Malam turun perlahan ketika Tuan Halim menutup map cokelat di atas meja kerjanya. Lampu kota mulai menyala satu per satu, memantulkan kilau dingin di balik jendela kaca besar. Ia melirik jam tangan, lalu berdiri. “Nia,” panggilnya tenang. Nia yang sejak tadi mengetik laporan langsung menegakkan punggung. “Iya, Tuan.” “Kita pulang bersama. Sekalian… saya ajak makan malam.” Nada Tuan Halim datar, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam—seperti keputusan yang sudah lama ia pertimbangkan. Nia terdiam sepersekian detik. “Baik, Tuan.” Sultan yang baru keluar dari ruangannya menoleh. “Pa—” “Kamu pulang duluan,” potong Tuan Halim lembut tapi tegas. “Ayah ada urusan.” Tatapan Sultan sempat beralih pada Nia. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun akhirnya ia hanya mengangguk.

