan satu tujuan—menjadi nyonya. Bukan sekadar wanita yang menumpang nama, melainkan pemilik sah tempat ini. Ia telah menyingkirkan kakak tirinya, istri Tuan Halim, dengan cara yang rapi dan senyap. Tidak ada dar

